Perilaku Hemat Energi Jangan Dianggap Beban

Sabtu 6 September 2008 (Jurnal Nasional)

Dunia dan Indonesia sedang mengalami krisis energi (minyak, air, listrik). Menyikapi realita tersebut, Presiden SBY dalam pidatonya dalam acara apel akbar di Monas, Jakarta (10/8) mencanangkan Gerakan Nasional Penghematan Energi dan Air sebagai tindak lanjut kondisi bangsa ini dan penerapan Inpres Nomor 2 Tahun 2008 tentang Penghematan Energi.

Instruksi Presiden SBY itu perlu diterapkan seluruh elemen masyarakat dalam segala aktivitasnya. Karena selama ini masyarakat Indonesia cenderung boros dalam pemakaian energi dan menggunakannya secara berlebihan. Padahal tata dunia sekarang ini mengalami perubahan yang cukup signifikan di mana naiknya harga minyak dunia berpengaruh besar terhadap kelangsungan produksi listrik Tanah Air.

Banyaknya pembangkit listrik milik PLN yang menggunakan tenaga minyak bumi menyebabkan biaya produksi listrik menjadi tinggi. Harga jual listrik ke pelanggan (industri maupun rumah tangga) yang masih di bawah harga produksi membuat pemerintah selalu membuat kebijakan menaikkan alokasi subsidi untuk sektor listrik dan minyak.

Dengan harga minyak dunia yang masih tinggi dan banyak pembangkit listrik yang mengandalkan suplai minyak impor mengakibatkan PLN dan pemerintah selalu tekor. Hal itu ditambah perilaku konsumen listrik yang sangat boros dalam pemakaian listrik mengakibatkan tanggungan beban pemerintah semakin berat.

Dalam hal pemakaian air pun masih banyak masyarakat yang dengan seenaknya sendiri menghambur-hamburkan pemakaian air secara berlebih. Padahal di satu sisi masih banyak penduduk miskin negeri ini yang hidupnya selalu kesulitan mendapatkan air bersih. Sehingga seruan hemat energi yang dicanangkan Presiden SBY sangat relevan dan perlu dipatuhi masyarakat Indonesia.

Gerakan hemat energi pada dasarnya adalah sebuah bentuk tindakan bagus karena akan membiasakan masyarakat untuk menggunakan sesuatu secara seefisien mungkin dan seperlunya. Dampak yang ditimbulkan jika masyarakat mengikuti anjuran hemat energi adalah pengeluaran yang harus dibayarkan juga bisa ditekan. Sehingga tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pernyataan Presiden SBY yang menyebutkan bahwa dengan berhemat listrik sebesar 20-30 persen dengan asumsi harga minyak sebesar 120 US$ per barel, pemerintah bisa mengurangi subsidi hingga Rp45-70 triliun. Sebuah penghematan yang besar dan bisa berdampak luas seandainya benar terjadi. Karena dana subsidi itu bisa dialokasikan untuk program pendidikan, kesehatan, maupun pengentasan kemiskinan.

Karena itu, sudah saatnya seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk mulai membiasakan diri berhemat dalam pemakaian energi demi kebaikan bangsa dan juga diri sendiri. Janganlah ajakan hidup hemat dianggap sebagai beban dan keterpaksaan.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Gedung Student Center lt.1 Bestari UMM, Jl. Raya Tlogomas No.246 Malang 65144 Kampus III UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: