(Sementara) Harga Elpiji Tidak Naik

Senin 6 Oktober 2008 (Surabaya Pagi)

Program konversi bahan bakar yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat dengan mengganti minyak tanah menjadi elpiji dapat dikatakan berjalan dengan baik. Meskipun ada beberapa kendala yang terjadi di lapangan, namun dapat dikatakan program pengalihan bahan bakar itu sukses.

Tujuan konversi itu sendiri adalah untuk menghemat anggaran yang harus dikeluarkan pemerintah untuk menyubsidi minyak tanah. Dengan mengganti dengan elpiji, setidaknya pemerintah tidak terlalu mengeluarkan dana banyak karena gas alam yang dipunyai Indonesia melimpah.

Sayangnya, keberhasilan pemerintah ‘menggiring’ rakyatnya untuk beralih memakai elpiji sebagai bahan bakar mengundang masalah baru. Hal itu terjadi karena beberapa waktu lalu Pertamina berencana menaikkan harga elipiji setiap bulan hingga mencapai harga keseimbangan sesuai dengan harga di pasar internasional. Tentu kondisi itu membuat shok masyarakat dan berimbas pada sulitnya masyarakat bawah untuk mendapatkan elpiji. Di samping itu, harga elpiji di pasaran langsung melonjak tak terkendali.

Belum cukup sampai disitu, elpiji tabung ukuran 12 kg menjadi sulit diperoleh. Sementara, tabung ukuran 3 kg yang selama ini digunakan rakyat kalangan bawah yang menjadi bagian program konversi dan mendapatkan subsidi paling besar dari pemerintah juga makin langka.
Tak ayal kondisi itu membuat penderitaan yang selama ini sudah susah menjadi semakin berat. Sungguh aneh kebijakan yang dilakukan Pertamina selaku institusi yang mempunyai otoritas untuk menentukan harga jual elpiji. Pasalnya, kebijakan itu berdampak tidak baik bagi masyarakat Indonesia, baik secara psikis maupun sosial.

Apalagi kenaikan itu dilakukan tepat menjelang bulan Ramadhan, di mana ketika hampir semua barang kebutahan pokok melonjak. Karena itu, wajar jika masyarakat Indonesia menjadi menjerit dan merasa menjadi korban kebijakan segelintir elite pemerintah yang hanya memikirkan segala sesuatunya dari unsur bisnis semata.

Untungnya, kebijakan Pertamina itu langsung direvisi pemerintah. Pertamina pun dimintai pertanggungjawaban atas kebijakan tidak populis yang memberatkan rakyat itu. Meskipun begitu, masyarakat sudah kadung kelimpungan kesulitan mendapatkan pasokan elpiji, di samping harus mendapati kenyataan bahwa harga elpiji tetap naik sebesar Rp500 per kg sejak Senin (25/8), yang sudah tidak bisa dianulir pemerintah.

Karena itu, kondisi di lapangan sempat kacau dan harga elpiji meningkat drastis di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang diberlakukan Pertamina. Di samping itu, banyak konsumen yang sudah terlanjur dan beralih menggunakan elpiji tabung ukuran ke 3 kg dari elpiji 12 kg. Sehingga HET elpiji 3 kg yang dipatok sebesar Rp12.750 melonjak drastis hingga kisaran 17 ribu, karena permintaan meningkat tanpa ada penambahan jumlah stok.

Menyikapi kasus itu, ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam hati saya, yaitu mengapa Pertamina dengan seenaknya sendiri menaikkan harga elpiji dengan memakai standar harga elpiji di pasar internasional. Karena sudah pasti jika Pertamina harus memakai patokan harga di pasaran internasional, banyak masyarakat yang akhirnya merasa berat dan bahkan tidak sanggup membeli elpiji. Sehingga tidak tepat jika patokan harga internasional diberlakukan kepada masyarakat mengingat kemampuan daya beli rakyat Indonesia yang sedang lesu.

Memang sekarang harga elpiji tidak jadi naik hingga setara harga pasaran internasional, dan pemerintah juga sudah berjanji bahwa sampai 2009 harga elpiji tidak naik. Namun sampai kapan penundaan kenaikan itu bisa dicegah pemerintah dan apakah kabar itu juga sudah mampu menenangkan kegelisahan hati rakyat yang selama ini sudah cukup menderita akibat himpitan hidup yang makin keras.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: