Waspada Terbang di Indonesia

Monday, 28 January 2008 (Surya)

Peristiwa jatuhnya salah satu bagian komponen pesawat (knalpot) di daerah Mejayan, Caruban, Madiun, Jawa Timur, Rabu (23/1), patut ditindaklanjuti Komite Kecelakaan Nasional Transportasi (KKNT). Kejadian seperti itu, entah milik maskapai penerbangan komersial (sipil) atau pun militer sangat membahayakan pengguna jasa penerbangan baik pilot atau penumpang.

Sebelumnya, ada peristiwa jatuhnya benda penutup mesin (fairing exhaust) pesawat yang jatuh di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Selasa (4/12) tahun lalu, perlu disikapi ekstra waspada. Sebuah ”tragedi” yang menambah daftar panjang dunia penerbangan nasional. Industri penerbangan yang saat ini masih dalam suasana ‘duka’ karena masih diembargo dengan tidak boleh melewati langit Uni Eropa, membuat pelaku usaha penerbangan prihatin. Sementara embargo komponen suku cadang pesawat militer juga belum dicabut Amerika Serikat, sehingga penerbangan Indonesia memasuki fase kritis.

Sekarang, bila ingin naik pesawat kita dituntut untuk patut ekstra-waspada. Banyaknya berita tentang insiden ”burung besi” menyiratkan adanya sesuatu yang tak beres di industri penerbangan. Banyak maskapai yang masih mengesampingkan faktor perawatan kondisi pesawat demi mereguk keuntungan yang berlipat. Jadinya aspek keselamatan penumpang yang dikorbankan dan menjadi nomor kesekian untuk diperhatikan.

Jatuhnya salah satu bagian komponen pesawat yang diduga milik penerbangan militer yang lepas landas dari Lanud Iswahyudi membuat banyak orang tertegun dan semakin memperkuat dugaan banyak orang bahwa dunia penerbangan Indonesia memasuki fase rawan. Artinya, dunia penerbangan Indonesia dari segi manajemen dan pemeliharaan pesawat kurang maksimal. Peristiwa tersebut patut disikapi secara serius. Insiden itu tak boleh sekadar dijadikan perdebatan. Harus ditelusuri dan perlu investigasi mendalam mengapa kejadian itu bisa terjadi. Sebuah hal yang wajar jika KNKT dan semua pihak yang terkait melakukan investigasi menyeluruh atas peristiwa itu.

Patut dicurigai juga bahwa hal itu bisa saja terjadi karena keteledoran teknisi yang menangani pesawat. Kondisi pesawat yang tak normal itu masih saja beroperasi karena oleh teknisi tak diperiksa secara teliti. Tentu saja pesawat dapat terus mengangkasa, tetapi kondisi pesawatnya rawan dan membahayakan penumpang.

Buktinya, setelah jatuhnya bagian knalpot pesawat masih belum terdeteksi pesawat mana yang mengalami kehilangan bagian badannya. Sehingga dapat dikatakan prosedur pengecekan tidak dilakukan secara menyeluruh. Patut disesalkan hal itu terjadi. Memang insiden jatuhnya bagian pesawat tersebut belum tentu kesalahan sepenuhnya teknisi. Tetapi sudah menjadi konsekuensi tetap bahwa karena keteledoran yang tak perlu yang bisa berakibat fatal dan menimbulkan korban jiwa.

Oleh
Erik Purnama Putra

Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: