Produk Dalam Negeri

Selasa 11 November 2008 (Jurnal Nasional)

Perayaan Sumpah Pemuda memang sudah berlalu. Namun seyogyanya sebagai bagian generasi penerus bangsa kita tidak boleh luntur akan semangat Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada 28 Oktober 1928 silam. Terwujudnya Sumpah Pemuda hasil kesepakatan pemuda dari beragam latar belakang suku, agama, dan golongan, adalah sejarah bagus yang patut diteladani pemuda masa kini.

Pemuda tempo dulu mewujudkan rasa kebanggaan kebangsaan Indonesia dengan mengungkapkannya pada makna yang terkandung dalam Sumpah Pemuda. Berselang delapan dasawarsa, kebanggaan berbangsa itu menurun dan nasionalisme generasi sekarang sudah mulai terkikis. Terlihat dari fakta semakin merosotnya rasa bangga terhadap bangsanya sendiri jika ditinjau dari berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Buktinya, soal selera makan saja harus mengikuti trend yang berkembang dengan mengonsumsi makanan branded dan harus bercitarasa internasional. Jika tidak makan di cafe atau restoran mewah, generasi sekarang merasa kurang percaya diri. Karena itu, tempe dan makanan tradisional lainnya dianggap sebagai makanan tidak berkelas. Sehingga hanya dengan makan di Mc Donald dan Pizza Hut menjadi keharusan untuk dilakukan agar merasa lebih gaul dan kelas sosialnya bisa naik.

Belum lagi masalah pakaian, dan segala kebutuhan hidup yang harus selalu dipenuhi dengan embel-embel bermerk. Semua itu membuat pemuda sekarang terjebak dalam mainstream kapitalisme global yang digencarkan negara barat. Walaupun hidup dengan budaya ketimuran, nyatanya pemuda saat ini lebih menunjukkan identitas sebagai pemuda modern dengan segala yang melekat di tubuhnya yang menunjukkan bahwa semuanya kelihatan produk asing.

Ada ungkapan menarik yang dilontarkan Budayawan Butet Kertaredjasa, terkait sikap masyarakat (pemuda) Indonesia saat ini jika dikaitkan dengan kasus krisis perekonomian global saat ini. Menurutnya, nasionalisme pemuda belakangan ini malah menjerumuskan kondisi bangsa ini. Karena dari berbagai hal sepele dalam perspektif budaya, life style (gaya hidup), hingga pemenuhan kebutuhan perut, sebagian besar generasi sekarang lebih mendewakan unsur kemewahan daripada asas manfaat. Dan mayoritas lebih memilih segala hasil dari buatan luar negeri.

Karena itu, ketika AS terkena resesi dan perekonomiannya ambruk, Indonesia yang letaknya dibelahan benua lain ikut terseret dalam lingkaran krisis ekonomi. Hal tersebut terjadi karena banyak pemuda Indonesia yang tergantung dengan produk buatan barat (AS dan Uni Eropa). Belajar dari Iran, di mana semangat mencintai produk dalam negeri sangat kuat dan tertanam dalam benak setiap masyarakatnya membuat krisis global tidak terlalu berpengaruh terjahadap perekonomian dalam negerinya. Seandainya pemuda Indonesia lebih mencintai produksi sendiri, negara Indonesia pasti tidak akan terkena dampak negatif domino perekonomi global.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Gedung Student Center lt.1 Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: