Menolak Kekerasan Mendahulukan Cara Damai

Kamis 26 Juni 2008 (Duta Masyarakat)

Fenomena yang terjadi tentang keberadaan aliran Ahmadiyah di Indonesia mampu menarik perhatian banyak pihak yang berkepentingan. Berbagai pihak yang berkepentingan saling mengklaim diri bahwa kelompoknya yang paling benar. Pada kasus ini ada dua kubu yang berbeda pendapat mengenai keberadaan Ahmadiyah yaitu, antara Front Pembela Islam (FPI) yang setuju Ahmadiyah harus dibubarkan berhadapan dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Keyakinan (AKKBB) yang mencoba melindungi keberadaan Ahmadiyah.

Dua kubu yang saling bertentangan pandangan dan pikiran ini mewakili kubu yang saling bertentangan. Namun sayangnya, dua kubu ini bukannya saling bertemu untuk berdialog guna mencari ujung permasalahan mencari jalan keluar terbaik. Tetapi antara FPI dengan AKKBB yang bertikai ini hanya saling melontarkan wacana dan pendapatnya kepada media mengenai keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Sehingga kedua kubu yang saling bertolakbelakang dalam menyikapi aliran Ahmadiyah ini malah membuat keruh suasana dan menimbulkan perdebatan panjang yang tak berujung.

Seandainya antara FPI dan AKKBB mencoba saling membuka diri dengan mengadakan dialog atau musyawarah untuk saling mendengarkan pendapatnya dari sudut pandang masing-masing, tentu tragedi kekerasan Monas tak perlu terjadi, dan kedua kubu tersebut tidak saling terlukai dan merasa dirugikan. Sehingga kasus yang mencoreng muka Indonesia di mata dunia internasional tidak terjadi.

Tetapi apalah daya. Cara-cara kekerasan yang diutamakan guna menyelesaikan masalah malah semakin menguatkan dugaan negara lain di dunia bahwa kekerasan sudah menjadi trade mark bangsa Indonesia daripada harus melakukan dialog untuk menyelesaikan masalah.

Harusnya pihak yang bertikai menyikapi keberadaan Ahmadiyah di Indonesia harus lebih mendahulukan otaknya (pikiran) daripada ototnya (fisik). Kita bisa memakai cara-cara yang halus guna menggiring kelompok Ahmadiyah untuk kembali ke jalan yang benar atau masuk kembali menjadi bagian keluarga dari Islam.

Karena pada dasarnya mereka itu juga saudara kita yang sebenarnya cuma ‘melenceng dari jalur’ Islam. Dan kita sebagai umat Islam yang masih ‘lurus’ yang wajib mengingatkan secara halus kepada kaum Ahmadiyah agar mengikuti ajaran Islam yang sesuai dengan Hadits dan Al Quran.

Namun sayangnya, ada pihak yang hanya ingin menyelesaikan masalah dengan lebih mengutamakan jalan kekerasan guna melenyapkan Ahmadiyah dari Indonesia. Ahmadiyah yang mempercayai nabi setelah bani Muhammad Saw. jelas adalah tindakan keliru dan bertentangan dengan Al Quran. Tetapi melakukan tindakan kekerasan guna menyadarkan Ahmadiyah juga tidak ada gunanya.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: