Usut Tuntas Kasus Kematian Maftuh Fauzi

Rabu 25 Juni 2008 (Duta Masyarakat)

Penyerangan polisi ke kampus Universitas Nasional (Unas) Jakarta (24/5) adalah menyisakan masalah besar. Kasus penyerangan yang disebut-sebut sebagai bentuk salah satu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) itu akhirnya memakan korban. Setelah di tahan beserta 31 mahasiswa lainnya akibat aksi protes menentang kenaikan BBM, Maftuh Fauzi salah satu korban penangkapan polisi akhirnya meninggal hari Jumat (20/6) lalu. Meninggalnya Maftuh tentu menjadi pertanyaan besar bagi iklim demokrasi di Indonesia.

Tindakan polisi yang menyerbu masuk ke dalam kampus dan melakukan penyerangan terhadap mahasiswa yang sedang melakukan demonstrasi menentang kenaikan BBM akhir bulan lalu adalah perbuatan keji yang bertentangan dengan rasa kemanusiaan. Apalagi penyerangan itu dilakukan di lingkungan kampus, yang notabene menjadi tempat bagi mahasiswa menuntut ilmu pengetahuan, tentu penyerangan itu adalah perbuatan terkutuk.

Polisi yang bertugas melindungi dan mengayomi masyarakat seolah hanyalah tinggal jargon belaka jika kita melihat kembali peristiwa penyerangan itu. Mahasiswa yang termasuk bagian dari masyarakat sipil, yang seharusnya mendapatkan perlindungan dari pihak kepolisian, ternyata tak diperlakukan sebagaimana mestinya. Dapat dikatakan tindakan polisi yang sampai melukai mahasiswa dan membuat kerusakan fasilitas di kampus Unas itu telah mencoreng citra lembaga Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Sebenarnya kasus penyerangan itu sudah mulai dilupakan masyarakat dan media pun sudah jarang memberitakan peristiwa itu. Namun setelah kabar meninggalnya Maftuh mencul, tragedi penyerangan Unas kembali heboh dan coba diungkit kembali. Kalangan mahasiswa dan aktivis menuntut untuk dilakukan pengusutan guna mencari tahu dalang siapa yang terlibat dalam kasus meninggalnya aktivis mahasiwa Unas tersebut. Bahkan akibat kejadian itu, sekarang Maftuh diberi gelar pahlawan rakyat oleh kalangan aktivis, berkat perjuangannya berdemonstrasi menentang kenaikan BBM.

Sebagai masyarakat yang taat akan hukum, kita menunggu kelanjutan kasus tersebut. Apakah Polri akan mengusut tuntas dan mencari tahu aknum yang bersalah, atau malah kasus itu menguap begitu saja karena menyangkut citra korps polisi.

Kita harapkan Kapolri, Jenderal Pol. Sutanto untuk bertindak tegas meninda anggotanya yang telah melakukan perbuatan melanggar hukum. Karena citra Polri sedang dipertaruhkan dalam kasus ini. Jika Polri serius menangani kasus ini, Polri telah menjalankan tugasnya secara profesional. Namun jika kasus ini tidak ditangani dengan serius, sama saja Polri semakin memperburuk citranya di depan masyarakat.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: