Waspadai Caleg Merangkap Koruptor

Senin 9 September 2008 (Surabaya Pagi)

Korupsi sudah menjadi masalah akut di negeri ini. Praktek korupsi banyak dilakukan pejabat tinggi, baik tingkat pusat maupun daerah. Dampak dari tindak pidana korupsi berjamaah yang dilakukan golongan orang penting di negeri ini adalah hancurnya berbagai sendi kehidupan bangsa ini.

Dari Sabang hingga Merauke, tidak ada pejabat pemerintahan yang tidak terlibat praktek korupsi. Golongan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, tidak ada yang bersih dari perbuatan korupsi, dan bahkan ramai-ramai berbuat melanggar aturan hukum dengan terlibat melakukan pencurian uang negara. Semua itu terjadi karena ada unsur saling kompromi antar instansi yang membuat perilaku korupsi dapat berjalan dengan aman dan saling kecipratan. Sehingga membuat bangsa Indonesia seperti dijajah anak negeri sendiri.

Hasil survei Transparancy International yang menempatkan Indonesia di peringkat 143 dari 180 negara terkorup di dunia adalah buktinya. Sepanjang tahun 2005-2008, banyak sekali pejabat pemerintah yang diketahui korup. Perinciannya, yaitu ada delapan pemimpin tingkat I (gubernur-wakil gubernur), 32 pemimpin tingkat II (bupati-wakil bupati atau wali kota-wakil wali kota) yang terjerat kasus korupsi.

Fakta itu masih ditambah dengan ratusan anggota dewan tingkat I dan II berbagai daerah yang diperiksa dan diadili karena kasus korupsi. Padahal data itu belum memasukkan pejabat dari unsur yudikatif yang diduga banyak melakukan praktek jual beli hukum. Sehingga dapat dikatakan elite pemerintah, dan penyokong kekuasaan republik ini, serta pengawas pemerintahan benar-benar korup. Karena itu, pantas jika Tanah Air ini kondisinya memprihatinkan meskipun sudah merdeka sejak lama.

Hampir seluruh strata kepangkatan pemerintahan selalu saja ada pejabat yang berbuat praktik kotor. Tindakan mereka dapat dikatakan lebih buruk dari perilaku binatang dan mencerminkan sebagai manusia yang diberi akal pikiran. Namun berkat tindakan bejat elite pemerintah yang korup pada akhirnya tetap masyarakat yang menjadi korban dan paling dirugikan.

Pemilu 2009 adalah saat yang tepat bagi masyarakat untuk ’membalas dendam’ dan menghukum koruptor. Caranya dengan tidak memilih mereka lagi jika ternyata ada yang dulunya semasa menjabat kinerjanya kurang bagus dan terindikasi melakukan penyimpangan.

Masyarakat jangan mudah dibohongi dan tergoda dengan segala janji-janji palsu yang diutarakan caleg. Jangan mudah tergiur segala tawaran dari mereka yang memiliki track record hitam. Tindakan waspada dan berpikir obyektif dalam memberikan suara merupakan langkah bijak yang akan membawa dampak positif bagi kehidupan bangsa Indonesia ke depannya.

Karena selama ini, masyarakat sudah terlalu sering ditipu dan dijadikan korban demi kepentingan pribadi si caleg. Pasalnya ketika sudah meraih jabatan yang diinginkannya dan menduduki kursi empuk di kantornya, mereka menjadi lupa diri dan lebih memikirkan bagaimana meraup kekayaan sebanyak-banyaknya. Sehingga mengabaikan dan malah menjadi antipati dengan aspirasi rakyat.

Dengan tidak memilih mereka yang memiliki catatan buruk, masyarakat akan mendapatkan wakil rakyat yang lebih baik dan menjanjikan. Hal itu merupakan langkah efektif demi menghentikan pejabat korup untuk tidak lagi menjadi bagian lingkaran anggota dewan maupun struktur pemerintah. Karena mereka sudah sering menyakiti hati rakyat dengan selalu mengingkari setiap janji manis yang disampaikannya ketika masa kampanye. Sehingga tidak memilih lagi mereka merupakan langkah jitu menghukum caleg yang termasuk daftar hitam.

Erik Purnama Putra,

Mahasiswa Psikologi dan Aktivis Pers Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: