Puasa dan Semangat Takut

Minggu 14 September 2008 (Malang Post)

Saat ini seluruh umat Islam sedang berada dalam suasana bulan Ramadhan, di mana setiap muslim sudah selayaknya menjalankan ibadah puasa sebagai perwujudan salah satu Rukun Islam. Di bulan suci yang membawa banyak barokah ini setiap muslim dituntut untuk memanfaatkan datangnya bulan Ramadhan secara maksimal, yaitu dengan memperbanyak perbuatan baik, seperti ibadah dan amal perbuata.

Pasalnya, di bulan Ramadhan ini jika umat Islam mampu berbuat seperti yang dikehendaki Allah, maka akan mendatangkan kekuatan dahsyat bagi dirinya maupun orang lain yang dibantunya. Hal itu terjadi karena bulan Ramadhan adalah bulan yang diberkati Allah Swt. sebagai bulan yang penuh ampunan. Sehingga umat muslim jangan sampai melewatkan begitu saja momen Ramadhan.

Semua umat muslim diharapkan menyebarkan perbuatan baik yang dapat membantu orang lain yang kesusahan. Di samping itu, segala perbuatan buruk dikurangi. Jika tidak mampu, setidaknya seorang muslim dapat menahan diri terlebih dulu, yang penting tindakannya tidak sampai menodai bulan suci.

Tidak hanya siang hari ketika melakukan puasa, menahan perbuatan juga dilakukan saat malam hari. Selama 30 hari penuh umat muslim harus membiasakan diri mengikuti suasana puasa. Agar setelah lewat bulan Ramadhan, seluruh umat Islam terbiasa melakukan aktivitasnya secara terjaga dengan baik sesuai saat dilakukannya di bulan Ramadhan.

Melihat realita yang terjadi di Indonesia, datangnya bulan Ramadhan dianggap sebagai berkah yang tak ternilai harganya di kalangan umat muslim. Banyak masyarakat Indonesia kebanyakan menyambut bulan suci itu dengan suka cita. Mereka berkeyakinan datangnya Ramadhan merupakan pertanda baik bagi kehidupan tidak hanya pemeluk ajaran Islam, melainkan seluruh manusia.

Meskipun harus menjalani aktivitas berpuasa, namun kondisi itu malah membuat masyarakat menjadi semakin tertantang untuk dapat menunaikannya. Pasalnya, di bulan ini muslim mendapatkan sebuah ujian nyata untuk bisa menahan diri dari segala godaan, baik merebut yang bukan miliknya sampai menahan kebutuhan seks.

Sebagaimana kita tahu, perbuatan merusak dan melanggar aturan sudah jamak dilakukan elite negeri ini. Mereka yang mendapatkan pendidikan tinggi dan memiliki intelektualitas yang tinggi pula bukan menjadi jaminan kelakuannya bisa terkontrol dan bersih. Karena lebih mementingkan keuntungan pribadi dan tergiur dengan segala kemewahan duniawi, perbuatan melanggar hukum dan agama terus dilakoni tanpa pernah memikirkan konsekuensi yang terjadi akibat perbuatannya.

Perbuatan korup yang sudah menggejala dan sangat parah di setiap lini kehidupan berbangsa membuat keadaan bangsa ini terus terpuruk. Bukannya berkurang, dari waktu ke waktu pelaku korupsi yang terungkap jumlahnya terus bertambah. Itu belum termasuk kasus korupsi yang menguap tak tahu rimbanya karena tak tersentuh pengadilan.

Anehnya, kebanyakan orang yang melakukan tindak korupsi itu orang berpendidikan, memegang jabatan penting, dan tahu aturan hukum. Meskipun begitu, bukan menjadi jaminan jika seseorang tidak melakukan korupsi. Nyatanya, sudah banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi setelah lama kasus itu tersimpan rapi.

Datangnya bulan suci ini diharapkan mampu memberikan pencerahan bagi setiap koruptor maupun orang yang akan melakukan korupsi untuk tidak lagi mengulangi dan menghentikan perbuatannya. Perilaku mencuri uang negara (korupsi) yang sudah sangat akut di negeri ini hingga sudah tidak terhitung lagi berapa pejabat penting negeri ini yang harus mendekam di penjara adalah contoh tindakan yang gemar merebut yang bukan miliknya.

Tindakan korupsi yang identik dengan segala bentuk perbuatan yang bersifat serakah dan menganggap semuanya milik pribadi adalah perbuatan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Substansi puasa yang mengajarkan setiap muslim untuk mampu menahan diri dari segala godaan seharusnya ditanggapi dengan semangat untuk bisa mengurang perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Di samping itu, relevansi sosial puasa yang menuntut setia muslim agar selalu mengingat orang lain harus diterjemahkan sebagai ungkapan bahwa korupsi bisa merugikan banyak orang. Karena Allah menyuruh setiap muslim yang berpuasa untuk menjunjung tinggi akhlak mulia, mengendalikan nafsu, menjaga perkataannya, dan tidak mengambil hak milik orang lain. Sehingga sudah seharusnya pelaku korupsi memaknai bulan suci ini sebagai bulan pertobatan.

Bulan Ramadhan yang mengondisikan seseorang untuk dalam perilaku baik dan selalu menjaga tindakannya seharusnya mampu membentuk seseorang sebagai individu positif yang selalu berada di jalan Allah Swt. Pasalnya, semua bagian tubuhnya akan terkendali dengan tidak membiarkannya melakukan perbuatan tercela.

Momen memelihara diri dari tindakan yang sesuai dengan jalur agama adalah dimulai dengan mengdendalikan nafsu untuk tidak merebut hak yang bukan milik kita. Membiasakan perbuatan menjaga diri bisa membentuk kepribadian kita menjadi lebih bersih.

Sehingga setelah selesai bulan Ramadhan, setiap orang yang akan melakukan perbuatan korupsi bisa dicegah, karena sudah terbentuk pemahaman bahwa korupsi bertentangan dengan ajaran Islam. Karena jika tidak, hati akan terus gelisah dan terkukung dalam penderitaan batin yang berkepanjangan.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM dan Aktivis Pers Kampus Bestari

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: