Hukum Berat Penimbun BBM!

Rabu 28 Mei 2008 (Media Indonesia)

Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 30 persen yang diberlakukan akhir pekan lalu membawa dampak yang luar biasa besar bagi kehidupan masyarakat. Berita penaikan BBM itu direaksi cepat oleh masyarakat dengan berbondong-bondong datang ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk mengisi bahan bakar kendaraannya. Meskipun harga baru BBM belum diterapkan pemerintah, namun kondisi di lapangan sudah cukup membikin khawatir masyarakat, terutama pemilik kendaraan bermotor (mobil maupun motor).

Pemilik kendaraan yang berbarengan datang mengisi bahan bakar karena takut akan kenaikan harga BBM, mengakibatkan terjadinya antrean panjang di setiap SPBU. Sehingga banyak SPBU yang kehabisan stok dan akhirnya harus membatasi pembelian BBM oleh masyarakat. Rencana kenaikan BBM yang diumumkan pemerintah membuat permintaan BBM dari masyarakat meningkat.

Masyarakat yang begitu reaktif menanggapi berita itu akhirnya membeli dalam jumlah banyak bahan baker, yang membuat stok bahan bakar di SPBU cepat habis. Sehingga kesannya SPBU kekurangan pasokan bahan bakar dari Pertamina, padahal hal itu akibat dari meningkatnya jumlah permintaan masyarakat. Karenanya banyak masyarakat yang mengeluh akan dan merasa kesulitan untuk mengisi bahan bakar kendaraannya.

Padahal kekosongan di setiap SPBU adalah hasil dari banyaknya permintaan dari masyarakat yang diluar kewajaran, sementara pasokan BBM yang diterima SPBU tetap. Karena itu, BBM jenis premium dan solar yang banyak dibutuhkan kendaraan menjadi langka, dan pada akhirnya masyarakat kesulitan mendapatkan kedua bahan bakar itu. Kelangkaan BBM jenis premium dan solar mengundang tanda tanya besar, karena meskipun permintaan dari masyarakat terus meningkat, namun kondisi itu sebenarnya sudah disikapi Pertamina dengan menambah kuota pasokan BBM di setiap SPBU sebesar 5%.

Sayangnya, antrean kendaraan yang ingin membeli bahan bakar tetap saja terjadi, dan hampir semua SPBU di tiap kota Indonesia mengalami kelangkaan stok premium dan solar. Antrean panjang masyarakat yang ingin mengisi BBM di tiap SPBU tentu mengindikasikan ada sesuatu yang tidak beres.

Dugaan adanya penyimpangan dalam alur pendistribusian BBM boleh jadi benar adanya. Ada beberapa oknum nakal yang ingin mereguk keuntungan di tengah situasi masyarakat yang sulit mendapatkan BBM. Para penadah gelap tersebut menimbun bahan bakar yang seharusnya didistribusikan kepada masyarakat. Mereka mengumpulkannya dengan maksud setelah harga baru BBM diumumkan pemerintah, penimbun BBM tersebut akan melepaskan BBM yang ditimbunnya. Sehingga mereka nantinya mendapatkan keuntungan besar setelah menjualnya dengan harga baru.

Patut disayangkan sekali, di saat masyarakat kesulitan mendapatkan BBM, beberapa oknum nakal memanfaatkan situasi itu demi keuntungan pribadi. Di sinilah perlu ketegasan dari Polisi selaku aparatur hukum yang berwenang menindak pelaku penimbunan BBM.

Polisi diharapkan dapat membongkar mafia penimbun BBM yang merugikan warga negara. Karena tindakan menimbun BBM sama saja perbuatan melangar hukum. Dan menurut UU No 22/2001 pasal 53 tentang Migas, pelaku penimbunan BBM bisa diancam dengan kurungan maksimal 3 tahun penjara. Diharapkan dengan menjerat pelaku penimbun BBM dengan UU No 22/2001 pasal 53, oknum penimbun BBM bisa ditindak dan dipenjarakan biar kapok, serta tak ditiru banyak orang.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Psikologi UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: