Guru Lebih Mulia daripada Teroris

Senin 12 Maret 2008 (Media Indonesia)


Berita penangkapan beberapa guru yang terindikasi melakukan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN) mendatangkan tanya tanya besar? Bukan karena perbuatan kecurangan yang dilakukan oleh guru, melainkan peristiwa penangkapan guru di Deli Serdang oleh satuan Detasemen Khusus (Densus) 88 dari Mabes Polri yang tugasnya mengurusi masalah teroris.

Sebagai masyarakat umum, tentu saya juga kaget bercampur heran dengan kejadian itu. Okelah, apa yang dilakukan guru itu menyalahi peraturan dan layak untuk dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Namun apakah mereka layak untuk disandingkan dengan teroris yang notabene penjahat besar yang memang kegiatannya bikin kekacauan Indonesia. Sungguh tak bisa dimengerti kecurangan yang dilakukan guru harus disamakan dengan perbuatan teroris yang membunuh banyak orang.

Guru adalah profesi mulia yang sekarang ini banyak orang menghindari pekerjaan sebagai guru, karena gajinya kecil dan pengabdiannya dalam mencerdaskan siswa tak sebanding dengan pendapatan yang diterimanya. Apalagi yang statusnya masih pegawai honorer atau guru tidak tetap (GTT), nasib mereka makin merana saja, sebab gajinya sangat kecil.

Peristiwa pembocoran kunci jawaban mata pelajaran Bahasa Inggris yang dilakukan guru terhadap siswa memang bertentangan dengan hukum di Indonesia karena sebagai salah satu perbuatan membocorkan rahasia negara. Mereka juga berhak diadili dan dibawa ke meja hijau untuk diproses dan disidangkan. Namun sayangnya, apakah perbuatan guru itu layak untuk disandingkan dengan perbuatan teroris yang bikin kacau keamanan negara dan membunuh banyak orang dengan meledakkan bom?

Alasan Kapolri, Jenderal Polisi Sutanto yang menyatakan bahwa satuan Densus 88 berhak menangkap orang yang melakukan perbuatan mencuri rahasia negara tidak bisa diterima begitu saja. Karena untuk menangani perbuatan melanggar hukum yang tingkat kejahatannya tak sebanding dengan perbuatan melakukan teror harusnya cukup ditangani oleh polisi setingkat Polsek yang ada di setiap kecamatan.

Tindakan menangkap guru dengan mendatangkan tim Densus 88 sebuah tindakan yang di luar batas kemanusiaan. Mengapa harus jauh-jauh mendatangkan satuan Densus 88 dari Jakarta? Apakah Densus 88 ingin show of force kepada publik Indonesia bahwa meraka masih eksis atau malahan sekedar ingin tampil gagah-gagahan dengan cara menakut-nakuti masyarakat.

Sudah jelas, apa yang dilakukan Mabes Polri dengan menurunkan satuan khusus anti teror hanya untuk menangkap guru yang melakukan kecurangan adalah perbuatan keterlaluan dan overacting. Kejadian itu bisa disebut sebagai tragedi bagi dunia pendidikan Indonesia pada umumnya, dan menimbulkan luka yang dalam bagi profesi guru pada khususnya. Guru seolah tak dihargai lagi derajatnya dan pengabdiannya.

Mengapa Polri sampai tega dengan menerjunkan Densus 88 yang tugasnya mengantisipasi serangan teror di Indonesia. Apakah Densus sudah tak punya tugas yang lebih penting lagi dengan turun ke daerah hanya untuk menangkap guru. Profesi guru yang tugasnya mulia dengan memberikan pendidikan kepada siswanya dengan harapan mereka kelak menjadi pandai dan berguna bagi bangsanya, ternyata belum juga hilang kisah pilu yang menyertai kehidupannya. Oh, malang nian nasibmu guru. Tanah air ini menitikkan air mata untukmu.


Oleh

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: