Diketuk Kotbah Jumat

Hari Raya Swasta
Sunday, 21 October 2007 (Surya)

Hari Jumat (12/10) adalah hari yang unik, spesial, dan bersejarah bagi umat Islam di Indonesia. Di hari tersebut ada sebagian umat yang merayakan Idul Fitri 1428 H. Sementara, di sisi lain masih ada kaum Islam yang masih menjalankan ibadah puasanya yang terakhir dan merayakan Idul Fitri besoknya (Sabtu, 13/10). Sebuah momen yang jarang terjadi.Kejadian tersebut sebaiknya patut disyukuri, karena jelas sekali adanya perbedaan perayaan hari raya umat Islam tak sampai membuat umatnya terpecah-belah dan morat-marit.
Malahan dengan adanya perbedaan tersebut umat jadi lebih terbiasa dan makin paham akan arti dari perbedaan itu sendiri. Bukankah manusia diciptakan ke bumi dengan berbeda-beda ras dan suku. Sehingga bila sekarang ada yang berbeda dalam melaksanakan hari raya, maka sebaiknya itu jangan dianggap sebagai halangan untuk bisa hidup rukun. Jangan pula dijadikan sarana untuk memecah persatuan umat.

Karena hari Jumat adalah hari terakhir di Bulan Ramadhan, tentu saja saya tak mau melewatkan begitu saja kejadian ini. Saya ke masjid untuk mengikuti salat Jumat terakhir di bulan suci. Saat mendengarkan kotbah Jumat, saya tertarik dengan isi kotbah. Khatib menyoroti dan menyinggung tentang perbedaan pelaksanaan hari raya yang dilakoni oleh umat Islam. Khatib yang sudah berumur ini dengan tegas mengingatkan, siapa saja jangan sampai terpecah dengan kondisi ini. Itu akan merugikan kaum Islam sendiri dan dapat menggerogoti persatuan.

Khatib coba mengilustrasikan peringatan lebaran yang tak bareng adalah saat setan (diibaratkan provokator) akan unjuk gigi dan gembira. Setan merasa akan dengan mudah mengompori agar saling menyalahkan atas terjadinya perbedaan kali ini. Setan akan menghasut dan mengadu domba kepada setiap orang yang lengah.

Kepada umat yang merayakan Idul Fitri Jumat, setan membisikkan dan mencoba menghasut dengan segala kemampuannya. “Hari Jumat adalah awal mulainya Bulan Syawal, sehingga perayaan yang benar adalah hari ini karena jelas didasarkan hitungan dengan menggunakan teknik hisab,” kata setan menjebak umat Islam.

Sementara, di Sabtu kembali lagi setan membisikkan pada yang merayakan. Hari Sabtulah yang sebenarnya benar jatuhnya hari raya karena mengikuti anjuran pemerintah dan dirayakan sebagian besar orang. Sehingga yang merayakan duluan itu tidak benar dan dengan mengikuti seruan pemerintah, maka hari rayanya akan lebih afdol. Karena itu, hari raya yang tak mengikuti pemerintah dikatakan sebagai hari raya swasta karena berani berbeda pandangan dengan pemerintah.

Namun, semua usaha setan ternyata tak menggoyahkan dan malahan perbedaan tersebut tak jadi masalah. Dengan demikian telah tercipta tenggang rasa dan menghormati kepercayaan yang diyakini masing-masing. Kotbah Jumat tersebut juga terasa spesial karena momennya tepat dan sesuai dengan kondisi riil yang ada di lapangan.


Erik Purnama Putra
Reporter Koran Kampus Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: