KPU Menciderai Hati Rakyat

Senin 29 September 2008 (Surabaya Pagi)

Masyarakat Indonesia baru-baru ini mendapatkan kabar kurang mengenakkan mengenai kengototan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang ingin mendelegasikan anggotanya untuk berangkat ke luar negeri menyosialisasikan agenda seputar pemilihan umum (pemilu) 2009. Tindakan KPU yang ingin mengunjungi Warga Negara Indonesia (WNI) itu bisa dikatakan aneh dan kurang bisa dipertanggungjawabkan, baik dari segi manfaat maupun hasil.

Pasalnya, urgensi yang akan dikerjakan KPU itu tidak sebanding dengan pembiayaan yang harus dikeluarkan untuk pembiayaan dua anggota KPU yang ingin melakukan sosialisasi kepada WNI di luar negeri yang akan dikunjungi. Padahal masih banyak pekerjaan lainnya yang menumpuk dan lebih mendesak untuk diselesaikan daripada sibuk memikirkan rangkaian perjalanan ke luar negeri

Apa yang dilakukan KPU tersebut merupakan realita gambaran elite negara yang semakin tidak peduli dengan aspirasi rakyatnya. Memang KPU boleh berkilah bahwa itu adalah salah satu program kerja yang musti direalisasikan, dan WNI di luar negeri juga mempunyai hak untuk diperhatikan dan mendapatkan sosialisasi teknis pelaksanaan pemilu 2009 nanti.

Namun, apakah tindakan lawatan ke berbagai negara untuk itu harus mendapat skala prioritas tinggi hingga tidak bisa ditinggalkan. Pasalnya, jika kita melihat masih banyaknya masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan sosialisasi secara baik dari KPU. Tentu program ke luar negeri itu bukan merupakan langkah tepat dan bijak.

Sehingga jangan salahkan masyarakat jika menganggap tindakan KPU itu hanya sebatas keliling dunia alias berpariwisata. Tidak lebih! Tindakan itu jelas merupakan sebuah bentuk tindakan yang seenaknya dewe (semaunya sendiri) yang dilakukan KPU tanpa pernah mau mendengarkan aspirasi rakyat.

Apalagi mereka menggunakan pos anggaran sosialisasi pemilu. Padahal pos anggaran itu pernah dikeluhkan KPU karena sulit dicairkan. Sehingga sangat aneh jika apa yang dulu dikeluhkan ternyata dana alokasi itu malah digunakan untuk nglencer.

Padahal jika kita melihat kinerja KPU hingga saat ini, mereka masih mempunyai tanggungan pekerjaan yang belum kelar dan itu lebih mendesak untuk diselesaikan, yaitu persoalan daftar pemilih sementara dan calon legislator (caleg) sementara yang masih belum tuntas. Karena itu, sudah sewajarnya jika KPU tidak usah memaksakan kehendak untuk road show ke luar negeri, sementara pekerjaan rumahnya masih banyak.

Mengapa harus menempuh perjalanan jauh hingga ke Afrika Selatan (Afsel) hanya untuk menemui 52 WNI, sementara sosialisasi dalam negeri juga belum berjalan baik. Apalagi sampai mengunjungi 14 kota di lima benua. Jelas itu sangat tidak efektif dan sebanding dengan pembiayaan negara yang harus dikeluarkan, karena ini menyangkut uang rakyat. Untuk itu, lebih baik jika alokasi dana itu digunakan untuk pos lainnya yang dirasa lebih bermanfaat bagi terciptanya kesuksesan pemilu 2009.

Di tengah masyarakat yang hidupnya makin terhimpit karena semua harga kebutuhan pokok naik secara gila-gilaan hingga banyak masyarakat yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhanny sehari-hari. Eh, di sisi lain KPU malah dengan seenaknya sendiri mau menghambur-hamburkan uang negara dari pajak rakyat tersebut demi kepentingan perjalanan ke luar negeri. Karena itu, wajar jika sosialisasi ke luar negeri itu mending dibatalkan daripada mengundang polemik yang lebih besar lagi dan mendatangkan kecaman yang lebih luas lagi dari masyarakat.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III UMM, Jl. Raya Tlogomas No.246 Malang 65144

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: