Ketika Orang Miskin Jadi Komoditas Politik

Jumat 5 September 2008 (Jurnal Nasional)

Pemilu 2009 masih kurang 9 bulan lagi, tetapi sudah banyak tokoh politik yang lebih awal untuk terjun melakukan kampanye dini. Salah satu melalui media iklan di televisi. Sayangnya, iklan pencitraan diri yang mereka lakukan menjadikan kaum miskin sebagai isu yang dijual untuk menarik simpati.

Sebenarnya sah-sah saja menggunakan rakyat miskin sebagai tema yang diangkat, asalkan tidak sampai menjadikan mereka sebagai komoditas politik demi kepentingan pribadi.

Iklan di televisi itu menceritakan masih banyak rakyat Indonesia yang hidupnya menderita dan belum sejahtera dan karena itu perlu perubahan. Tapi aktor di balik perubahan yang ditampilkan sebagai sosok pembaharu itu patut dipertanyakan. Mengapa? Karena jelas-jelas isi yang ditampilkan iklan tersebut tidak sepenuhnya benar dan ada unsur pembohongan publik.

Misalnya iklan yang ditampilkan salah seorang – konon- calon presiden menceritakan bahwa rakyat miskin hidupnya sangat jauh dari kata layak. Sang kandidat harus makan nasi aking.

Meskipun tak dapat dipungkiri jika banyak masyarakat Indonesia yang dikategorikan termasuk golongan miskin, namun mengapa hanya kemelaratan dan kesengsaraan saja yang ditampilkan. Sehingga kesannya masyarakat Indonesia seperti tak bermartabat.

Lain lagi iklan yang ditampilkan calon lagi. Dengan mengusung isu petani, seorang calon membeberkan realita bahwa kehidupan petani dari dulu hingga sekarang tidak ada perubahan nasibnya. Petani tetap termarjinalkan dan kebijakan yang dibuat pemerintah selalu menempatkan golongan petani sebagai korban. Sehingga dengan kondisi seperti itu, Indonesia yang pernah dijuluki sebagai “Macan Asia” seolah menantikan pemimpin seperti dirinya.

Boleh saja mereka mengelak jika iklan yang muncul di televisi belakangan ini adalah realita yang terjadi di lapangan sebagai dampak dari kurang seriusnya pemerintah dalam menjalankan program pembangunan untuk menyejahterakan rakyat. Namun, jika menelaah lebih jauh secara logis, iklan tersebut dapat disebut sebagai pembohongan (Nurudin, 2008).

Lihat saja informasi yang mereka sampaikan di mana digambarkan bahwa kondisi bangsa ini sedang terpuruk dan masyarakat hidupnya masih miskin, sehingga iklan yang diberikan ke masyarakat isinya tentang sebuah ajakan perubahan, yaitu dengan cara memilih mereka sebagai pemimpin.

Mendekati Pemilu 2009 nanti, jumlahnya pasti makin banyak dan saya tidak bisa membayangkan eksploitasi apalagi yang menjadikan rakyat miskin sebagai komoditas politik untuk menjual nama elite politik demi memuluskan jalan menuju RI 1.

Itulah sepintas nasib rakyat miskin di negeri ini. Hidupnya sudah susah dan selalu terpinggirkan, di sisi lain elite politik bukannya memperhatikan mereka, malahan menjadikan rakyat miskin tersebut sebagai komoditas untuk dijual demi image building agar namanya semakin populer.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM, Gedung SC Lt.1 Bestari UMM, Jl. Raya Tlogomas No.246 Malang Kampus III UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: