Menyikapi Maraknya Pemutaran Film Horor

Membayar untuk Ditakut-takuti
Wednesday, 12 December 2007 (Koran Surya)

Saya terinspirasi setelah membaca buku Nonton Film Nonton Indonesia. Isinya kritik tentang dunia perfilman Indonesia secara keseluruhan yang ditulis wartawan senior yang juga pengamat kebudayaan terutama perfilman, yaitu JB Kristanto.Dari bacaan tersebut saya mendapati banyak hal baru dalam industri perfilman Indonesia. Banyak jalan ceritanya tak sesuai dengan realita. Kisah film di Indonesia boleh dikata 95 persen alurnya tak logis, karena tak memenuhi hukum sebab-akibat. Hanya mencari efek haru, lucu, seru yang penting membuat penonton senang. Asalkan filmnya laris, pasti pihak rumah produksi akan gembira.
Sekarang di bioskop sedang ramai diputar film bergenre horor. Bila ada film yang sukses dan menyedot penonton, bisa dipastikan akan banyak film sejenis yang mengekor. Sekadar mengikuti jejak film yang sedang in, tanpa perlu terlibat pemikiran mendalam dari segi estetika.

Bila sekarang marak film horor yang banyak dibumbui adegan menegangkan dan penuh jeritan, maka pastinya film itu dibuat berdasarkan hasil survei yang dilakukan pihak rumah produksi bahwa masyarakat lagi menggemari film seperti itu. Sebenarnya film dengan genre tersebut materinya banyak diisi dengan hal-hal yang irasional. Anehnya, penonton rela antre untuk ‘komedi seram’.

Tak banyak film Indonesia yang berkarakter dan bagus sehingga kebanyakan yang dibuat hanya mempermainkan logika penonton yang menjadikannya terpilin-pilin. Adegan dalam film sama sekali tak memiliki jalan cerita, apalagi logika. Semua rentetan kejadian disusun hanya untuk mendapatkan efek tertentu yang membuat penonton ikut hanyut dalam cerita.

Sebuah film dibuat tak lagi karena adanya sebuah misi yang mulia untuk menyebarkan informasi dan kesenian, namun sudah menjadi komoditas dagangan karena tuntutan pasar. Setidaknya pendapat itu ada benarnya bila kita mendatangi bioskop yang memutar film misteri (horor).

Belasan film horor yang diproduksi tahun ini mengindikasikan film dengan jenis tersebut banyak dinanti. Padahal film tersebut disuguhkan dengan cara yang tak meyakinkan, bahkan cenderung menghina akal sehat. Parahnya lagi, yang menonton film tersebut kebanyakan memiliki latar belakang pendidikan yang cukup. Sehingga pantas apabila masyarakat Indonesia masih banyak yang menyenangi hal-hal yang berbau mistik dan klenik, serta mengabaikan rasionalitas karena terkukung dengan irasionalitasnya.

Dari itu semua memunculkan opini bahwa bisnis film hanya mengandalkan sebuah imajinasi dan mengabaikan nalar yang merupakan cerminan perikehidupan masyarakat Indonesia.

Oleh
Erik Purnama Putra
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: