Gerakan Menggiatkan Budaya Literal

Sabtu 31 Mei 2008 (Media Indonesia)

Dewasa ini tradisi membaca maupun menulis adalah aktifitas yang kurang popular di kalangan (maha) siswa. Kegiatan membaca dan menulis yang sudah mulai ditinggalkan mengindikasikan bahwa ada yang tidak beres dengan sistem pendidikan Indonesia.

Kalangan siswa banyak yang beranggapan bahwa kegiatan membaca maupun menulis adalah sesuatu yang sulit dikerjakan dan hanya bisa dilakukan kelompok tertentu. Sehingga jika siswa harus dihadapkan pada tugas yang berkaitan dengan kegiatan yang berbau literal membuat siswa menjadi malas mengerjakannya.

Tak dimungkiri, budaya literal belum terbangun di Indonesia. Para siswa di sekolah masih banyak yang menganggap kegiatan membaca dan menulis adalah sesuatu hal yang membosankan dan bikin pusing kepala. Di samping itu, dunia membaca dan menulis masih belum dianggap sebagai sebuah kebutuhan pokok yang harus dipenuhinya seperti makan dan minum, sehingga siswa pun merasa berat melakoni pekerjaan tersebut.

Kondisi itu tentu berefek buruk bagi dunia pendidikan Indonesia. Masih belum terbangunnya budaya membaca dan menulis di kalangan pelajar maupun mahasiswa berimplikasi terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM)
Indonesia. Padahal apabila suatu negara ingin maju, hal utama yang harus dibenahi dulu adalah kualitas pendidikan yang diterima penduduk Indonesia. Tetapi yang terjadi adalah, dunia pendidikan Tanah Air masih terus terpuruk, dikarenakan salah satunya adalah belum terbentuknya semangat menciptakan kultur membaca dan menulis.

Padahal kegiatan membaca maupun menulis itu dapat meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Karena dengan membaca, setidaknya pandangan dan cakrawala seseorang (siswa) akan bertambah luas dan cara berpikirnya akan cenderung logis. Mereka juga dapat menemukan berbagai pengalaman baru yang membuka pikiran, yang hanya bisa didapatkan dari aktifitas membaca. Tentu dengan bertambahnya wawasan dan pengalaman siswa pasti
akan diikuti juga dengan semakin meningkatnya kualitas dirinya.

Namun sayangnya, di Indonesia budaya literal masih jauh diawang-awang. Buktinya menurut hasil penelitian yang dilakukan Taufik Ismail ketika melakukan penelitian ke beberapa negara tentang jumlah buku yang dibaca siswa tingkat SMA. Hasil penelitian Taufik Ismail tak mengejutkan memang, namun membuat miris hati yang mengetahuinya. Bayangkan siswa di Indonesia yang sudah menempuh pendidikan selama sembilan tahun lebih (SD sampai SMA) rata-rata jumlah membaca bukunya adalah nol. Dengan kata lain, siswa yang sudah sampai jenjang SMA di Indonesia belum pernah membaca satu buku penuh. Jelas sudah bahwa aktifitas membaca belum menjadi sebuah hal yang menyenangkan dan menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi siswa.

Banyak siswa yang menganggap membaca masih dianggap sebagai pekerjaan yang membosankan dan menyita banyak waktu bermain. Padahal tanpa mereka sadari, sebenarnya dengan melakukan kegiatan membaca, akan bisa membawa siswa menuju ke suatu tempat di mana ia dapat menemukan sebuah dunia baru, yang itu tak bakalan ditemukan bila siswa tak membaca.

Belum lagi jika siswa gemar menulis pasti mereka akan mencapai suatu tingkatan yang lebih tinggi. Karena proses kegiatan menulis pada awalnya harus didahului dengan membaca terlebih dahulu. Dan juga modal dasar menulis itu sendiri adalah dengan seringnya membaca.  Sejauh ini, hambatan siswa tak menyenangi kegiatan membaca adalah karena salah satunya mereka lebih menggemari media yang popular saat ini, yaitu tayangan televisi. Banyaknya acara yang ditawarkan di TV tersebut membuat siswa menjadi terlena oleh keadaan. Tayangan TV yang bersifat menghibur- namun tak mendidik—itulah yang malahan digemari kalangan siswa. Dan acara drama sinetron yang tak masuk akal menjadi tontonan yang paling ditunggu untuk dilihatnya.

Jangkauan televisi yang bisa diakses hampir 90 persen penduduk Indonesia menyebabkan media yang satu ini terjangkau seluruh lapisan masyarakat untuk menikmatinya. Padahal hampir 70 persen lebih tayangan TV tidak mendidik dan banyak diisi tayangan drama yang content-nya berupa kekerasan, mistik, hedonisme dan aksi ranjang saja.

Namun karena budaya masyarakat kita terutama siswa yang mudah sekali menerima hal-hal baru yang ditampilkan tayangan televisi, maka kejadian itu gampang sekali diterima siswa. Karena pada dasarnya siswa memang lebih mudah terstimulus dengan kegiatan yang menghibur daripada kegiatan yang menguras pikiran semacam membaca, belajar, dan menulis.

Padahal dengan lebih sukanya siswa menonton televisi dibandingkan dengan aktifitas membaca membuat membuat perkembangan mentalnya menjadi lemah dan tak terdidik secara baik. Dapat dikatakan generasi sekarang ini bisa disebut sebagai generasi visual. Padahal generasi visual adalah musuh utama dari budaya literal.

Karena dengan menjadi generasi visual, tentu akan menyebabkan kemalasan pada siswa menjadi barang yang umum dan mudah dijumpai. Generasi visual akan membuat siswa hanya menyenangi kegiatan yang menghibur yang ditampilkan acara di TV. Karena televisi memiliki daya pikat yang luar biasa dan waktu melihatnya dinikmati, maka banyak siswa secara tak langsung terpengaruh dengan yang ditunjukkan di TV.

Hal lain yang dapat dijadikan tolok ukur belum terbangunnya budaya literal di kalangan siswa adalah dengan membandingkan waktu yang diluangkan siswa untuk menonton televisi dengan kegiatan membaca. Kebanyakan pasti waktunya lebih banyak tersita untuk menonton acara di TV. Karena melihat sinetron bagi siswa adalah ajang menghibur diri dan melepaskan penat, sedangkan dengan membaca malahan akan membuat siswa menjadi tegang dan tak nyaman.

Budaya ilmiah yang belum kuat di lingkungan sekolah (kuliah) membuat membaca atau menulis bukan menjadi keharusan yang harus dipenuhi siswa. Sehingga harus dibuat sebuah gebrakan revolusioner untuk menumbuhkan
minat baca, yaitu dengan memberikan pola pengajaran yang tak kaku dan membebaskan siswa untuk kreatif dalam menyampaikan pendapat mengenai materi pelajaran (perkuliahan) yang didapat. Sudah saatnya dilakukan gerakan revolusioner progresif dan masif untuk melakukan perubahan budaya dalam diri siswa.

Mulai sekarang pemerintah perlu untuk membentuk sebuah rancangan yang akan menjadi fondasi guna membentuk generasi literal di Indonesia, yang hingga kini masih sedikit jumlahnya. Pola pikir yang tertanam di siswa saat ini adalah membaca buku adalah suatu hal yang membosankan perlu diubah. Sehingga pantas saja sekarang ini Bangsa Indonesia sulit sekali dijumpai adanya ilmuwan baru. Karena hanya dengan membaca, maka Indonesia bisa menyiapkan generasi berikutnya menjadi generasi literal yang menghasilkan banyak ilmuan baru.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: