Tidak Siap Kalah

Senin, 17 November 2008 (Jurnal Nasional)

Ada sebuah hikmah pembelajaran yang bisa kita petik menyikapi kasus pemilihan kepala daerah (pilkada) Provinsi Jawa Timur (Jatim) yang baru selesai dilakukan beberapa waktu lalu. Setelah hasil penghitungan resmi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jatim menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullan Yusuf (Karsa) sebagai pemenang Pilgub Jatim putaran dua (11/11), ternyata pasangan Kofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji) sebagai rivalnya tidak menerima hasil pengumuman KPUD Jatim.

Menyikapi kondisi itu, sebagai masyarakat Jatim, saya tentu patut mempertanyakan sikap pasangan Kaji yang kalah dalam petarungan Pemilihan gubernur (Pilgub) yang dilangsungkan secara demokratis tersebut. Pasalnya, sebagai pihak yang kalah dalam kompetisi pilkada, sudah seharusnya pihak Kaji legowo dalam menyikapi kekalahannya. Dan tidak perlu sampai membawa kasus kisruh pilkada hingga ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Sebagaimana kita tahu, pasangan Karsa yang diusung Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN), dan lainnya berhasil memenangkan Pilgub Jatim dengan mengalahkan pasangan Kaji yang didukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan partai kecil lainnya.

Sesuai pengumuman KPUD Jatim, pasangan Karsa unggul tipis dengan selisih 0,39 persen atau 60.223 suara dari total 15.399.665 pemilih. Pasalnya, berdasarkan aturan berlaku, maka hasil yang dikeluarkan KPUD yang dijadikan patokan resmi siapa yang menjadi gubernur Jatim. Karena itu, sudah jelas jika pasangan Karsa adalah pemenangnya dan akan menjadi Gubernur Jatim periode 2008-2013.

Sayangnya, kemenangan resmi pasangan Karsa tersebut diakui pasangan Kaji. Karena Kaji beranggapan bahwa Pilkada Jatim penuh kecurangan dan menuding pihak Karsa telah melakukan berbagai kecurangan di lapangan, terutama di wilayah Madura, yaitu Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep.

Tak hanya itu, tim sukses Kaji yang dimotori Hasyim Muzadi juga menuding bahwa Presiden SBY melakukan intervensi menggunakan kekuatannya hingga membuat suara Karsa mengalami penggelembungan. Serta berpatokan juga dengan berbagai hasil quick count (penghitungan cepat) lembaga survei yang kebanyakan mengunggulkan Kaji, membuat tim sukses Kaji merasa pihaknya yang seharusnya memenangkan Pilgub Jatim. Sehingga dengan melihat berbagai kenyataan itu, tim sukses Kaji merasa kemenangannya dirampok, dan pihaknya didzolimi oleh penguasa negeri ini yang membuat pilkada kisruh, serta suasana Jatim menjadi panas.

Sudah jamak terjadi di Indonesia jika pasangan yang kalah dalam pilkada selalu tidak bisa berbesar hati menerima kekalahannya. Dan bahkan menuding balik pasangan calon telah melakukan berbagai tipu muslihat untuk merebut kemenangan yang seharusnya menjadi milik pasangan bersangkutan.

Karena itu, kita tunggu saja nanti keputusan MK soal tuntutan Kaji yang tidak terima dengan hasil Pilgub Jatim. Masyarakat Jatim sendiri jangan sampai ikut-ikutan memperkeruh suasana, dan tidak perlu turun ke jalan menyikapi ruwetnya hasil pilkada. Biarkan hal itu menjadi urusannya elite politik partai saja yang gontok-gontokan dengan lawannya. Namun, satu hal yang pasti dan dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua adalah belum dewasanya elite politik kita dalam menyikapi pilkada.

Semoga kasus Pilgub Jatim menjadi pelajaran bagi masyarakat Indonesia dalam menyongsong Pemilu dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009. Jangan sampai kasus tidak siap kalah terulang dalam pesta demokrasi 2009.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Gedung SC. Lt.1 Bestari UMM, Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: