Bersihkan Senayan dari Koruptor

Selasa 23 September 2009 (Surabaya Pagi)

Banyak pihak dan kalangan yang berpendapat bahwa kantor anggota dewan menjadi surga tempat korupsi. Boleh saja pendapat itu dikatakan sebagai pernyataan tendensius. Namun, fakta tidak bisa dibantah jika banyak sekali anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terlibat kasus korupsi, baik secara individu maupun kelompok.

Kasus yang menimpa Al Amin Nasution adalah contoh betapa anggota dewan dengan sengaja memanfaatkan posisinya untuk memeras pihak lain demi mereguk keuntungan pribadi. Belum lagi kasus yang menimpa Bulyan Royan, Anthony Zeidra Abidin, dan Hamka Yamdhu yang sudah dijebloskan ke dalam penjara. Tentu itu adalah bukti bahwa banyak tindakan anggota dewan yang menyeleweng dari koridor hokum.

Belum tuntas kasus yang menimpa anggota dewan di atas, masyarakat kembali dikejutkan pengakuan Agus Condro. Sebagai mantan anggota dewan periode 1999-2004 dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Agus berkoar-koar dengan mengatakan bahwa banyak anggota dewan yang menerima cek perjalanan sebagai kompensasi atas terpilihnya Miranda S. Goeltom menjadi Deputi Gubernur Senior BI.

Tindakan Agus itu tentu patut direspon Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengusut dan menindaklanjuti kasus cek perjalanan itu agar bisa diketahui publik. Pasalnya, dari hasil data yang dirilis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), disebutkan bahwa ada beberapa anggota dewan yang mencairkan cek perjalanan. Meskipun ‘cuma’ 400 lembar, namun setiap lembar cek minimal bernilai Rp 50 juta. Sebuah nominal fantastis jika digunakan rakyat miskin negeri ini.

Belum lagi jika kita mengungkap kebobrokan anggota DPR lainnya yang tersandung kasus amoral, berkelahi sesama anggota dewan, hingga jarang masuk ke kantor adalah bukti tak terbantahkan yang makin menambah kejelekan perilaku anggota dewan. Sehingga masyarakat semakin paham dan yakin bahwa Senayan adalah sarang mafia dan koruptor. Pasalnya, dari waktu ke waktu makin bertambah banyak saja daftar hitam perbuatan anggota dewan yang memalukan, yang terungkap ke publik.

Dengan status tinggi, fasilitas serba mewah, dan gaji selangit, hal itu bukan jaminan bagi anggota DPR untuk hidup berkecukupan. Malahan, segala kemewahan duniawi yang sudah didapatkannya itu masih belum cukup. Karena itu, mereka masih merasa perlu untuk mencari sesuatu di luar peraturan resmi demi mereguk keuntungan pribadi.

Misalnya, memeras orang lain, memanfaatkan jabatannya agar pihak yang berkepentingan mau mengeluarkan dana untuk kepentingan pribadi anggota dewan, hingga harus terlibat kasus korupsi dengan berbagai modus operandi. Semua itu dilakukan anggota DPR karena mereka lebih memikirkan urusan pribadi dan golongan daripada harus memperjuangkan kepentingan rakyat banyak.

Sangat disayangkan jika perilaku pejabat dewan itu tidak segera diakhiri. Pasalnya perbuatan itu telah membawa dampak negatif luar biasa bagi kehidupan berbangsa. Di samping telah mengkhianati diri sendiri terkait amanah jabatan yang disandangnya, mereka juga telah berulangkali menyakiti hati rakyat yang seharusnya mereka perjuangkan aspirasinya.

Untuk itu, hanya ada satu cara agar citra anggota DPR bisa pulih di mata masyarakat, yaitu koruptor yang merangkap menjadi anggota dewan harus diseret ke pengadilan dan dihukum seberat-beratnya. Karena jika tidak, sulit mengharapkan kinerja anggota dewan bisa maksimal jika di dalam kantor masih berkeliaran tikus korup berdasi.

Sehingga dengan menyapu bersih anggota dewan yang terlibat kasus korupsi, citra Senayan bisa dipulihkan dan anggota dewan bisa bekerja semaksimal mungkin memperjuangkan segala tuntutan suara rakyat agar popularitasnya di mata rakyat naik.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM dan Aktivis Pers Koran Kampus Bestari

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: