Suramnya Masa Depan Penegakan Hukum Indonesia

Senin 1 Juli 2008 (Duta Masyarakat)

Terbongkarnya kasus rekaman pembicaraan via telepon yang dilakukan KPK antara Artalyta Suryani dengan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara Untung Udji Santoso dan Jaksa Agung Muda Intelijen Wisnu Subroto seolah membuka tabir gelap hubungan terlarang dua pihak yang tersandung kasus. Peristiwa ‘kerjasama’ dua pihak yang seharusnya saling berhadapan di pengadilan itu bagaikan sebuah tamparan keras bagi dunia penegakan hukum di Indonesia.  Terbongkarnya kasus itu oleh KPK menjadi sebuah aib bagi dunia peradilan di Indonesia.

Diputarnya rekaman pembicaraan antara Untung Udji yang menawarkan skenario penangkapan Ayin –sapaan akrab Artalyta—untuk melindunginya agar lolos dari sekapan KPK merupakan bentuk penyelewengan atas peran dan tugasnya sebagai petinggi kejaksaan. Dalam rekaman pembicaraan yang diputar KPK itu juga disebut-sebut nama Wisnu Subroto dalam aksi skenario pengamanan Ayin guna menyelamatkan bosnya itu. Untungnya, Untung tidak berhasil merealisasikan aksinya tersebut karena Ayin keburu ditangkap KPK.

Permasalahan yang saya ungkap di sini adalah dampak dari terbongkarnya kasus tersebut, yang mengangkat sosok wanita yang bernama Ayin. Karena berkat kemampuannya yang hebat hingga mampu mempengaruhi beberapa petinggi kejaksaan, Ayin seolah membuktikan asumsi masyarakat bahwa institusi kejaksaan agung selama ini dianggap sebagai institusi yang integritasnya selalu dipertanyakan masyarakat.

Kembali ke masalah utama, sosok Ayin yang bergelimang harta ternyata membuatnya menjadi pribadi yang memiliki banyak koneksi. Dengan kekayaan yang dimilikinya, hal itu dijadikannya sebagai sebuah kekuatan dahsyat untuk meruntuhkan moral petinggi kejaksaan agung itu hingga tak berdaya dan menuruti segala perintahnya. Faktanya, dulu setelah mampu membuat jaksa Urip Tri Gunawan dan Kemas Yahya Rahman dibuat menuruti segala permintaannya dan konsekuensinya mereka harus berurusan dengan penegak hukum, sekarang sosok Ayin juga mampu melumpuhkan jaksa Udji dan Wisnu guna memberikan perlindungan kepadanya.

Sebagai masyarakat awam, logika kita pasti akan langsung menuduh bahwa Ayin dilindungi oleh oknum petinggi kejaksaan tersebut. Karena bagaimana mungkin sosok Ayin yang sedang bermasalah dengan hukum malah terlibat ngobrol dengan para jaksa yang seharusnya dipengadilan nanti tugasnya menuntut Ayin. Namun berkat kekuatan dan diplomasi dan kehebatan harta Ayin, para jaksa tersebut bertekuk lutut dan berusaha melindungi Ayin dari ancaman penjara. Di sinilah cerminan para penegak hukum di Indonesia yang moralnya sudah bobrok dan mudah dibeli dengan uang.

Ayin tidak mungkin bisa sampai memerintah petinggi kejaksaan jika tidak dengan kekuatan imbalan uang yang akan diberikannya. Pantas saja jika masyarakat Indonesia pesimis dan bahkan apatis dengan penegakan hukum yang terjadi di Indonesia. Jika aparat penegak hukumnya saja mudah disuap, jangan harap keadilan akan ada di Indonesia. Sehingga tidak ada alasan bagi Jaksa Agung Hendarman Supanji untuk melindungi anak buahnya itu dari jeratan hukum. Kita tunggu saja episode apa yang akan terjadi nanti. Masa depan penegakan hukum Indonesia dipertaruhkan dalam kasus ini.

Erik Purnama Putra
Jurnalis Koran Kampus Bestari UMM
erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: