Popularitas Bisa Jadi Jebakan

Jumat 4 Juli 2008 (Seputar Indonesia)

SATU tahun menjelang berakhirnya masa jabatannya,Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendapatkan sebuah kabar yang kurang mengenakkan.

Popularitasnya di kalangan masyarakat turun drastis. Setelah empat tahun menjadi orang nomor satu di negeri ini, baru kali ini popularitasnya anjlok hingga berada di urutan kedua tokoh yang paling populer menurut masyarakat.Tentu merosotnya popularitas SBY itu merupakan sebuah indikator menurunnya tingkat kepercayaan rakyat kepada pemerintahan SBY-JK.

Hasil survei Indo Barometer yang baru saja dirilis menyatakan bahwa popularitas SBY terjun bebas. Popularitas SBY berada jauh di bawah Megawati.Padahal hasil survei sebelumnya masih menempatkan SBY sebagai tokoh yang paling dipercaya masyarakat.Tak perlu diragukan lagi bahwa hasil survei menjadi pukulan telak bagi SBY dalam menyiapkan diri menghadapi kompetisi Pemilihan Presiden 2009.

Kebijakan pemerintahan SBY-JK yang cenderung tidak prorakyat dituding sebagai awal merosotnya popularitas SBY. Kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) telah membawa konsekuensi tersendiri dan berdampak besar bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang hidupnya makin menderita akibat naiknya harga kebutuhan.

Karena itu,kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan SBY langsung turun dan bagi mereka lebih rasional untuk mengalihkan dukungan kepada figur lain saat ini. Megawati pun akhirnya mampu meraup tingkat popularitas yang lebih tinggi dengan memanfaatkan turunnya kinerja pemerintah yang dipimpin SBY. Mega––panggilan akrab Megawati—telah berhasil mencuri setiap momen untuk mendongkrak popularitasnya.

Dengan terus meningkatnya popularitasnya, bukan tidak mungkin itu akan jadi modal dan sebuah angin segar bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk memenangkan Megawati sebagai Presiden RI kali kedua. Memang jika berpatokan pada hasil survei,sekarang posisi Mega sudah mampu melebihi popularitas SBY.

Namun siapa bisa memastikan bahwa popularitasnya akan bertahan di posisi pertama? Sekarang masyarakat sudah sangat kritis dan mudah sekali beralih dukungan kepada figur tertentu yang diidolakannya. Dengan demikian masih dimungkinkan popularitas itu terus berubah mengikuti dinamika dunia politik di Indonesia.

Di samping itu, masyarakat tentu juga masih ingat jika semasa Mega menjadi presiden,kondisi bangsa ini juga tidak lebih baik dari sekarang dan Mega juga dianggap gagal mengurusi bangsa.Pasalnya patokan yang menggunakan hasil survei sebagai indikator bahwa masyarakat menganggap calon yang paling populer lebih diinginkan masyarakat sebagai presiden juga perlu dibuktikan.Jangan sampai terjebak oleh hasil yang dikeluarkan lembaga survei karena bisa menyesatkan dan menjadi bumerang bagi figur yang dijadikan subjek survei.(*)

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Psikologi dan Aktivis Pers Kampus Bestari UMM (Malang)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: