Laskar Jempolan dari Pedalaman

Thursday, 16 October 2008 (Surya)

Sudah sangat lama dunia perfilman Indonesia tidak memunculkan film berkualitas, hingga akhirnya muncul Laskar Pelangi. Film yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata tersebut menyedot perhatian masyarakat Indonesia.

Buktinya, 10 hari pertama setelah diluncurkan mampu menyedot sejuta penonton lebih. Kondisi itu bahkan sampai membuat sang produser, Mira Lesmana, tidak percaya dengan jumlah penonton yang telah melihat film yang bergenre pendidikan itu.
Padahal sebagai film yang notabene tidak mengikuti mainstream yang sedang laku tentu tidak ada yang memprediksi film ini bisa mendulang sukses besar. Selama ini film yang diputar di bioskop dan sukses diterima masyarakat sebagian besar berkisah seputar dunia percintaan, misteri atau horor, dan komedi. Jika ada produser yang nekat bikin film di luar genre itu pasti bakal bangkrut karena tak laku.

Namun, kehadiran Laskar Pelangi mampu mematahkan mitos film tentang dunia pendidikan tak laku. Apakah itu berarti masyarakat Indonesia sudah jenuh dengan film yang bertemakan itu-itu saja atau memang masyarakat butuh sebuah film yang isinya berkualitas dan mencerdaskan.

Jika kita sudah menonton film Laskar Pelangi di bioskop pasti kita terbawa ke dalam alur cerita dan tanpa disadari telah terhanyut dalam suasana dalam film tersebut. Saya sendiri telah mengalaminya. Hal itu terjadi karena menurut saya film itu mampu menyuguhkan sebuah alur cerita yang logis dan mencerahkan pikiran.

Film yang mengisahkan perjuangan sepuluh murid yang sekolah di SD Muhammadiyah di daerah pedalaman Belitong, yang mempunyai tekad kuat untuk tetap belajar itu sungguh menginspirasi. Ditambah dengan perjuangan Ibu Guru Muslimah yang membimbing anak didiknya agar bisa memahami proses belajar mengajar, walaupun sekolahnya seperti seperti kandang hewan yang hampir rubuh.

Itu bentuk sempurna pengabdian seorang guru yang bisa dijadikan teladan. Dia mengajar bukan atas dasar materi, melainkan murni pengabdian demi memberikan transfer ilmu kepada murid.

Di sisi lain, yang membuat film itu patut dikagumi adalah isinya yang sangat jujur dan tidak dibuat-buat sebab diperankan langsung anak kecil dari desa Belitong sendiri.

Tidak seperti film kebanyakan yang menampilkan banyak kisah yang di luar realita dan bertabrakan dengan logika, serta akting pemainnya yang terkesan dipaksakan. Tak salah kan jika saya menyebut Laskar Pelangi memang berkualitas.

Oleh

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Koran Kampus Bestari UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: