Iklan Politik Menyesatkan

Suara Konsumen, Jumat 14 november 2008 (Surabaya Post)iklan-politik

Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 kurang beberapa bulan lagi, tetapi genderang kampanye sudah banyak dilakukan partai beserta calon presiden (capres) yang bakal diusungnya.

Dari beberapa capres yang sudah menyatakan dirinya bakal maju dalam pemilu 2009, nama Wiranto dan Prabowo Subianto adalah dua tokoh yang sudah ambil start duluan dan gencar berkampanye di media massa (cetak maupun elektronik).

Dengan strategi iklan yang ditampilkan di televisi, kedua tokoh mantan petinggi militer tersebut namanya semakin akrab di telinga masyarakat. Namun ada satu ganjalan yang membuat strategi kampanye mereka berdua kurang etis, yaitu menjadikan rakyat miskin sebagai komoditas yang dieksploitasi demi kepentingan pencitraan mereka berdua.

Wiranto misalnya, tokoh yang diusung partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) sebagai capres 2009 ini dalam iklan politiknya menceritakan bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang hidupnya masih bergelut dengan penderitaan, hingga demi mencukupi kebutuhan hidupnya mereka harus makan nasi aking (nasi sisa yang dijemur) demi makan sehari-hari.

Jika yang melihat iklan tersebut adalah masyarakat tingkat bawah dengan pendidikan rendah, pasti mereka akan terkagum-kagum dengan bentuk penyampaian iklan tersebut. Karena mereka berdua (Wiranto dan Prabowo Subianto) seolah datang sebagai juru selamat yang akan merubah nasib penduduk miskin. Tetapi bagi warga perkotaan yang berpendidikan tinggi dan cenderung memakai logika dalam kesehariannya, pasti iklan tersebut dianggap sebagai bentuk pencitraan diri belaka.

Saya sendiri beranggapan bahwa iklan itu hanya sebuah bentuk kebohongan belaka dan sangat tidak mendidik masyarakat, karena terkesan membodohi rakyat miskin. Karena ujung-ujungnya dalam iklan tersebut digambarkan jika kondisi itu akan mengalami perubahan apabila Wiranto maupun Prabowo Subianto dipercaya untuk memimpin negeri ini.

Boleh-boleh saja menggunakan beragam cara maupun strategi untuk mengenalkan diri kepada rakyat karena hal itu sebagai media kampanye yang legal, tetapi janganlah menggunakan cara-cara yang tidak mendidik. Menjadikan rakyat miskin sebagai pihak yang dieksploitasi demi kepentingan pribadi maupun partai adalah bentuk pendidikan politik yang tidak mencerdaskan.

Golongan bawah tersebut yang selama ini hidupnya sudah sangat menderita dan perlu pertolongan secara nyata harusnya ditanggapi dengan tindakan nyata bukan malah dijadikan isu kampanye demi meningkatkan citra diri. Sehingga pas jika saya katakan bahwa iklan tersebut sebagai sebuah sampah yang isinya tidak lebih sebagai bentuk pembodohan terselubung kepada rakyat.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: