Guru Dilarang Jualan Buku

Ahad, 23 Maret 2008 (Malang Post)

Rencana Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk membeli copyright (hak cipta) 250 judul buku pelajaran dari sejumlah penerbit di Indonesia patut diapresiasi. Rencana Depdiknas tersebut merupakan sebuah langkah maju bagi dunia pendidikan nasional dan kabar gembira bagi siswa khususnya. Pembelian hak cipta buku tersebut oleh Depdiknas dijadikan sebagai bentuk salah satu kepedulian pemerintah yang ingin meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Sebenarnya tujuan utama Depdiknas melakukan pembelian copyright buku ajar bagi siswa adalah sebagai upaya untuk meningkatkan akselerasi kemajuan dalam bidang pendidikan, serta mempercepat program wajib belajar sembilan tahun bagi seluruh siswa di Indonesia. Dan itu sesuai dengan visi Depdiknas sendiri yang ingin meningkatkan mutu pendidikan nasional di tengah keterpurukan yang terjadi selama ini.
Di harapkan setelah program itu dapat dilaksanakan, setiap murid nantinya dapat mengikuti proses belajar mengajar dan menerima transfer ilmu dari gurunya secara lebih efektif. Karena sudah memiliki pegangan buku sendiri, sehingga guru dalam menyampaikan materi di kelas dapat berjalan dengan lancar dan siswa mampu menangkap materi pelajaran lebih baik.

Rencana program penggadaan buku yang dibuat Depdiknas itu nantinya akan dimasukkan dalam satu paket dengan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang diberikan kepada siswa, yang selama ini sudah berjalan. Jumlah dana block grant dari pemerintah yang diberikan kepada siswa sebesar 120 ribu/siswa SD dan 140 ribu/siswa SMP. Dan dana yang digelontorkan itu, yang nantinya akan dijadikan komite sekolah untuk memenuhi segala keperluan siswa yang berakaitan dengan keperluan kegiatan sekolahnya.

Sebagai pegangan hukum atas rencana pembelian judul buku dari penerbit, Depdiknas telah menerbitkan Peraturan Mendiknas (Permendiknas) Nomor 2 Tahun 2008 pasal 3 ayat 4, yang khusus mengatur prosedur pembelian hak cipta buku dari penerbit. Dengan landasan itu, Depdiknas akan mengijinkan dan memperbolehkan setiap sekolah untuk men-downlod, mengkopi, menerbitkan, dan memperdagangkan buku yang telah dibeli hak ciptanya oleh Mendiknas guna dibagikan kepada siswa.

Siswa sendiri tak perlu membayarnya, karena buku itu sudah termasuk dana BOS yang diterima siswa. Depdiknas juga mempermudah bagi pihak sekolah untuk mendapatkan buku pelajaran tersebut. Karena pihak sekolah bisa mendapatkan buku itu secara langsung dan cuma-cuma dengan hanya mengakses di internet secara online, sehingga sekolah bisa menerbitkannya dan langsung membagikannya kepada siswa. Tentu saja semua prosedur itu harus mendapatkan izin dulu dari Depdiknas selaku pihak yang berwenang.
Dasar bagi Depdiknas untuk melakukan pembelian buku itu karena didasarkan atas banyaknya peristiwa di mana setiap memasuki tahun ajaran baru siswa diwajibkan untuk membeli buku pelajaran baru dari gurunya. Kondisi itu terkesan lumrah dan pihak sekolah tak bisa berbuat apa-apa untuk melarang praktek tersebut. Namun sayangnya, kondisi itu malah dijadikan guru untuk menjadikan praktek itu sebagai bisnis yang terus dilakukan tanpa mau melihat akibatnya. Karena jika siswa tak membeli buku, guru akan memberikan ancaman, yang akan berpengaruh terhadap nilai siswa. Tentu saja hal itu membuat siswa mau tak mau dan dengan rasa terpaksa harus membeli buku pelajaran kepada gurunya.

Belajar dari pengalaman itulah, Depdiknas atas masukan dari berbagai orang tua wali murid yang mengajukan protes segera bertindak dan melarang guru untuk berjualan buku kepada siswa. Dan jika guru tak mematuhinya, guru sama saja telah melanggar Permendiknas Nomor 11 tahun 2005 tentang larangan bagi sekolah untuk menjual buku ke anak didiknya.

Namun kondisi di mana siswa wajib membeli buku kepada gurunya ke depan tak bakalan lagi ada jika rencana Depdiknas tersebut terealisasikan. Jika kondisi itu dipatuhi semua elemen tenaga didik, siswa tak perlu lagi harus membeli buku kepada gurunya, dan tinggal menunggu pembagian dari pihak sekolah yang sudah menyediakannya. Sehingga praktek guru nyambi jualan buku bakalan tak ditemukan lagi. Dan guru bisa berkonsentrasi kepada tugas utamanya, yaitu mendidik siswa dan melakukan proses pembelajaran bagi siswa guna mempersiapkan calon generasi bangsa yang bermental bagus.

Erik Purnama Putra
Jurnalis Koran Kampus Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: