Tidak Harmonisnya Hubungan Mantan Presiden

Rabu 3 September 2008 (Jurnal Nasional)

Perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-63 (17/8) telah berlalu. Peringatan hari Kemerdekaan Indonesia itu dipusatkan di Istana Negara dengan rangkaian upacara pengibaran bendera dan penurunan sang saka merah putih. Namun ada satu ganjalan besar yang mengganggu perayaan kemerdekaan Republik Indonesia (RI), yakni tidak hadirnya dua mantan presiden RI dalam rangkaian upacara bendera di Istana Negara meskipun diundang secara resmi sebagai tamu VVIP.

Dari ketiga mantan presiden yang masih hidup hanya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang memenuhi undangan untuk merayakan upacara kemerdekaan RI di Istana Negara. Sementara mantan presiden Habibie dan Megawati tidak bisa hadir.

Alasan B.J. Habibie tidak bisa mengikuti upacara 17 Agustusan adalah karena dia sedang ada di Jerman dan sekalian merayakannya di sana. Sedangkan alasan Megawati mengapa tidak menghadiri upacara HUT RI di Istana Negara, karena dia memiliki agenda acara perayaan kemerdekaan sendiri di sekitar tempat tinggalnya di Kebagusan, Jakarta Selatan. Menurutnya kegiatan itu tidak mutlak harus dilakukan di istana. Dengan merayakannya bersama rakyat kecil, Megawati sebagai pemimpin wong cilik ingin dekat dengan rakyat kecil, begitu penuturan salah satu politikus PDIP Maruarar Sirait ketika menjawab pertanyaan wartawan.

Tentu saja dengan berbagai alasan yang dipunyai kedua mantan presiden RI tersebut membuat pertemuan antara Presiden SBY dengan semua pendahulunya tidak terealisir. Padahal momen hari Kemerdekaan adalah waktu yang tepat bagi seluruh elemen bangsa untuk menyingkirkan egonya masing-masing dan melupakan permusuhan yang selama ini terjadi di panggung politik.

Menarik apa yang diucapkan Gus Dur mengenai alasan kehadirannya memenuhi undangan kepresidenan agar datang mengikuti upacara HUR RI di Istana Negara yang berisi, “Kita harus bisa membedakan urusan negara dengan urusan pribadi.” Sebuah pernyataan menyejukkan yang harus direnungi seluruh elemen masyarakat, terutama elite politik bangsa ini.

Sebagaimana yang kita tahu, sejak kemerdekaan RI ke-63, belum pernah mantan presiden dan presiden yang sedang menjabat duduk bersama menjalin ikatan sebagai perwujudan rasa persatuan bangsa. Yang terjadi selama ini, setiap mantan presiden selalu punya hubungan buruk dengan orang yang menggantikannya. Jelas sekali dapat dikatakan bahwa antara mantan presiden satu sama lainnya memiliki hubungan yang tidak harmonis dan cenderung buruk.

Sejarah membuktikan jika sejak era Soekarno hingga SBY, selalu terjadi ’pertikaian’ terselubung antara mantan presiden dengan presiden yang sedang menjabat. Padahal sebagai sosok penting yang dimiliki bangsa ini sudah sepatutnya mereka untuk tidak membawa masalah pribadi dalam kehidupan berbangsa. Sehingga pantas saja negeri ini sering terjadi pertikaian antar masyarakat karena bisa jadi menyontoh tingkahlaku yang di atas.

Sampai kapan ketidakharmonisan itu terus berlangsung? Hanya mereka yang tahu. Saya sendiri sebagai bagian dari rakyat kecil berharap bahwa contoh ketidakpatutan itu harus segera diakhiri dan dimediasi agar sejarah bangsa ini tidak mencatat bahwa antar mantan presiden saling tidak bertegur sapa gara-gara kehilangan jabatannya sebagai presiden.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: