Bertemunya Sarjana Mengganggur

Tuesday, 23 September 2008 (Surya)

Meskipun seseorang lulusan sebuah perguruan tinggi terkenal dengan nilai tinggi, namun tidak menjamin orang itu bisa langsung mendapatkan pekerjaan selepas kuliah.

Indonesia adalah negeri tempat pengangguran intelektual berkumpul. Anggapan itu benar adanya. Kondisi itu saya rasakan betul ketika ditunjuk pihak kampus untuk menjadi salah satu panitia kegiatan job fair (bursa kerja) yang diadakan Universitas Muhammadiyah Malang bulan lalu.

Saya menjadi ngeri melihat banyaknya pencari kerja di acara bursa kerja tersebut. Bayangkan, banyak sekali pengunjung yang sebagian besar lulusan S1 dan datang ke acara itu dengan satu tujuan, ingin mendapatkan pekerjaan. Saya miris membayangkan jika nanti hal itu menimpa saya ketika lulus dan mendapatkan gelar sarjana.

Cepat atau lambat seusai menempuh kuliah, saya pun pasti akan menghadapi kenyataan saat memasuki dunia kerja yang persaingannya keras. Sehingga tak salah meskipun sudah mendapatkan gelar sarjana, tetapi hal itu bukan jaminan bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan.

Acara bursa kerja seolah menjadi magnet yang mampu menarik banyak pengangguran intelektual untuk datang berkumpul dengan bersama-sama mencari pekerjaan. Pengunjung yang mencapai ribuan berkompetisi dengan pengunjung lainnya untuk mencari lowongan kerja di setiap gerai perusahaan yang sedang mencari karyawan dan berharap mendapatkan pekerjaan. Tak hanya dari wilayah Malang, banyak juga pengunjung dari luar provinsi Jawa Timur dan bahkan luar pulau.

Berbekal surat lamaran dan ijazah di tangan, mereka berbondong-bondong datang melihat-lihat lowongan pekerjaan yang di tempel di setiap gerai perusahaan. Melihat kejadian itu teman panitia lainnya sempat bercanda dan berujar bahwa acara bursa kerja seolah menjadi ajang berkumpulnya sarjana pengangguran.

Ternyata meskipun seseorang lulusan sebuah perguruan tinggi (PT) terkenal dengan nilai tinggi, namun tidak menjamin orang itu bisa langsung mendapatkan pekerjaan selepas kuliah. Misalnya, ada job seekers (pencari kerja) alumnus sebuah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yang masih menganggur, padahal sudah hampir tiga tahun dia meraih gelar sarjana.

Sebuah fakta mencengangkan. Bisa jadi karena terlalu pilih-pilih pekerjaan atau memang belum pernah lolos dalam seleksi pekerjaan. Tetapi satu yang pasti, mereka datang ke bursa kerja dengan mengusung harapan tinggi untuk mendapatkan pekerjaan.

Melihat realita secara langsung ini sempat terbersit kritik untuk pemerintah maupun PT asal pengangguran intelektual tersebut dulu mengenyam bangku kuliah. Pemerintah seharusnya menyediakan lapangan pekerjaan yang banyak sehingga pengangguran intelektual dapat berkurang.

Sebagai tempat menimba ilmu seharusnya PT tidak lepas tangan ketika mahasiswanya sudah lulus dan belum mendapatkan pekerjaan, tetapi harus ikut bertanggung jawab jika lulusannya banyak yang menganggur. Jangan setelah lulus kuliah dan diwisuda PT lepas tangan dan merasa itu bukan tanggung jawabnya lagi.

Oleh

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: