Bung Tomo dan Pahlawan Nasional

Citizen Journalism, Sabtu 15 November 2008 (Surabaya Post)bung-tomo1

Setiap 10 November, bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Pahlawan. Penetapan Hari Pahlawan diperingati berdasarkan peristiwa 10 November 1945, di mana terjadi pertempuran dahsyat antara pejuang Indonesia yang dipimpin Bung Tomo melawan tentara sekutu dan NICA yang diboncengi Belanda.

Setelah merdeka 17 Agustus 1945, kedatangan Belanda di Surabaya yang ingin menduduki kota tersebut memancing amarah rakyat Indonesia. Tidak mau kotanya dikuasai Belanda, Soetomo –nama asli Bung Tomo—mengajak segenap rakyat Indonesia berjuang melawan agresi militer Belanda agar tidak menginjakkan kakinya di Surabaya..

Aksi heroiknya yang dengan gagah berani berperang melawan Belanda dengan membakar semangat arek-arek Suroboyo membuatnya dikenal sebagai salah satu pejuang kemerdekaan. Keberhasilannya memukul mundur tentara Belanda dari Surabaya membuatnya menjadi sosok penting yang memiliki jasa besar dan tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia.

Setelah Bung Tomo meninggal pada 7 Oktober 1981, pemerintah Orde Baru tidak juga ada keinginan mengangkat Soetomo menjadi pahlawan nasional. Padahal, setiap peringatan Hari Pahlawan selalu diidentikkan dengan nama Bung Tomo. Sehingga sangat aneh dan terkesan naif ketika pemerintah berganti penguasa, namun tetap tidak ada yang memberikan penghargaan Pahlawan Nasional atas jasa yang pengorbanan Bung Tomo.

Padahal dalam buku sejarah resmi berdasarkan kurikulum Depdiknas, peristiwa peperangan 10 November 1945 tertulis dan diajarkan kepada murid sekolah, disertai juga dengan foto Bung Tomo yang terlihat membakar semangat rakyat Indonesia. Di samping itu, masyarakat juga sudah paham jika nama Bung Tomo begitu melegenda dan terkait langsung dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, sangat aneh jika nama Bung Tomo tidak juga mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah berkuasa.

Memang ada prosedur khusus yang harus dilalui secara resmi sehingga seseorang dapat diberikan gelar sebagai Pahlawan Nasional. Sayangnya, butuh waktu 27 tahun bagi Bung Tomo untuk mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah. Dan selama itu pula, nama Bung Tomo selalu terlewatkan begitu saja tanpa bisa dijelaskan penyebabnya oleh pemerintah mengapa tidak segera menganugrahi gelar Pahlawan Nasional.

Untungnya, setelah empat tahun memimpin negeri ini, pada era SBY akhirnya memberikan pengakuan terhadap eksistensi Bung Tomo sebagai pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberinya gelar Pahlawan Nasional (7/11). Soetomo tidak sendiri, mantan Perdana Menteri Republik Indonesia Mohammad Natsir dan anggota Panitia Pembelaan Tanah Air Abdul Halim juga diberi gelar Pahlawan Nasional.

Menyikapi tindakan pemerintah tersebut, kita tentu patut bersyukur karena akhirnya Bung Tomo yang banyak mengukir jasa bagi bangsa Indonesia akhirnya mendapatkan pengakuan dari pemerintah. Sehingga peristiwa itu itu harus dijadikan pelajaran bagi bangsa Indonesia ke depan. Jangan sampai kita mewarisi kepada generasi selanjutnya sebuah catatan sejarah kurang baik dengan kurang menghargai jasa para pahlawannya. Karena itu, semoga kejadian yang menimpa Bung Tomo tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Dan bangsa Indonesia bisa bersikap lebih bijaksana dalam menghargai jasa para pahlawannya.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: