Swasembada Beras dan Jagung

Rabu, 19 November 2008 (Jurnal Nasional)beras

Setelah berjalan empat tahun lebih, pemerintahan SBY-JK kembali mengukir prestasi menakjubkan. Pencapaian kali ini adalah tentang keberhasilan petani Indonesia yang sukses mengembangkan pertanian hingga membuat negara Indonesia berhasil mencapai swasembada jenis beras dan jagung.

Jika pada 2005, produksi padi (gabah kering giling) masih berkisar 51 juta ton, tahun ini produksi padi sudah mencapai 60 juta ton per tahunnya. Tentu segala pencapaian itu adalah sesuatu hal yang membanggakan. Karena sejarah mencatat bahwa data statistik itu merupakan kenaikan produksi tertinggi dalam 12 tahun terakhir. Sehingga dapat dikatakan di bawah pemerintahan SBY-JK, bangsa Indonesia bisa menikmati kembali kejayaan sektor pertanian yang sudah lama terpuruk.

Seperti yang diutarakan Presiden SBY beberapa waktu lalu ketika melakukan panen raya padi jenis hibrida bernas prima, di Kecamatan Lembur Situ, Sukabumi, dikatakannya bahwa pencapaian swasembada padi dan jagung harus dipertahankan.

Menurut orang nomor satu di negeri ini, untuk mempertahankan swasembada beras, maka perlu ketersediaan lahan persawahan yang mencukupi. Sehingga mutlak harus dibuka lahan pertanian baru sebagai syarat wajib untuk menjaga momentum pertumbuhan bidang pertanian.

Karena selama ini, banyak kepala daerah yang kurang memerhatikan bidang pertanian sebagai roda penggerak ekonomi rakyat di daerahnya. Pasalnya, kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah lebih banyak yang mengorbankan bidang pertanian. Kepala daerah sering mengeluarkan aturan pembangunan yang serba kontradiktif dengan mengobral izin pembangunan kawasan rumah toko (ruko) atau pusat perbelanjaan (mal) di atas lahan pertanian yang masih produktif.

Tentu hal itu jika dibiarkan terus bisa mengancam sektor pertanian yang semakin lama lahan pertanian semakin menyempit. Sehingga instruksi Presiden SBY yang meminta agar kepala daerah ketika mengeluarkan izin pembangunan jangan sampai mengancam lahan pertanian perlu didukung dan diterapkan oleh setiap daerah.

Di samping itu, inovasi dan pengembangan berbagai jenis varietas padi juga mesti dilakukan sebagai upaya peningkatan kualitas benih. Karena dengan terus melakukan riset penelitian, diharapkan ke depannya tercipta sebuah varietas unggul yang bisa meningkatkan nilai produksi padi yang ditanam petani.

Yang lebih menggembirakan lagi, di bawah pemerintahan SBY-JK, subsisi di bidang pertanian juga terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Jika tahun 2005 subsidinya hanya Rp9 triliun, maka tahun 2008, dianggarkan Rp29 triliun. Bahkan tahun 2009, pemerintah meningkatkan jumlah subisidi hingga mencapai Rp33 triliun. Sehingga jika melihat fakta tersebut, pemerintah dapat dikatakan sangat concern dalam menjadikan pertanian sebagai backbone pembangunan berjangka bangsa ini.

Karena itu, melihat berbagai langkah dan kebijakan yang ditempuh pemerintah, bisa jadi bangsa Indonesia bisa berjaya pada sektor pertanian, dan akan mampu mandiri dalam pemenuhan kebutuhan beras maupun jagung sebagai makanan pokok masyarakat. Sehingga, ke depannya sangat memungkinkan bagi Indonesia untuk menjadi negara produsen beras dan mengimpor kelebihan produksinya beras.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari UMM, Malang

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: