Ketidakadilan Menimpa Warga Porong

Posted in Humaniora on September 9, 2009 by erikpurnama

Edisi No. 19, 30 Agustus 2009 (Majalah Forum Keadilan)

Penghentian pengusutan kasus pidana yang dilakukan PT Lapindo Jaya selaku perusahaan yang bertanggungjawab atas masalah pengeboran di Porong Sidoarjo hingga mengakibatkan terjadinya bencana lumpur yang menenggelamkan ribuan rumah membuat warga yang terkena dampak lumpur tak menerima keadilan seperti yang diharapkan. Kondisi itu terjadi ketika pihak Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) memutuskan untuk mengeluarkan SP3, sehingga membuat pihak Lapindo Jaya bebas dari segala tuntutan hukum.

Peristiwa yang tak berpihak pada rakyat kecil itu menjadi preseden buruk bagi terciptanya penegakan hukum di Indonesia, mengingat sudah jelas dari sudut manapun bencana lumpur bukan akibat kejadian alam, melainkan kesalahan prosedur penambangan yang dilakukan Lapindo Jaya. Namun dengan alasan pihak kepolisian tak mendapatkan kejelasan kelengkapan berkas sesuai petunjuk Kejaksaan Tinggi Jatim terkait masalah itu membuat aparat polisi serta merta langsung menghentikan kasus yang sudah merugikan warga Porong itu.

Padahal berbagai kalangan menyebut bahwa Lapindo Jaya sudah dianggap melakukan perbuatan melawan hukum, seperti pelanggaran pengrusakan lingkungan yang membuat lumpuh aktivitas ekonomi sebagian besar warga Porong, tak terkecuali perekonomian Jatim sebab jalur provinsi juga ikut terganggu. Dari yang nampak saja masyarakat pasti bisa menilai terjadi pelanggaran sebab pengeboran tidak dilakukan sebagaimana mestinya sehingga malah mengakibatkan bencana. Sehingga sangat aneh jika sekarang pihak yang melakukan pelanggaran luar biasa bisa bebas dari kejaran aparat penegak hukum.

Sebenarnya yang dikhawatirkan warga Porong adalah nantinya pihak Lumpur Lapindo tak mau melunasi sisa pembayaran ganti rugi dengan alasa tak melakukan kesalahan apapun. Sehingga malah pemerintah yang harus menanggung ganti rugi, yang membuat nasib pengungsi semakin tak jelas. Karena jika tak membayar kewajibannya pun, pihak Lapindo Jaya tak bisa terkena tuntutan hukum jika tak dinyatakan bersalah atas munculnya musibah lumpur itu.

Tetapi kita harapkan ketidakadilan yang terjadi pada warga Porong tak berlanjut pada penundaannya pembayaran dana ganti rugi oleh Lapindo. Pasalnya masyarakat pasti percaya dengan itikad baik dari perusahaam milik Aburizal Bakrie yang akan menunaikan kewajibannya itu. Karena jika tak begitu, warga yang rumahnya tenggelam akan semakin menderita jika nantinya Lapindo Jaya lepas tangan dan tak memiliki niatan untuk membayar kerugian kepada warga Porong.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Mewujudkan Mimpi Jadi nyata

Posted in Resensi Buku on September 9, 2009 by erikpurnama

Selasa, 25 Agustus 2009 (Koran Jakarta)

Jangan pernah sekalipun meremehkan kekuatan mimpi. Kalimat bernada motivasi itu akhir-akhir ini sangat populer didengungkan semua orang dari berbagai lapisan yang ada di masyarakat.

Bahkan dalam lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan Nidji, mimpi adalah kunci menaklukkan dunia. Maka itu, tak ada salahnya bagi setiap orang untuk memunyai mimpi yang mesti dikejar mengingat tak ada yang melarang seseorang untuk bercita-cita setinggi langit.

Novel Negeri 5 Menara membuktikan bagaimana sebuah mimpi mampu mengantarkan “pemimpi”, yakni enam anak rantau yang sedang menimba ilmu di Pondok Madani, yang berada di pelosok daerah Ponorogo, Jawa Timur.

Novel yang berangkat dari pengalaman nyata penulis yang meraih gelar pascasarjana di George Washington University itu sepertinya mengajak pembaca untuk merajut mimpi sejak kecil.

Mengingat, A. Fuadi merasakan bagaimana kedahsyatan mimpinya yang ingin pergi ke negeri Paman Sam, yang dibangunnya semenjak masih nyantri di Pondok Madani pada akhirnya mampu digapainya. Namun semua itu sekarang disadari penulis sebagai wujud akumulasi mimpinya yang tertanam kuat sejak lama hingga mimpi itu mampu digapainya beberapa tahun kemudian.

Penulis yang mengidentifikasi dirinya sebagai Alif Fikri Chaniago yang berasal dari salah satu daerah pelosok tanah Minangkabau dekat Danau Maninjau Sumatera Barat, memutuskan menempuh pendidikan berbasis agama di Pondok Madani, setelah keinginannya masuk SMA ditolak kedua orangtuanya.

Alif yang hidup dalam pondokan secara tak langsung berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmadjid dari Sumenep Madura, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa Sulawesi Selatan. Karena sangat akrab dan kemana-mana selalu berenam, yang mempunyai kebiasaan berkumpul di kaki menara masjid yang ada dalam komplek pondokan membuat mereka dijuluki Sahibul Menara.

Aktivitas keseharian keenam santri itu di bawah menara Masjid Jami dengan menatap awan lembayung yang bergerak ke ufuk sambil menunggu datangnya waktu shalat Maghrib menjelma menjadi negara dan benua impian yang setidaknya mesti dikunjungi, hingga membuat mereka saling melontarkan mimpinya masing-masing.

Seperti Alif yang secara tiba-tiba memiliki cita-cita kuliah di Amerika Serikat setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Madani, Atang yang ingin kuliah di Timur Tengah (Arab Saudi), Baso berencana menimba ilmu ke Universitas Al Azhar Mesir, Raja yang berharap dapat kuliah di Eropa, dan Said dan Dulmadjid yang ingin bahu-membahu membangun pesantren di daerahnya.

Namun keenam santri cerdas itu dalam perjalanan waktu tak hanya berkhayal semata, melainkan berusaha menggapainya dengan tekun belajar dan diiringi perjuangan keras tak kenal lelah untuk mewujudkannya.

Karena mereka yakin Sang Pencipta sungguh Maha Mendengar yang akan selalu mengabulkan keinginan hambanya yang taat dan selalu berusaha, seperti motto man jadda wajada.

Seolah sudah jodoh, setelah berpisah setelah selesai menempuh pendidikan di pondok Madani, selang beberapa tahun Alif yang berhasil menamatkan pendidikannya di negeri Paman Sam bertemu dua teman pondoknya di Trafalgar Square London, yakni Atang yang berhasil kuliah hingga jenjang doktoral di Al Azhar, dan Raja yang memutuskan bermukim di London setelah lulus kuliah dari salah satu universitas di Madinah.

Pertemuan bersejarah itu memantik romantisme masa lalu Sahibul Menara dan menguatkan memori ketiga orang itu tentang dahsyatnya kekuatan mimpi. Karena dari hasil reuni tersebut diketahui pula bahwa Baso yang dulu sempat drop out dari Pondok Madani berhasil merealisasikan mimpinya dengan kuliah di Mekkah. Sementara Said dan Dulmadjid sukses berkoalisi mendirikan pesantren modern di Surabaya.

Judul : Negeri 5 Menara
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : I, Agustus 2009
Tebal : xiii + 416 halaman
Peresensi : Erik Purnama Putra, adalah Aktivis Pers Bestari Universitas Muhammadiyah Malang

Tantangan Nyata Bangsa Indonesia

Posted in Politik on September 9, 2009 by erikpurnama

Senin, 24 Agustus 2009 (Surabaya Pagi)

PADA tanggal 17 Agusutus 2009, bangsa Indonesia tepat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64. Meskipun belum bisa dikatakan umur negara ini sudah cukup tua, tetapi tantangan yang dihadapi bukannya menurun, melainkan bertambah banyak dan kompleks. Memang penjajahan secara fisik sudah usai setelah pejuang berhasil mengusir Belanda dan Jepang dari bumi pertiwi. Namun pada era modern seperti sekarang, penjajahan model baru sedang menggejala dan dialami banyak masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah masalah pengadopsian budaya barat yang banyak dianggap masyarakat sebagai budaya unggul sehingga harus melekat menjadi identitas yang perlu dipraktikkan dalam aktivitas sehari-hari.

Maka itu, tak heran kita akan mudah menjumpai budaya asing dengan serta merta diterima masyarakat, khususnya generasi muda tanpa terlebih dulu menilai apakah hal itu cocok atau tidak untuk diaplikasikan di Indonesia, yang notabene menganut budaya ketimuran. Keadaan yang tak baik bagi perjalanan bangsa ini ke depannya mesti mendapatkan perhatian serius dari pemerintah maupun elemen masyarakat yang peduli terhadap merebaknya budaya negatif yang malah dipuja. Karena jika tidak maka nantinya kehidupan masyarakat dan bernegara tak akan bisa langgeng mengingat jika budaya asing yang membentuk perilaku segala kehidupan sudah berkembang dapat dipastikan perjalanan Indonesia bisa terhenti.

Misalnya, kita masih ingat ketika di sekolah dididik untuk selalu mengisi kemerdekaan meskipun secara de jure Indonesia sudah merdeka. Paling utama dalam mengisi kemerdekaan wajib diisi dengan melawan kebodohan dan kemiskinan yang merupakan satu lingkaran negatif yang membuat negara tak bisa berdiri secara tegak.

Namun ternyata kadang kita cuek dengan hal itu dan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah sebagai pihak yang bertanggungjawab. Sikap acuh dan bisanya menyalahkan pemerintah adalah watak yang bertolakbelakang dengan budaya asli leluhur yang mengajarkan warisan agar peduli terhadap sesama dan tak menggantungkan sesuatu pada pihak tertentu jika kita bisa turut berpartisipasi menyelesaikan sebuah masalah di sekitar kita.

Fenomena buruk lainnya adalah munculnya gejala nnjuran guru tak dianggap lagi oleh siswa. Karena televisi mampu merebut posisi guru sebagai pendidik kedua generasi muda setelah orangtua. Sehingga tak heran ketika mendapati banyak generasi muda lebih suka meniru penampilan artis yang dilihatnya di televisi daripada mendengar saran dari guru untuk tidak meniru perilaku artis yang memang kehidupannya berbeda dengan rakyat kecil. Dari situ sebenarnya muncul cerminan betapa kuatnya cengkeraman informasi yang mampu mengendalikan masyarakat untuk tak lagi mempedulikan nilai budaya timur yang mengagungkan kesopanan sebagai hasil imitasi dari melihat tayangan sinetron.

Di luar itu, masyarakat juga dihinggapi munculnya phobia kepada kebanggaan memakai produk dalam negeri dengan menganggap kualitasnya di bawah barang impor. Padahal pemerintah telah berupaya untuk kembali meluruskan rakyatnya agar mencintai barang buatan lokal daripada yang serba bermerk dengan kualitas produk sama, tetapi lebih murah. Sayangnya banyak orang sudah import minded sehingga lebih menyukai barang buatan luar negeri.

Berangkat dari itu saya menilai masyarakat Indonesia masih perlu berjuang meraih kembali esensi kemerdekaan sebab permasalahan yang terjadi di negeri ini sangat kompleks, Karena itu, mari kita bahu membahu antara pemerintah dengan elemen masyarakat yang peduli untuk membenahi berbagai masalah akut yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Itu supaya nasib bangsa ini bisa lebih baik dibanding sekarang.

Erik Purnama Putra
Aktivis Universitas Muhammadiyah Malang

Memetik Hikmah Kehidupan dari Mbah Surip

Posted in Humaniora on September 9, 2009 by erikpurnama

Rabu, 19 Agustus 2009 (Surabaya Post)

KEMATIAN mendadak Urip Ariyanto atau biasa dikenal Mbah Surip mengagetkan banyak kalangan masyarakat. Dari rakyat jelata hingga Presiden SBY sampai harus mengomentari sosok yang dikenal bersahaja tersebut. Bagaimana tidak, di saat puncak popularitas berhasil diraih, Mbah Surip harus menghadapi takdir bahwa Sang Pencipta harus mengambil nyawanya. Maka itu, masyarakat Indonesia hampir tak percaya figur yang dikenal humoris tersebut sudah tiada.

Namun, di luar itu semua, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari pria kelahiran 60 tahun itu. Salah satunya adalah dari aspek pilihan hidupnya yang tetap tak berubah meski ketenaran sudah diraihnya. Dari contoh itu, Mbah Surip mengajarkan kepada kita semua bahwa menjadi individu itu harus selalu ingat kepada sesama dan jangan mudah lupa diri.

Karena dari fenomena yang terjadi di masyarakat, kita dengan mudah menjumpai individu yang gampang berubah sikap atau gaya hidup setelah mendapatkan kecukupan materi luar biasa. Memang hal wajar jika seseorang akan mengalami perubahan perilaku ketika kehidupannya secara materi berlebih. Namun alangkah baiknya meniru Mbah Surip yang tetap hidup seperti sedia kala dengan tetap menjadi pribadi yang selalu memberikan keceriaan kepada sekitarnya dan hidupnya tak neko-neko.

Di samping itu, dari Mbah Surip kita dapat memetik hikmah berharga bahwa kakek yang terkenal dengan lagunya Tak Gendong tersebut ternyata tak melupakan aspek pendidikan sebagai jalan merengkuh kehidupannya. Karena seperti diketahui, Mbah Surip adalah seorang lulusan perguruan tinggi (PT) Amerika Serikat (AS) dengan meraih gelar bergengsi, Master of Bussines Administration (MBA). Meskipun tak mau menyebutkan dari universitas mana dia menempuh ilmu, semua orang akan sepakat bahwa Mbah Surip menempatkan pendidikan pada posisi penting sehingga harus sampai menuntut ilmu hingga ke negeri Paman Sam.

Yang patut diacungi jempol, dari penuturan orang terdekatnya semasa masih menjadi siswa dan mahasiswa, Mbah Surip sampai rela berjualan tahu hingga menjadi makelar bioskop untuk menyambung hidup. Sementara jika ada sisa, Mbah Surip menggunakannya untuk keperluan pendidikannya. Karena itu, dia sampai meraih gelar sarjana kimia dengan biaya sendiri dari hasil kerja kerasnya.

Gilanya lagi, Mbah Surip pernah merancang membuat pesawat dengan salah satu anak mantan Presiden RI, BJ Habibie. Meski gagal, setidaknya masyarakat bisa menilai bahwa di dalam diri Mbah Surip terkandung potensi luar biasa besar yang menunjukkan bahwa dia merupakan sosok yang memiliki kemampuan luar biasa dan dikarunia bakat, serta kemampuan hebat. Tak heran ketika dia menciptakan lagu yang liriknya terkesan asal-asalan, di luar dugaan lagunya dapat diterima seluruh lapisan masyarakat, hingga penjualan ring back tone (RBT) meledak di pasaran.

Memang secara fisik, Mbah Surip jauh dari individu yang memiliki ‘potongan’ wajah artis. Namun dari berbagai hal yang melekat pada diri pria penyuka minuman kopi hitam itu didapat banyak pelajaran penting yang dapat kita jadikan pegangan hidup agar menjadi pribadi positif dan dapat diterima masyarakat. Memang jasadnya sudah terkubur, tetapi karya dan sosok Mbah Surip bakal dikenang masyarakat Indonesia. I Love U Full, Mbah Surip!

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Pilih Menteri dari Kalangan Profesional

Posted in Politik on September 9, 2009 by erikpurnama

Edisi No. 17, 16 Agustus 2009 (Majalah Forum Keadilan)

Setelah hasil rekapitulasi manual Komisi Pemilihan Umum (KPU) selesai dihitung dan ditetapkan bahwa pasangan SBY-Boediono memenangkan pilpres, tugas berat menghadang SBY dalam menentukan tokoh yang layak untuk dijadikan menteri. Tugas menyusun kabinet memang dapat disebut menguras tenaga dan membutuhkan kecermatan dalam menempatkan seseorang untuk menduduki jabatan menteri.

Pasalnya jika sampai salah orang, bisa jadi pemerintahan SBY akan mengalami hambatan dalam merealisasikan program yang ditujukan kepada masyarakat. Mengingat menteri merupakan kepanjangan tangan pemerintah yang bertugas membawahi departemen, sehingga dibutuhkan figur mumpuni yang memiliki kredibilitas tinggi dan track record bagus bagi seseorang sebelum menjabat sebagai menteri.

Maka itu, seyogyanya Presiden SBY untuk memberikan porsi besar jabatan menteri kepada golongan profesional yang terbukti memiliki integritas tinggi dalam menjalankan tugasnya. Di samping pengabdian kepada negara lebih fokus sebab tak direcoki kepentingan parpol, juga kinerjanya dalam mengeluarkan berbagai kebijakan tak didasari kepentingan politis yang menguntungkan golongan tertentu.

Kondisi berbeda jika menteri dari kalangan parpol yang kadang terlibat vested interest dalam menjalankan tugas kenegaraannya sebab sering rancu dengan kepentingan parpolnya. Meskipun tudingan itu tidak berlaku untuk menggeneralisasi, tetapi belajar dari pengalaman Kabinet Indonesia Bersatu terbukti ada menteri yang kinerjanya kurang loyal kepada negara dan lebih sibuk dengan urusan parpolnya.

Kita boleh melihat menteri dari kalangan profesional cukup menonjol dalam mengemban tugas yang dibebankan kepadanya, seperti Menteri Keuangan dan Menkominfo, yang mampu membuat gebrakan bagus ketika menjabat dengan mengeluarkan banyak program populis yang menguntungkan negara maupun rakyat. Dampaknya secara tak langsung membuat masyarakat mengakui hal itu sebagai keberhasilan pemerintah.

Contohnya, Menkeu mengeluarkan aturan reformasi perpajakan yang sangat mampu membuat banyak kalangan penguasaha kelimpungan sebab rekeningnya ditutup akibat bermasalah. Atau kebijakan pentrasi internet dan penurunan harga internet yang digencarkan Menkominfo membuat arus kemajuan iptek dapat menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Dari berbagai prestasi menonjol yang diukir kabinet sekarang semuanya dari kalangan profesional.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya tentu Presiden SBY mempunyai keuntungan dalam segi pengalaman dan proses pemilihan menteri. Pasalnya jika dibandingkan tahun 2004 ketika masa awal memerintah, SBY jelas memiliki banyak kesulitan dan kelemahan dalam menentukan menteri yang ditunjuknya. Kondisi itu berbeda dibandingkan sekarang, di mana SBY bakal memiliki mandat luar biasa besar dalam menentukan para menterinya. Karena dari hasil koalisi, Partai Demokrat (PD) meraih suara terbanyak dan kursi di DPR juga terbanyak dari PD yang tak lain rumah daripada SBY.

Maka itu, saat ini tinggal keberanian Presiden SBY untuk bertindak agar parpol tak menuntut macam-macam.
Karena sangat disayangkan jika sampai Presiden SBY melewatkan momen dengan tak membentuk kabinet profesional sebab banyak kondisi yang mendukungnya, seperti legitimasi sangat kuat sebab didukung mayoritas rakyat. Dan kemenangan siginifkan SBY bukan karena dukungan mesin parpol, melainkan kinerja dan popularitas SBY yang diakui masyarakat. Sehingga berpatokan itu semua jika SBY-Boediono berani memberikan banyak alokasi kursi menteri kepada yang ahil dari maka akan dijadikan acuan bagi pemerintah selanjutnya, dan memberikan pembelajaran berharga bagi perjalanan demokrasi Indonesia supaya lebih baik.

Erik Purnama Putra
Pelajar Bestari UMM
eagle-alone.blogspot.com

Menanti Ucapan Selamat

Posted in Politik on September 9, 2009 by erikpurnama

Sabtu, 15 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

KENGOTOTAN kubu Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto yang menuduh terjadinya kecurangan pemilihan presiden (pilpres) tidak terbukti. Hal itu setelah Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyidangkan sengketa pengajuan gugatan menolak tuntutan pemohan yang menginginkan pemilu ulang. Berdasarkan keputusan MK yang memiliki kekuatan hukum mengikat semakin membuktikan bahwa kemenangan pasangan SBY-Boediono diraih melalui mekanisme demokrasi secara baik. Dan juga yang mesti diingat adalah merupakan hasil pilihan terbaik rakyat yang memberikan amanah untuk menjadi pemimpin negeri ini.

Jika diruntut ke belakang, tuntutan dua penggugat hasil pemilu maka masyarakat akan dengan mudah menemukan bahwa segala penemuan terjadinya pelanggaran pilpres tak berdasar sama sekali. Malahan yang terlihat adalah pada upaya memperjuangkan kepentingan pribadi daripada menjaga kualitas demokrasi di Indonesia seperti yang digembar-gemborkan selama ini.

Pasalnya, tuduhan terjadinya penggelembungan 28 juta suara akibat salah hitung hingga formulir C1 yang digunakan sebagai kertas suara telah tercontreng terlebih dahulu sebelum pilpres dilaksanakan hanyalah bentuk kecurigaan tanpa disertai bukti konkret yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu, saya menilai motif laporan temuan kecurangan tak lebih sebagai akal-akalan politik, yang tujuannya hanya untuk memperkeruh suasana. Karena itulah terjadi beragam interpretasi yang semakin menguatkan bahwa tujuan dua penggugat tak ubahnya sebagai bentuk kekecewaan politik yang kalah bersaing dalam perebutan kursi Istana Negara.

Pasalnya kalau mengacu pada hasil perolehan suara yang menempatkan pasangan SBY-Boediono memperoleh 60 lebih persen suara, sudah terlihat betapa njomplangnya perolehan suara antarcalon. Namun karena ada pihak yang tak memaknai benar arti ‘Siap Menang, Siap Kalah’ seperti yang diucapkan dalam deklarasi damai sebelum pemilu dilaksanakan maka yang kalah berupaya mencari celah untuk tak mengakui keunggulan SBY-Boediono.

Karena kenyataannya dalam pilpres lalu, setiap tempat pemungutan suara (TPS) dijaga setiap saksi parpol dari ketiga pasangan peserta pilpres. Dan sebelum dilaksanakan penyontrengan setiap petugas menunjukkan terlebih dulu setiap kertas suara yang akan digunakan untuk penyontrengan. Sehingga jika benar terjadi kecurangan hingga 28 juta surat suara, maka sama saja tim advokasi menilai saksi partainya yang ditugaskan untuk mengawal supaya pemungutan suara berjalan adil dan transparan kongkalikong bersama petugas TPS dan saksi pasangan lain. Padahal setiap pendataan hasil penyontrengan dilakukan secara terbuka dan ketat.

Untuk itu, sekarang tak ada salahnya bagi pasangan Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto untuk memberikan ucapan selamat setelah mengetahui hasil keputusan MK yang menolak permohonannya yang menginginkan pemilu ulang. Karena jika terus-menerus mempertanyakan legitimasi pilpres tanpa henti, yang terjadi malah membuat masyarakat semakin jengah terhadap kedua pasangan yang kalah dalam pilpres itu.

Erik Purnama Putra
Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III UMM

Antara Mbah Surip dan Koruptor

Posted in Humaniora on September 9, 2009 by erikpurnama

Rabu, 12 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

Kematian Mbah Surip mengagetkan publik di seluruh Indonesia. Tak ada yang menyangkan sosok sederhana itu begitu cepat dipanggil oleh Yang Maha Pencipta. Memang dari segi usia. Mbah Surip sudah cukup tua dengan berumur 60 tahun. Tetapi di sisi lain, penggemar berat kopi itu baru merasakan 3 bulan kepopuleran dalam dunia bermusik yang melambungkan namanya.

Lagunya yang berjudul Tak Gendong dan Bangun Tidur menjadi hits diputar di radio maupun stasiun televisi. Bahkan lagu yang liriknya simpel dan enak didengar itu menjadi top favorit yang dipilih masyarakat untuk dijadikan ring back tone, yang konon menurut perhitungan hasil yang bisa diraih Mbah Surip mencapai 80 milyar lebih.

Tetapi Mbah Surip tetaplah orang bersahaja yang tak gampang lupa diri. Meski menjadi orang kaya mendadak dan meraih segala materi duniawi, dia tetap tak berubah. Bahkan, dia berencana untuk mendirikan Bank Artis setelah menerima uang royalti hasil penjualan lagunya. Yang lucu lagi, ketika ditanya untuk apa uang sebanyak itu, Mbah Surip cuma menjawab akan digunakan untuk membeli kopi dan gula masing-masing 1 milyar. Sebuah jawaban luar biasa yang muncul dari sosok yang populer mengucapkan I Love U Full.

Yang menjadi catatan di sini adalah contoh keteladanan yang ditunjukkan Mbah Surip agar manusia tak lupa kacang akan kulitnya. Walaupun sudah kaya dan hidupnya berubah drastis setelah memiliki banyak uang, tetapi pria yang identik berpakaian model reggae itu tak mau membelanjakan uangnya demi kepentingan yang tak perlu, malah akan digunakan untuk membalas jasa bagi orang yang dulu sering dimintanya tolong ketika sedang susah. Tetapi dari aktivitas yang dijalaninya itu Mbah Surip tetap hidup dalam bahagia.

Hal berbeda ditunjukkan koruptor. Pencuri uang rakyat itu ketika sudah mendapatkan uang banyak hasil dari menggelapkan dana rakyat, malah digunakan untuk foya-foya dan uangnya dinikmati untuk memenuhi kepuasannya. Banyak contoh yang terjadi yang membuktikan koruptor mengalami perubahan hidup dan lupa daratan setelah menjadi orang kaya baru, meski itu dari cara yang tak benar.

Koruptor rela menghalalkan cara supaya dapat mengeruk uang sebanyak-banyaknya untuk digunakan kepentingan diri maupun kelompoknya, serta menjadi pribadi yang semkain individualis tak mau memikirkan orang lain di sekitarnya, sehingga membuatnya hidup dalam kegelisahan. Apalagi ketika aparat penegak hukum sudah mulai menemukan bukti korupsi yang dilakukan koruptor bersangkutan, yang akan membuat hidupnya serba tak tentram.

Di situlah letak perbedaan antara Mbah Surip dan Koruptor dalam memandang hidup yang saling bertolakbelakang. Meski sama-sama punya uang banyak, tetapi cara yang ditempuh berbeda dan menyikapi materi secara bereda pula. Yang satu tak mengagungkan uang dan malah akan digunakan untuk membantu kepentingan prang lain sehingga hidupnya damai. Sementara satunya lagi mengempulkan uang demi memuaskan nafus pribadi dan akhirnya dalam kecemasan padahal dikelilingi banyak harta.

Erik Purnama Putra
Pegiat Pers Kampus Bestari UMM