Sarjana ‘Nganggur’ Salah Siapa?

Rabu 21 Mei 2008 (Media Indonesia)

Miris juga mendengar berita makin banyaknya pengangguran intelektual di Indonesia. Sebagai orang yang telah menempuh pendidikan tinggi di sebuah universitas, tentu sangat menyakitkan apabila ilmu yang selama ini didapatkan di bangku kuliah, ternyata tak bisa diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Apalagi jika selama kuliah sudah mengeluarkan biaya yang tak sedikit jumlahnya, pasti sangat menyesakkan tentunya.

Semakin banyaknya pengangguran intelektual membuat saya jadi ikutan takut dengan keadaan itu. Kondisi itu bagaikan sebuah momok yang menakutkan, yang selalu menghantui pikiran. Bayangan menjadi pengangguran ketika sudah lulus kuliah pastinya juga menggelayuti banyak mahasiswa di berbagai perguruan tinggi (PT) di Indonesia. Karena sekarang ini, meskipun sudah menenteng gelar sarjana, seorang mahasiswa belum tentu mendapatkan pekerjaan. Malahan bisa terancam semakin menambah jumlah penganguran intelektual yang sudah bertumpuk banyaknya.

Sampai saat ini, jika ada mahasiswa setelah lulus kuliah belum mendapatkan kerja, mereka akan selalu menjadi bahan pembicaraan masyarakat di mana Ia tinggal. Selama ini, sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa mahasiswa yang nganggur itu disebabkan mereka terlalu pilih-pilih pekerjaan dan memiliki gengsi terlalu tinggi, sehingga sulit mendapatkan pekerjaan. Padahal pendapat itu tak sepenuhnya benar. Karena pastinya tak akan ada mahasiswa yang mau menganggur setelah menyelesaikan jenjang perkuliahan.

Jika diurai satu persatu, permasalahan semakin banyaknya pengangguran intelektual di Indonesia sebenarnya tak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan PT di Indonesia yang belum mampu mewadahi mahasiswa dalam mengembangkan setiap bakat dan kemampuannya. Di samping itu, sistem pembelajaran di kelas yang masih berpusat pada dosen (teacher oriented)  juga semakin memperburuk perkembangan daya nalar mahasiswa dalam mengembangkan ilmu yang diterimanya. Sehingga mahasiswa terkukung dalam belenggu peraturan perkuliahan, yang membuat mahasiswa menjadi kelabakan ketika nantinya harus terjun ke masyarakat setelah lulus wisuda.

Sistem pendidikan di PT yang masih membelenggu mahasiswa harusnya layak dievaluasi dengan menggunakan metode pengajaran yang lebih humanis, dan menempatkan dosen sebagai mitra belajar mahasiswa. Bukannya mahasiswa diposisikan sebagai orang yang tak tahu apa-apa seperti dalam sistem pengajaran teacher oriented. Karena selama ini, proses pembelajaran dengan metode teacher oriented seolah menjadikan dosen sebagai pemegang kendali suasana kelas, serta sifat pembelajarannya yang searah membuat mahasiswa kurang berkembang dan tak bisa berfikir kreatif.

Kondisi itu harus diubah dengan pembelajaran dengan menggunakan metode student center learning, di mana posisi mahasiswa dengan dosen itu sejajar dan tak ada yang merasa lebih tinggi dan kuasa. Sehingga proses pembelajaran bisa bersifat dua arah dan keduanya saling terbuka untuk memberikan masukan, yang bisa membuat hidup suasana.

Saya berpikir jika metode pembelajaran model student center learning diterapkan,  maka bisa membuat mahasiswa mampu mengeluarkan segenap potensinya, karena tak merasa tertekan dan bisa leluasa menyampaikan pendapat. Sehingga kemampuan proses berpikirnya menjadi terasah dan ketika nanti harus turun ke masyarakat, tak lagi canggung karena setidaknya memiliki sudah bekal dalam perkuliahan. Atau setidaknya, proses perkuliahan bisa mencetak mahasiswa menjadi makhluk yang terampil dan tak mengalami kesulitan lagi dalam mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja. Karena ilmu yang didapatkan mahasiswa sesuai dengan yang permintaan dunia kerja maupun stakeholder.

Pernyataan di atas adalah ungkapan pribadi yang sebenarnya ingin saya suarakan kepada pemerintah. Karena sebagai seorang mahasiswa, saya tak ingin setelah wisuda dan meraih gelar sarjana malahan menjadi pengangguran dan menjadi beban negara. Sudah saatnya Depdiknas untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang sekarang guna menghindari semakin banyaknya pengangguran intelektual di Indonesia. Karena output model sistem pendidikan sekarang yang cenderung teacher oriented sudah ketinggalan zaman.

Pemerintah harus mendengar keluh kesah dan aspirasi dari mahasiswa. Karena mahasiswa juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan bermutu. Sehingga ketika mereka lulus sudah mempunyai bekal yang cukup untuk memasuki persaingan dalam dunia kerja. Dan tak menambah jumlah pengangguran bagi bangsa ini. Bukan malahan menyalahkan mahasiswa ketika sudah menjadi bagian dari pengangguran intelektual itu sendiri.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: