Menguak Problem Kota Malang (Resensi Buku)

Koran Bestari, No.233/Th.XXI/Desember 2007

Malang sejak dulu terkenal dengan sebutan kota Tri Bina Citra, yaitu sebagi kota Pendidikan, Industri, dan Pariwisata sebagai dasar pijakan membangun kota Malang. Ke tiga hal pokok tersebut merupakan cita-cita antara masyarakat dan pemerintah kota (Pemkot) Malang, yang harus dilestarikan guna mewujudkan kota Malang sesuai harapan bersama.

Sebagaimana yang kita tahu, kota Malang sekarang menjelma menjadi sebuah kota metropolis. Banyak sarana dan prasarana yang dibangun pemerintah guna memenuhi segala kebutuhan masyarakat kota. Mulai menjamurnya rumah toko (ruko), pusat perbelanjaan (mal), bahkan sampai pembangunan infrastruktur jembatan layang (fly over) dibangun guna memanjakan masyarakat. Tetapi, semua fasilitas itu menyisakan masalah dikemudian hari.

Banyaknya permasalahan yang terjadi di kota Bunga -julukan bagi kota Malang—menjadi perhatian tersendiri bagi Wahyu Hidayat untuk mengupasnya ke dalam buku yang berjudul Malang, Kota Kita. Buku ini memang tidak berisikan seperti karya ilmiah yang harus berujung kepada kesimpulan. Namun, buku yang content-nya tentang catatan problematika Kota Malang ini, bisa menjadi sebuah pegangan warga Malang untuk menilai permasalahan; seperti problem ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan hidup secara lebih obyektif.

Memang permasalahan yang dihadapi kota Malang, juga dihadapi kota besar lainnya di Indonesia, namun yang menjadi catatan adalah apakah masih relevan jika Kota Malang dikaitkan dengan Tri Bina Citra-nya? Sebuah pertanyaan logis yang mengemuka, bila melihat banyaknya permasalahan yang timbul di kota Malang dewasa ini.

Misal permasalahan banjir, sebenarnya kota Malang secara geografis berbeda dengan kota Jakarta, Surabaya, Tanggerang, dan Kediri yang saat ini ditimpa banjir. Sekarang Malang tak ubahnya seperti kota tersebut, yang mengalami banjir di musim penghujan (hal: 67). Sangat disayangkan, Malang yang berada di dataran tinggi mengalami musibah yang sama dengan kota lainnya yang berada di dataran rendah.

Di samping berbagai permasalahan yang ada di kota Bunga, buku ini juga mengangkat prestasi membanggakan yang diraih kota Malang, yakni mampu mempertahankan piala Adipura atas prestasinya di bidang lingkungan hidup. Program Malang Ijo Royo-royo (MIRR) yang diusung Pemkot Malang mampu menjaga kelestarian lingkungan hidup dan dinilai sebuah sebuah gebrakan bagus yang mampu mengangkat kota Malang.

Ironisnya, di tengah gencarnya Pemkot Malang mengkampanyekan gerakan MIRR, di sisi lain luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin menyusut. Pesatnya pembangunan di Kota Malang, tak diimbangi dengan kemampuan Pemkot untuk mempertahankan area RTH. Sehingga daerah resapan air berkurang dan Banjir akan selalu menggenang setiap hujan turun.

Selain itu, banyak kawasan hijau yang beralih fungsi menjadi bangunan, menyebabkan Pemkot Malang dianggap inkonsisten terhadap peraturan daerah (Perda) nomor 7 tahun 2001, yang mengatur permasalahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dibuatnya sendiri. Hal itu dilakukan Pemkot karena semata-mata hanya untuk menyenangkan dan menarik investor, tetapi mengorbankan aspek lingkungan. Akibatnya, hal itu semakin menambah daftar panjang masalah kota Malang.

Judul Buku : Malang, Kota Kita

Penulis : Wahyu Hidayat Riyanto

Edisi : Oktober 2007

Penerbit : UMM Press

Peresensi : Erik Purnama Putra

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: