Malangnya Museum Brawijaya Malang

Menjenguk Masa lalu
Monday, 24 December 2007 (Koran Surya)

Tak ada tempat yang paling baik untuk belajar mengenang sejarah selain museum. Keberadaan museum mutlak diperlukan sebagai tempat untuk mengenal dan mengetahui benda dan situs sejarah. Bila selama ini (maha)siswa hanya diperkenalkan tentang tulisan dan rentetan sejarah dari buku saja, sudah saatnya metode pembelajaran diubah lebih aplikatif. Caranya, ajak langsung siswa mengunjungi museum, setidaknya nuansa tempo dulu dapat dirasakan siswa.Sayangnya, hampir sebagian besar keberadaan museum yang ada di Indonesia kurang terjaga dengan baik. Padahal, di luar negeri museum adalah tempat yang paling dijaga karena dapat menarik kedatangan wisatawan untuk berkunjung. Di Indonesia, museum hanya dijadikan sebagai tempat menyimpan koleksi sejarah.

Dengan alasan tak ada alokasi dana yang mencukupi, pemerintah kurang memberikan perhatian akan kondisi fisik bangunan dan koleksi yang tersimpan. Bukan itu saja, malahan benda bersejarah yang menjadi saksi bisu peradaban dahulu pun banyak yang kurang terawat sehingga kondisinya terlihat usang dan mengenaskan, bahkan hilang seperti benda purbakala yang raib di Jawa Tengah.

Museum Brawijaya Malang, yang banyak penyimpan benda dan senjata perjuangan yang dulunya digunakan pejuang mengusir penjajah dari tanah air, semakin jauh dari masyarakat. Museum yang didirikan Brigjend TNI Surahman pada 1962 itu, terletak di Jalan Ijen, Malang yang terkenal dengan bangunan berciri khas Belanda. Ironisnya di sini, satu sisi perumahan yang ada di samping museum sudah banyak yang dipugar sehingga kondisinya terlihat lebih bagus, sementara Museum Brawijaya makin tampak tua.

Upaya memoles museum ini sudah dilakukan. Isi dan koleksinya banyak yang berdebu. Sementara, benda yang terbuat dari logam, macam mortar dan sejenisnya banyak yang sudah berkarat dan coba disiasati dengan mengecat ulang luarnya agar terlihat bagus dan baru.

Padahal jika dikelola dengan bagus, bukan tak mungkin museum akan menjadi sebuah kebanggaan yang tak ternilai harganya. Bahkan bisa jadi akan menjadi ikon yang dapat menaikkan pamor suatu kota karena akan diidentikkan dengan museum itu sendiri. Nyatanya, pengunjung yang datang ke museum saja dalam seharinya bisa dihitung dengan jari. Itu indikasi museum tak mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Supaya pamor museum kembali bersinar, sebaiknya para siswa diajak bersafari ke museum sebagai bagian dari pelajaran Sejarah. Setidaknya bila dibuat seperti itu, museum akan mempunyai pengunjung tetap dan siswa tahu tentang sejarah yang sebenarnya.

Oleh
Erik Purnama Putra
Fotografer Koran Kampus Bestari UMM
erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: