Bangkit Melalui Pendidikan

Kamis 8 Oktober 2008 (Jurnas)

Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang dikarunia sumber daya alam (SDA) berlimpah. Sayangnya, segala potensi yang ada tersebut tidak menjamin bangsa ini bisa makmur dan rakyatnya hidup sejahtera. Banyaknya masalah yang harus dihadapi bangsa ini membuat keadaan rakyatnya tidak kunjung bisa menikmati kehidupan sebagaimana yang diamanatkan konstitusi.

Memang sejak merdeka hingga sekarang, banyak sekali pencapaian yang mampu diukir bangsa Indonesia. Sayangnya, segala pencapaian tersebut masih jauh dari kata baik. Karena terbukti sebagian besar rakyat Indonesia hidupnya tergolong miskin dengan tingkat pendidikan rendah.

Krisis multidimensi yang melanda Tanah Air ini periode 1998 adalah puncak dari keterpurukan bangsa Indonesia. Betapa tidak, krisis yang melanda Indonesia itu berhasil memporak-porandakan sektor ekonomi yang berdampak pada melambungnya harga kebutuhan pokok karena karena pendapatannya yang tergerus inflasi.

Kondisi itu membuat kualitas hidup penduduk Indonesia menurun dan dibarengi dengan makin tidak terjangkaunya akses pendidikan oleh penduduk miskin. Dampaknya, masyarakat Indonesia terbelenggu dalam lingkaran setan, yaitu kemiskinan dan kebodohan.

Menyikapi hal itu, pemerintah yang diharapkan menjadi dewa penolong dan pihak yang paling bertanggungjawab dalam mengatasi permasalahan itu ternyata tidak bisa berbuat banyak.

Tengok saja anggaran pendidikan yang menurut Undang-Undang Dasar 1945 harusnya dianggarkan sebesar 20 persen total belanja negara, baru tahun 2009 direalisasikan. Padahal angka sebesar 20 persen tersebut merupakan amanat konstitusi sejak bangsa Indonesia meredeka, yang harus dipenuhi sebagai perwujudan mengatasi problem yang membelit negeri ini.

Pasalnya kemiskinan dan kebodohan yang menjadi masalah terbesar Indonesia hanya bisa diselesaikan jika penduduknya memdapatkan akses untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi. Sehingga disangsikan jika kondisi bangsa ini bisa keluar dari keterpurukan jika kebijakan pemerintah tidak prorakyat. Padahal banyak kalangan yakin jika pemerintah mempunyai political will untuk mengutamakan pendidikan, bangsa Indonesia bisa keluar dari jeratan kemiskinan dan kebodohan.

Di tengah kemeriahan hari Kemenangan Idul Fitri 1429 H, dan suasana peringatan seabad Kebangkitan Nasional, serta hari Kemerdekaan RI ke-63, saatnya bangsa ini untuk bangkit. Saatnya bagi Indonesia untuk bisa mewujudkan diri menciptakan civil society (masyarakat madani) sesuai yang dicita-citakan pendiri negeri ini.

Untuk mencapai kondisi ideal itu syaratnya hanya satu, yakni pendidikan harus diutamakan sebagai modal membangun negeri ini. Jika itu bisa diciptakan, Indonesia bisa berkibar dan bangkit dari keterpurukan.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: