Puasa dan Semangat Berhenti Korupsi

Sabtu 20 September 2008 (Surabaya Pagi)

Saat ini seluruh umat Islam sedang menjalani ibadah puasa. Di bulan suci Ramadhan, kaum muslim dituntut untuk belajar menahan diri agar tidak makan, minum, menahan diri dari seks, hingga belajar untuk mengendalikan diri agar tidak selalu menuruti hawa nafsunya. Semua itu dilakukan muslim agar senantiasa perilakunya terjaga dan tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain.

Datangnya bulan Ramadhan disambut suka cita seluruh umat Islam. Pasalnya, di bulan ini Allah menjanjikan kepada makhluknya untuk berlomba-lomba dalam hal berbuat kebajikan, karena barang siapa yang memperbanyak ibadah dan amal sholeh akan digandakan pahalanya berlipat-lipat. Sehingga momen Ramadhan dijadikan sebagai ajang untuk meningkatkan takwa dan membentuk perilaku positif seseorang yang dimuali dari dalam dirinya sendiri.

Jika dikaitkan dengan kondisi Tanah Air, datangnya bulan penuh berkah ini bisa dibilang sangat bagus dan menguntungkan umat Islam Indonesia. Karena mengingat di bulan Ramadhan seluruh muslim saling berlomba meningkatkan amal kebaikannya dan berusaha mengurangi segala perbuatan sia-sia yang tidak diridloi Allah. Sehingga secara tidak langsung keberadaan Ramadhan telah membentuk banyak umat Islam untuk mengembangkan perilaku positif yamngg sesuai dengan ajaran Allah.

Di samping itu, sebagai umat Islam, sudah sewajarnya bagi penduduk Indonesia untuk memaknai bulan suci ini tidak hanya sebatas seremonialnya semata. Melainkan juga perlu lebih mendalami esensi pokok Ramadhan itu sendiri, yaitu sebagai momen untuk belajar membentuk perilaku baik dan mengendalikan diri agar tidak selalu menuruti hawa nafsu duniawi.

Subtansi puasa yang mengajarkan manusia agar bisa menahan diri dari segala godaan sudah seharusnya ditanggapi sebagai upaya untuk belajar tidak merebut hak yang bukan milik kita. Maksudnya, umat Islam dituntut untuk tidak lagi menjadi pribadi serakah yang dengan seenaknya sendiri mengambil kekayaan negara maupun uang rakyat.

Tindakan korupsi adalah cerminan bagaimana perilaku seseorang yang merebut harta bukan haknya untuk dikuasainya sendiri dengan melakukan berbagai tipu daya dan mencari beragam celah untuk bisa mengakali peraturan hukum. Padahal perbuatan korupsi adalah salah satu sifat paling buruk yang sangat dimurkai Allah dan manusia dianjurkan untuk tidak melakukannya.

Namun karena lebih mengedepankan dorongan syahwat daripada akal pikiran, pada akhirnya banyak muslim yang terjerat melakukan perbuatan korup dengan mencuri uang negara dan menggunakannya untuk kepentingannya sendiri. Mengingat besarnya dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat korupsi sudah saatnya bagi koruptor maupun orang yang berencana akan melakukan korupsi untuk menghentikan tindakannya itu.

Bulan Ramadhan telah mengajarkan kepada kita bahwa dengan senantiasa menjaga diri dan mengendalikan hawa nafsu, manusia dapat hidup dengan nyaman dan batinnya bisa tenang. Karena itu, bulan Ramadhan sepatutnya dijadikan sebagai momen untuk berhenti korupsi.

Koruptor dapat memanfaatkan bulan suci ini untuk segera tobat dan tidak lagi mengulangi perbuatannya agar dikemudian hari hidupnya bisa lebih damai dan tidak gelisah dibayangi kesalahan akibat perbuatan korupsi yang pernah dilakukannya. Dengan semangat mulia dan diiringi takwa kepada Allah, mari kepada koruptor untuk segera tobat dan berhenti melakukan korupsi.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM dan Aktivis Pers Koran Kampus Bestari

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: