Sisi Lain Soe Hok Gie

Demonstran Sekaligus Petualang
Friday, 16 November 2007 (Koran Surya)

Siapa pun tak pernah tahu apa yang sebenarnya melatarbelakangi Soe Hok Gie hingga menjadi mahasiswa yang berani. Berani berbicara lantang dan berani untuk berpetualang menaklukkan alam. Di satu sisi Gie adalah seorang aktivis murni yang menyuarakan perlawanan kepada penguasa, di sisi lain dia adalah pribadi berjiwa petualang.Hokkian, demikian sahabat-sahabatnya memanggil Gie, merupakan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) yang semasa hidupnya menjadi aktivis yang sangat vokal pada pemerintahan Orde Lama pimpinan Soekarno.

Dia juga sosok Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) sejati yang tersohor dan terkenal di zamannya. Di alam, Gie adalah pribadi yang memiliki solidaritas tinggi pada temannya serta loyalitas yang tak perlu diragukan lagi. Itulah sepenggal kalimat yang diutarakan Herman O Lambang, teman akrab Soe Hok Gie sewaktu masih aktif di Mapala UI. Acara yang saya ikuti itu mengupas sisi petualangan Soe Hok Gie bertempat di kampus Universitas Muhammadiyah Malang (10/11), yang diikuti oleh berbagai pecinta alam di Malang Raya.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, saya jadi terinspirasi untuk mengungkap sosok Gie sesuai dengan penuturan yang saya dapat dari Herman O Lambang. Gie yang sangat legendaris itu–sampai namanya terkenal di kalangan aktivis sekarang- mengalami nasib yang tragis saat mendaki Gunung Semeru beserta rombongan dari Mapala UI. Gie meninggal tahun 1969 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut beserta temannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Gie meninggal di pangkuan Herman.

Herman yang juga anggota Mapala UI dengan nomor M 016 UI itu menuturkan, sahabatnya memiliki dua sisi yang sangat berkarakter. Gie penggemar petualangan alam, serta pribadi yang memiliki rasa nasionalisme tinggi pada bangsa Indonesia. Gie rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam sebuah buku harian. Dan buku hariannya itulah yang diangkat menjadi film oleh Riri Riza dengan judul “Catatan Seorang Demonstran” pada 2005. Soe Hok Gie diperankan Nicholas Saputra.

Herman yang semasa mahasiswa mengambil Jurusan Antropologi Fakultas Sastra UI mengatakan film tersebut sudah berhasil menyampaikan misi Hokkian yang mencintai alam dan negeri ini. Ia juga tak mempermasalahkan figur dirinya yang diperankan Lukman Sardi.

Herman berpesan, nilai yang terkandung dalam interaksi kehidupan sesama anggota Mapala sudah dijadikannya sebagai way of life dalam keseharian. “Bila saya berbuat salah maka pasti akan saya akui itu dan tak akan marah bila ditegur teman sesama Mapala bila memang saya bersalah,” kata Herman. Gie memberikan contoh seperti itu dalam kesehariannya.
Itulah sekumpulan cerita yang dapat saya ambil dari pengakuan seorang Herman O Lantang sebagai sahabat dekat Gie. Meskipun sekarang sudah tua dia masih memiliki jiwa muda dan membara, terlihat dari caranya menyampaikan cerita.

Oleh
Erik Putra
Reporter Koran Kampus Bestari UMM
erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: