Awas! Koruptor Berlagak Pikun

Senin 3 November 2008 (Surabaya Pagi)

Membicarakan masalah yang berkaitan dengan korupsi, baik itu pelakunya maupun hasil perbuatan korupsinya tak akan ada hentinya,. Pasalnya di Indonesia tindakan mengorupsi uang negara sudah menjadi barang umum yang banyak dilakukan elite pejabat.

Lihat saja faktanya, berita mengenai koruptor tak ada habisnya diekspose media massa. Hal yang sama juga terjadi di masyarakat. Banyak sekali obrolan masyarakat yang merasa geregetan dengan tingkah laku pejabat tinggi yang gemar menguras kekayaan negara untuk dinikmati sendiri maupun golongannya.

Banyaknya koruptor yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tidak membuat jumlahnya semakin sedikit, malahan makin banyak koruptor yang terseret untuk ikut diperika. Hal itu terjadi karena dari berbagai modus operandi korupsi yang dilakukan petinggi pejabat negara, kebanyakan pelakunya tidak melakukan korupsi seorang diri, melainkan dilakukan dan dibantu banyak orang dengan sistem saling bersekongkol agar dikemudian hari dapat saling melindungi jika perbuatannya ketahuan.

Namun, sepandai-pandainya koruptor menyembunyikan perbuatan busuknya pasti terbongkar juga oleh aparat. Seperti yang jamak dijumpai masyarakat jika ada pelaku korupsi yang ditangkap KPK, biasanya akan ada tersangka lainnya yang akan menyusul ditangkap.

Hal itu karena pelaku korupsi yang pertama ditangkap KPK akan akan ’menyanyi’ dan menyebut teman lainnya yang ikut menikmati hasil uang korupsi. Sudah barang tentu tindakan ’nyokot’ teman itu akan berdampak pada ditangkapnya pelaku lainnya yang sebelum itu masih bebas berkeliaran.

Untuk itu, gebrakan KPK yang terus membongkar tindakan korupsi pejabat perlu diberikan apresiasi khusus. Banyaknya pelaku korupsi yang sudah berhasil ditangkap KPK membuktikan bahwa sebagian besar perilaku korupsi dilakukan secara ’berjamaah’ dan hasilnya dinikmati ramai-ramai.

Faktanya ketika tertangkap, banyak koruptor yang saling berlindung mencari selamat diri dengan berusaha melemparkan kesalahan ke orang lain dan tidak langsung mengakui perbuatannya. Sayang sekali, moral pejabat kita yang tidak segan berbuat korup dengan menikmati uang negara secara ilegal, namun tidak mau menanggung resiko akibat perbuatannya.

Payahnya, setelah tertangkap kebanyakan para koruptor itu berbelit-belit dalam memberikan kesaksian kepada aparat berwajib. Bahkan ada yang berlagak bloon dengan tidak mau mengakui perbuatannya. Kasus travelers cheque (cek perjalanan) senilai masing-masing Rp 50 juta sehubungan dengan pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Swaray Goeltom pada 2004, yang melibatkan 41 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 1999-2004 adalah buktinya.

Sebagaimana kita tahu, kesaksian Agus Condro yang mengatakan bahwa koleganya -baik dari partai lain maupun satu partai—yang menerima dan ikut menikmati pencairan dana skandal cek itu dapat dikatakan menggelikan. Pasalnya, meskipun sudah jelas terlibat dengan disertai bukti, dan ditambah dengan pengakuan Agus Condro sendiri yang ikut menikmati pencairan, masih ada juga anggota dewan yang membantah telah menerima uang suap, salah satunya adalah Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo.

Bahkan, Tjahjo dengan tegas membantah pernyataan Agus Condro. Malahan, dia menuding Agus Condro berusaha mencemarkan nama baiknya dan cuma ingin meraih popularitas belaka. Aneh memang, tetapi itulah kenyataannya bahwa banyak pejabat yang mendadak menjadi bodoh ketika namanya disebut terlibat korupsi, serta sampai membantah habis-habisan.

Padahal hasil penelusuran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), ditemukan bukti bahwa sudah 400 lebih cek berkaitan dengan pemilihan Miranda Goeltom yang sudah dicairkan pemiliknya, yang tak lain dan tak bukan adalah anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR periode 1999-2004 itu sendiri.

Contoh peristiwa pejabat pikun juga terjadi pada kasus persidangan Jaksa urip Tri Gunawan, yang ketika ditanya hakim mengatakan tidak ingat dengan percakapannya dia dengan Artalyta Suryani, yang bersekongkol ingin mengelabui hakim dengan memberikan keterangan palsu.

Padahal dari rekaman pembicaraan yang diputarkan di pengadilan sudah jelas jika Jaksa Urip Tri Gunawan terlibat praktik jual beli hukum dan menerima suap dari Artalyta Suryani. Karena itu, sangat memalukan jika sudah melanggar hukum, pelaku korupsi masih saja terus berbohong tidak mengakui perbuatannya. Apalagi sampai mendadak tidak ingat dengan suaranya sendiri seperti yang dilakukan Jaksa Urip. Pasalnya, hal itu sama saja menandakan bahwa moral yang bersangkutan sudah diambang titik batas terendah.

Erik Purnama Putra

Reporter Koran Kampus Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: