Koruptor Pantas Dihukum Mati

Rabu 27 Agustus 2008 (Surabaya Pagi)

Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang dibekali kekayaan alam berlimpah ruah. Namun semua potensi yang ada tersebut belum menjamin bahwa Tanah Air ini akan menjadi kaya dan masyarakatnya dapat hidup sejahtera. Salah satu penyebab utama bangsa ini terus berada dalam keterpurukan adalah karena banyaknya koruptor yang telah mencuri uang negara, tetapi mereka bisa hidup nyaman di negeri ini menikmati hasil korupsinya.

Perilaku korup pejabat negara dilakukan berjamaah di semua lini kehidupan. Para petinggi eksekutif, legislatif, hingga yudikatif tidak ada yang tidak korupsi. Sehingga tatanan pemerintahan menjadi bobrok, tetapi di sisi lain pelaku korupsi bisa hidup bergelimang harta menikmati hasil ’kerja kerasnya tersebut’.

Tetapi sekarang kondisinya lumayan baik dan masyarakat seolah menemukan sebuah cahaya harapan dari hasil kinerja KPK yang dengan tegas mampu mengungkap beberapa kasus korupsi yang dilakukan petinggi negara. Langkah KPK yang berhasil menguak kasus korupsi tingkat tinggi tersebut layak untuk diapresiasi dan diberikan dukungan moril dari masyarakat. Karena berkat usaha mereka, banyak koruptor yang akhirnya di bawa ke meja hijau.

Sayangnya, tindak lanjut keberhasilan KPK mengungkap aktor pelaku korupsi tersebut tidak dibarengi dengan kinerja yang mumpuni dari aparat penegak hokum lainnya. Banyak kasus membuktikan bahwa koruptor tidak mendapatkan hukuman setimpal ketika menjalani persidangan. Mereka hanya dituntut hukuman penjara kategori ringan, dan jelas hukuman itu tidak sebanding dengan perbuatan korupsi mereka.

Menyikapi kasus korupsi yang sudah bikin masyarakat Indonesia muak, sudah seharusnya pihak penegak hukum untuk bertindak lebih tegas dan keras untuk menuntut koruptor agar dihukum maksimal, bahkan hukuman mati. Karena jika koruptor hanya mendapatkan hukuman penjara ringan, hal itu jelas menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia dan juga citra aparat penegak hukum.

Karena jika kita melihat ke negara Jepang dan Cina, pelaku korupsi pasti akan mati. Di Jepang, orang yang ketahuan korupsi biasanya akan melakukan harakiri karena malu perbuatannya diketahui orang banyak dan itu sebagai bentuk pertanggungjawaban dirinya. Jika pun tidak, mereka akan dihadapkan pada ancaman hukuman mati di persidangan.

Sedangkan di Cina, koruptor akan dihadapkan pada hukuman tembak dan pasti tidak akan lolos dari kematian. Karena itu, orang akan berpikir seribu kali jika akan melakukan korupsi, sebab hukumannya berat, yaitu mati.

Tetapi karena kultur masyarakat Indonesia beda dengan Cina dan Jepang, maka perlu dibuat rumusan hukum agar koruptor dijatuhi hukuman mati agar menimbulkan efek jera. Karena jika tidak begitu, orang tidak akan takut untuk melakukan tindakan korupsi. Sehingga satu-satunya jalan dan hukuman yang pantas bagi pelaku korupsi adalah dengan menjatuhkan hukuman mati kepada koruptor.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Gedung Student Center lt.1 Bestari Kampus III UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: