Dosen Malas Melakukan Penelitian

Tuesday, 08 April 2008 (Surya)

Proposal yang biasanya diajukan tak disetujui semua, hingga membuat beberapa peneliti makin ogah untuk melakukan budaya riset ilmiah tersebut. Mendengar berita tentang masih sedikitnya dosen yang melakukan penelitian membuat saya miris dan kecewa. Betapa tidak, dosen seharusnya melakukan proses transfer ilmu dan melaksanakan proses belajar mengajar, melakukan pengabdian masyarakat, serta melakukan penelitian untuk kepentingan dunia pendidikan.

Dari jumlah 180.000 dosen di 2.700 perguruan tinggi di negeri ini, hanya 1,1 persen atau 2.000 dosen yang aktif dan memiliki kemampuan layak untuk melakukan penelitian. Sementara yang lainnya tak banyak melakukan penelitian dan hanya berkutat pada proses menyampaikan perkuliahan pada mahasiswa.

Padahal jika ditelisik jumlah dosen yang memiliki gelar S-2 bahkan S-3 di Indonesia jumlahnya lebih dari 2.000. Harusnya karya penelitian dan jumlah peneliti di Indonesia lebih banyak dari sekarang, tetapi gelar yang disandang itu ternyata tak menjamin seorang dosen mampu melakukan penelitian dengan baik yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dari pengalaman yang saya peroleh di kampus UMM, dosen yang memiliki gelar magister dan doktor memang banyak, tetapi tak semuanya aktif melakukan riset. Menulis buku pun masih banyak dosen yang tak melakukannya. Ketika perkuliahan, masih banyak dosen yang memakai buku ajar orang lain.

Mereka lebih banyak terlibat dengan proyek dan bisnis sampingan yang dikembangkan untuk meraih finansial lebih besar daripada harus melakukan kegiatan penelitian yang harus melalui prosedur ilmiah yang njlimet, sistematis, dan memakan waktu lama. Apalagi proposal yang biasanya diajukan tak disetujui semua, hingga membuat beberapa peneliti makin ogah untuk melakukan budaya riset ilmiah tersebut.

Banyaknya pelanggaran yang dilakukan dosen dengan tidak mematuhi asas pelaksanaan Tri Dharma mengakibatkan kontribusi dosen terhadap perkembangan dunia pendidikan Indonesia  tak terlalu signifikan. Memang tak bisa digeneralisasi bahwa semua dosen seperti itu. Namun karena dosen yang tak melakukan penelitian lebih banyak, maka opini yang berkembang di masyarakat tersebut jadi tak terbantahkan.

Seperti yang dilansir Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menyebutkan kontribusi Indonesia pada jurnal internasional hanya 0,012 persen. Bayangkan jika dibandingkan dengan Nepal yang mampu menyumbang 0,014 persen. Padahal jumlah penduduk Nepal sangat sedikit. Belum lagi jika berbicara Singapura yang mampu menyumbang 0,179 persen. Tentu dengan melihat salah satu tolok ukur itu posisi Indonesia sangat jauh tertinggal dalam bidang riset pengembangan ilmu pengetahuan.

Tak heran ada pendapat yang mengatakan dosen lebih senang mengejar gelar yang mentereng saja, tetapi malas melakukan kegiatan yang berbau ilmiah kadang-kadang terbukti. Pantas saja jika banyak mahasiswa setelah lulus dan menyandang gelar sarjana banyak yang menganggur.

Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena faktor dosen yang tak memiliki budaya ilmiah sehingga mahasiswa yang baru memperoleh gelar sarjana tak memiliki kemampuan kepekaan ilmiah terhadap berbagai fenomena di masyarakat.

Boleh saja dosen memiliki gelar mentereng, namun lebih bagus lagi juga harus memiliki kemampuan melakukan penelitian dan membuat buku secara baik agar dapat melaksanakan tugasnya.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Psikologi UMM
erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: