Pemimpin Harus Bisa Menjadi Teladan

Minggu 2 November 2008 (Malang Post)

Umat Islam memang sudah merayakan hari Kemenangan seusai menjalani puasa Ramadhan, dan seluruh muslim merayakannya dengan penuh suka cita. Semua tradisi itu mencerminkan bahwa tidak ada umat Islam yang ingin melewatkan momen terindah dalam ajaran agama, yang terjadi setahun sekali tersebut.

Pasalnya, di hari Kemenangan semua muslim saling bermaaf-maafan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk menghapus dosanya dengan cara bersalaman. Hal itu mencerminkan bahwa di kalangan umat Islam saling mengedepankan rasa persaudaraan demi menghindari timbulnya perpecahan yang bisa saling mengkotak-kotakkan mereka.

Faktanya, tanpa embel-embel dan maksud tersembunyi seluruh umat Islam saling memberikan maaf kepada saudaranya yang memang ingin berminta maaf. Bisa dengan datang bersilaturahmi ketemu langsung maupun melalui perantara jika memang tidak memungkinkan.

Satu yang pasti, semua itu dilakukan tanpa ada prasangka dan dilandasi hati tulus ikhlas saling memberi maaf. Karena itu, sangat mulai dan indah ajaran Islam yang dibuktikan tidak adanya muslim yang sampai menutup diri ketika ada saudara maupun tetangganya yang ingin bermaafan ketika momen Lebaran tiba. Karena semuanya secara terbuka dengan penuh toleran bisa memberikan maaf kepada orang lain secara terbuka.

Sayangnya, kondisi yang serba ideal tersebut tidak terjadi di lingkungan elite pejabat, terutama pemimpin negara. Meskipun ada diantara mereka yang saling mengucapkan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia hingga mengadakan open house khusus di rumah masing-masing, namun ternyata perilaku yang ditampakkan belum sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam.

Seperti kasus Susilo Bambang Yudhoyono dengan mantan presiden Megawati yang hingga sekarang belum terjalin silaturahmi. Jangankan duduk berdampingan, untuk saling bertegur sapa pun mereka masih belum bisa melakukannya. Kondisi itu jelas menggambarkan buruknya hubungan di antara presiden sekarang dengan mantan presiden.

Sudah jamak diketahui jika orang yang pernah menjadi pemimpin negeri ini yang masih hidup semuanya tidak memiliki relathionship harmonis satu sama lainnya. SBY memiliki hubungan yang kurang baik dengan pendahulunya, Megawati. Begitu juga Megawati yang kurang akur dengan Gus Dur. B.J. Habibie yang digantikan Gus Dur juga memiliki hubungan yang tidak dapat dikatakan baik. Bahkan, Soeharto dan Soekarno tidak pernah saling bertemu dan sangat buruk hubungannya.

Semua fakta sejarah itu jelas menjadi preseden buruk bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya, sebagai pemimpin sudah seyogyanya mereka untuk tidak terlalu mengedepankan egonya dan tidak pernah berusaha memperbaiki hubungan dengan penerus jabatannya. Meskipun menjadi rival, hal itu tidak sepatutnya membuat pemimpin dan mantan pemimpin negara untuk tidak berhubungan lagi. Karena akan menimbulkan dampak kurang bagus bagi perjalanan bangsa Indonesia.

Karena itu, di tengah suasana Lebaran yang masih berlangsung sudah saatnya bagi SBY, Megawati, Gus Dur, maupun B.J. Habibie untuk bisa duduk berdampingan dan saling memberikan maaf kepada yang lainnya. Pasalnya, agama Islam mengajarkan bahwa memberi maaf kepada sesama adalah perbuatan mulia yang sangat dianjurkan Allah Swt. untuk dikerjakan seluruh umat Islam di dunia.

Walaupun berat untuk dilakukan, namun jika kita termasuk golongan orang yang mau memberi maaf dan memperbaiki tali silaturahmi sama saja kita termasuk golongan orang yang diridloi Allah Swt. Sehingga tidak ada alasan bagi para mantan dan pemimpin negara itu untuk terus tidak memperbaiki hubungannya antara satu dengan lainnya.

Karena jika terus berlanjut sampai nanti tentu hal itu bisa mendatangkan kritik dari masyarakat Indonesia. Pasalnya, sebagai orang besar dan duduk di lingkungan tinggi yang menjadi pemimpin mereka sudah seharusnya tidak lupa diri dan memberi contoh kepada rakyatnya dengan saling memberikan maaf kepada politikus lawan mainnya. Sehingga dengan memberi contoh perilaku baik, pemimpin bisa menjadi teladan bagi rakyatnya.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi dan Reporter Koran Kampus Bestari Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: