Urbanisasi Akibat Disparitas Pembangunan

Selasa 14 Oktober 2008 (Duta Masyarakat)

Jika kita mengikuti pemberitaan di media massa (cetak maupun elektronik) tentang fenomena urbanisasi di kota besar macam Jakarta maupun Surabaya pasti kita akan dibuat tercengang dengan munculnya jumlah pendatang yang berasal dari luar kota jumlahnya meningkat pesat dibanding saat mereka meninggalkan kota besar

Hal itu terjadi karena urbanisasi memang tidak bisa dicegah dan terus terjadi setiap tahunnya. Urbanisasi yang secara umum didefinisikan sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota dalam jumlah banyak selalu terjadi pascalebaran.

Tengok saja tempat kedatangan penumpang pascalebaran seperti Pasar Senen di Jakarta atau Pasar Turi di Surabaya yang selalu kedatangan pemudik yang balik dari kampungnya, yang jumlahnya membludak dan jauh melebihi perkiraan yang dibuat pemerintah daerah setempat.

Jika seseorang ketika mudik sendirian, maka setibanya kembali di kota besar pascalebaran dia tidak sendiri melainkan mengajak saudara maupun tetangga desanya untuk berjuang mengadu nasib di kota besar. Iming-iming cerita bahwa di Jakarta dan Surabaya mudah mendapatkan pekerjaan membuat banyak warga desa yang akhirnya nekat pergi ke kota meskipun tanpa modal ketrampilan memadai. Ibaratnya kota besar itu seperti gula yang dirubung semut.

Banyaknya gedung pencakar langit yang jumlahnya terus bertambah di berbagai kota besar menjadi daya tarik tersendiri bagi warga desa untuk datang ke kota besar. Sementara, di sisi lain pembangunan pedesaan yang dilakukan pemerintah terkesan jalan di tempat dan tidak menimbulkan dampak positif yang dapat dirasakan membuat banyak warga desa yang akhirnya harus merantau ke kota.

Faktor kemiskinan dan pembangunan yang njomplang antara desa dan kota membuat banyak penduduk desa akhirnya merantau ke kota. Ditambah tidak tersedianya lapangan pekerjaan selain hanya menjadi petani menyebabkan banyak pemuda desa berbondong-bondong datang dengan ke ibu kota dengan harapan tinggi memperolah pekerjaan layak. Padahal, hidup di kota besar malah membutuhkan perjuangan lebih keras agar bisa tetap survive. Sehingga banyak pendatang yang akhirnya hanya menjadi pengangguran dan gelandangan.

Menyikapi kondisi itu sudah seharusnya pemerintah turun tangan karena masalah urbanisasi adalah masalah nasional. Pasalnya, dampak yang ditimbulkan urbanisasi sangat kompleks dan menciptakan problem sosial baru. Karena penambahan penduduk secara signifikan dalam tempo singkat tentu menyebabkan ketimpangan karena tidak dibarengi dengan lapangan pekerjaan dan tempat tinggal yang cukup.

Yang mesti dilakukan pemerintah adalah dengan semakin memperpendek jurang pembangunan antara desa dengan kota besar. Penduduk desa tidak akan datang ke Jakarta maupun Surabaya jika di daerahnya sudah tersedia lapangan kerja yang layak dan mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena itu, hanya dengan semakin memperpendek jurang pembangunan desa dan kota urbanisasi dapat diatasi.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: