Mengurai Penyebab Keterpurukan Indonesia

Senin 15 September 2008 (Jurnal Nasional)

Banyak kalangan menyebut jika Indonesia saat ini sedang terpuruk. Benarkah pendapat itu? Mari kita urai satu persatu posisi Indonesia sekarang ini di berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Di bidang olahraga, jika melihat posisi Indonesia dari event Olimpiade Beijing, Cina, pada urutan 42 dengan hanya berhasil mendulang 1 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Sebuah posisi yang tidak cukup membanggakan mengingat besarnya potensi penduduk Indonesia yang termasuk empat besar dunia.

Keterpurukan yang sama juga terjadi hampir di setiap lini kehidupan masyarakat. Data yang dilansir ESCAP Population Data Sheet tahun 2006, Indeks Prestasi Manusia (IPM) menempatkan Indonesia pada urutan ke-108 dari 177 negara dunia yang dinilai. Sementara Indeks Pendidikan Dunia pada 2007, Indonesia berada di peringkat 62 dari 130 negara yang disurvei United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco). Penurunan indeks tersebut merupakan cerminan rendahnya kualitas pendidikan di negara kepulauan ini.

Di bidang kesejahteraan, data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (2007), angka kemiskinan penduduk Indonesia jumlahnya dikisaran 31 juta orang, dan angka pengangguran mencapai 10,55 juta penduduk. Jumlah itu belum memperhitungkan dampak kenaikan BBM yang dinilai bisa menambah jumlah warga miskin dan angka pengangguran. Bahkan Refor Miner Institute memprediksi jumlah penduduk miskin melonjak drastis mencapai 8,55 persen dan pengguran 16,92 persen dari angka semula.

Dalam kasus korupsi, hasil survei yang dilakukan Transparency Internasional Indonesia menempatkan bangsa ini di peringkat 143 dari 180 negara terkorup di dunia. Sebuah hal mencengangkan meskipun kita pasti tidak berusaha membantahnya.

Tidak berhenti sampai di situ, masih banyak ’prestasi’ lainnya yang menjadi beban bagi bangsa ini. Seperti yang dilansir pengamat sosial nasional Andrinof A. Chaniago, yang mengatakan bahwa pendapatan per kapita penduduk Indonesia saat ini yang rata-rata masih berkisar di angka 1.500 dolar AS –meskipun diklaim pemerintah 2.000 dolar AS—masih jauh dari rata-rata negara Asia lainnya yang penduduknya 15-25 ribu dolar AS. Sehingga taraf hidup warga belum dapat dikatakan makmur.

Yang lebih gila lagi utang negara yang mencapai Rp 1.500 triliun juga semakin menyulitkan posisi bangsa ini untuk bisa mandiri, karena terjerat beban bunga utang yang harus dibayarkan pemerintah kepada negara donor. Padahal untuk membayar utang tersebut pemerintah menggunakan kebijakan yang tidak lazim dan cenderung kontradiktif, yaitu melalui pemotongan anggaran dana subsidi untuk pendidikan dan program pengentasan kemiskinan. Karena itu, bangsa ini terus berada pada posisi bawah dan tidak pernah beranjak keluar dari krisis yang membelenggunnya, serta jauh tertinggal dari bangsa lainnya di dunia.

Untuk itu, di tengah semangat merayakan hari Kebangkitan Nasional satu abad, peringatan HUT Kemerdekaan ke-63, dan era bergulirnya Reformasi ke-10, sudah selayaknya seluruh elemen bangsa Indonesia mawas diri dan bersatu padu membentuk satu kekuatan sebagai modal untuk bangkit dari keterpurukan.

Kita harapkan pemerintah menyadari kesalahannya selama ini dan mempunyai komitmen tinggi untuk membawa bangsa ini menuju sebuah posisi terhormat dan lebih baik dari sekarang. Salah satu cara untuk bisa mewujudkannya melalui upaya memberantas praktik korupsi dan menghukum seberat-beratnya pelaku korupsi. Karena jika tidak, bangsa ini akan semakin terjerumus ke dalam lubang yang dalam tanpa pernah mampu keluar kembali.

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Koran Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: