Rentetan Kekalahan Golkar Dalam Pilkada

Edisi 156/ Juli 2008 (Koran Pak Oles)

Kekalahan demi kekalahan terus menimpa Partai Golkar. Jago Golkar dalam pilkada Jateng pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif terjungkal. Bahkan dalam pilkada Bali, pasangan Cok Budi Suryawan dan Gede Suweta juga diprediksi harus puas di urutan kedua. Peristiwa di Jateng dan Bali itu tentu saja menjadi lampu merah bagi jajaran petinggi Golkar untuk membenahi partainya jika ingin memenangkan pemilihan umum (Pemilu) 2009 nanti.

Sebelum pilkada Jateng, Jusuf Kalla selaku Ketua Umum Golkar masih bisa berkilah bahwa Golkar tidak kalah dalam setiap pemilihan gubernur, karena yang menang tetap kader Golkar seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan. Namun tak bisa dipungkiri jika tetap saja Golkar menderita banyak kekalahan dalam pemilihan calon gubernur, seperti yang terjadi di Jateng.

Golkar yang menjadi pemenang Pemilu 2004 lalu harus berpikir ulang jika menargetkan kembali meraih suara terbanyak dalam Pemilu 2009 nanti. Indikator bahwa Golkar akan mengalami keterpurukan dalam Pemilu 2009 adalah kekalahan beruntun yang menimpa Golkar. Pilkada yang telah berlangsung di Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, dan Bali adalah buktinya. Ambisi Golkar yang ingin menjadi pemenang dalam Pemilu 2009 dan menguasai mayoritas kursi DPR hanya tinggal angan-angan belaka jika mulai sekarang jajaran petinggi Golkar tidak melakukan langkah luar biasa guna menyelamatkan muka Golkar dalam percaturan politik di Indonesia.

Terpuruknya jagoan partai berlambang beringin itu dalam setiap pilkada bisa jadi karena tidak solidnya tim sukses Golkar dalam menghadapi persaingan dengan kader lain. Bisa juga karena jajaran petinggi Golkar yang ’kurang serius’ mengupayakan kemenangan jagoannya.

Jika dalam setiap pilkada, kader Golkar tidak pernah menang menjadi kepala daerah, tentu dalam Pemilu 2009 Golkar akan kesulitan mendulang suara karena mesin penggerak partai tidak duduk di pemerintahan. Sudah jelas bila kepala daerah bisa diandalkan menjadi mesin pendulang suara masyarakat dalam pemilu. Tak ada kata terlambat bagi petinggi Golkar untuk mengevaluasi diri guna meningkatkan kinerja partai. Kekalahan demi kekalahan yang dialami Golkar menandakan ada yang tak beres dengan internal Golkar.

Erik Purnama Putra

mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: