Wajah Bopeng Sepakbola Indonesia

Suara Konsumen, Rabu, 19 November 2008 (Surabaya Post)

Untuk memajukan dunia sepakbola Tanah Air, mulai tahun ini Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menyelenggarakan Indonesian Super League (ISL) sebagai ajang kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Tujuan diselenggarakan ISL adalah untuk meningkatkan kualitas sepakbola Indonesia dengan menggunakan format kompetisi penuh yang diikuti 18 klub.

Sebelum kompetisi dimulai, setiap klub peserta wajib memenuhi semua syarat yang ditentukan Badan Liga Indonesia (BLI) sebagai institusi yang dibentuk PSSI untuk menyelenggarakan kompetisi ISL, mulai dari infrastruktur, personil, administrasi, legalisasi, hingga finansial. Semua syarat itu harus dipenuhi setiap klub perserta jika berniat mengikuti sistem kompetisi penuh.

Seiring berjalannya waktu, roda kompetisi mengalami banyak masalah yang membuat pagelaran ISL menjadi tercoreng. Liga profesional yang digadang-gadang BLI mampu menghasilkan pertandingan bermutu itu kini tak ubahnya seperti pertandingan sepakbola antarkampung (tarkam), yang disebabkan munculnya berbagai kasus memalukan yang terjadi di tengah perjalanan kompetisi, baik di dalam maupun luar lapangan.

Kasus pemukulan wasit oleh pemain (asing maupun lokal) sering terjadi, adu jotos antarpemain berungkali terjadi, dan kerusuhan penonton hingga memakan korabn jiwa terus berlangsung, serta seringnya BLI mengubah jadwal bertanding klub seenaknya sendiri membuat perjalanan kompetisi profesional Tanah Air ini menjadi sangat semrawut.

Yang terakhir kasus manajer PSIS, Yoyok Sukawi, yang mengejar dan ingin memukul wasit karena merasa tidak puas dengan kepemimpinan dengan korps pengadil lapangan itu adalah salah satu simpul kecil ruwetnya perjalanan kompetisi ISL.

Belum lagi masalah peraturan manual yang menjadi dasar menyelenggarakan kompetisi yang dibuat ternyata di sisi lain direvisi sendiri oleh BLI semakin membuat perjalanan ISL menjadi kacau dan penuh anomali. Buktinya, sekarang banyak klub yang terancam berhenti mengikuti kompetisi karena dibelit krisis finansial. Pasalnya, klub tidak mempunyai pemasukan yang cukup sebagai modal membayar gaji pemain yang sangat tinggi.

Di sisi lain, dana hibah yang dianggarkan APBD tidak bisa dicairkan karena pemerintah daerah takut melanggar aturan yang berlaku. Sehingga banyak klub yang terancam bangkrut dan keluar dari kompetisi karena tidak sanggup menjalani kompetisi yang memakan biaya besar itu. Karena itu, gebyar kompetisi yang dicitrakan sukses dan semarak ketika pembukaan mulai terungkap bobroknya.

Hal itu terjadi karena BLI tidak melakukan verifikasi secara ketat terhadap setiap klub, sehingga klub yang tidak memiliki kemampuan finansial cukup bisa lolos mengikuti event ISL. Hasilnya bisa dilihat saat ini, di mana kualitas kompetisi ISL tidak ubahnya seperti pertandingan tingkat antarkampung (tarkam). Dan itu sangat jauh dari tujuan awal diselenggarakannya ISL, di mana diharapkan dapat melahirkan banyak bintang sepakbola dan kualitas sepakbola Indonesia secara keseluruhan bisa meningkat.

Konsep blue print ISL yang direncakan BLI sebenarnya layak diapresiasi. Sayangnya, sikap BLI yang lembek dalam menyikapi segala permasalahan yang muncul, yang berkaitan dengan perjalanan kompetisi ISL membuat kualitas kompetisi sangat buruk.

Harapan untuk memajukan sepakbola Indonesia sekarang hanya sebatas angan-angan jika melihat realita di lapangan. Sehingga penyelenggaraan kompetisi sepakbola oleh BLI terkesan jalan di tempat, yang dibarengi dengan kasus kerusuhan yang terus meningkat tanpa pernah menghasilkan prestasi membanggakan sedikit pun. Karena itu, kompetisi ISL hanya bagus di nama, sementara kualitas kompetisinya sendiri layak mendapatkan rapor merah.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: