Pesawat Khusus Kepresidenan

Sabtu, 22 November 2008 (Jurnal Nasional)

Sejarah berdirinya negara Indonesia mencatat bahwa negeri ini sudah berumur 63 tahun lebih sejak mengumandangkan kemerdekaan pada 1945. Namun, sejak saat itu pula hingga sekarang bangsa Indonesia masih belum memiliki pesawat khusus kepresidenan. Padahal, pengangkut udara itu adalah transportasi penting bagi sebuah pemimpin negara ketika harus melakukan perjalanan ke luar negeri.

Sayangnya, hingga detik ini bangsa Indonesia belum memiliki pesawat pengangkut kepresidenan sebagai sarana transportasi khusus orang nomor satu dan dua negeri ini. Kondisi itu tentu membuat kerja presiden dan wapres repot dan juga tidak efisien ketika harus melawat ke luar negeri.

Bukti terbaru munculnya hambatan bagi negeri ini yang tidak mempunyai pesawat khusus untuk mengangkut pemimpin negeri ini adalah ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkunjung ke luar negeri. Sebagaimana kita tahu, di samping menghadiri pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pemimpin Negara Group 20 (G-20), presiden juga mengunjungi beberapa negara Amerika Utara dan Latin, macam Meksiko, Brasil, dan Peru.

Bukan masalah kunjungannya SBY mampir ke banyak negara yang menjadi persoalan, melainkan perjalanan orang nomor satu di negeri ini selama perjalanan keliling dunia yang dirasa tidak efektif karena harus sering transit di setiap negara. Hal itu bukan terjadi kebetulan dan dijadwalkan protokoler negara, namun karena pesawat yang ditumpangi SBY dan rombongan bukanlah pesawat yang dirancang khusus untuk menempuh perjalanan jauh. Sehingga sang “burung besi” yang di dalamnya berisi orang-orang penting di negeri ini tidak bisa terbang bebas di angkasa.

Bayangkan, setelah selesai melakukan pertemuan KTT G-20 di Washington DC, Presiden SBY masih harus melakukan pertemuan puncak dengan seluruh pemimpin negara anggota APEC di Peru. Tetapi, untuk menuju ke Lima, tempat diselenggarakannya pertemuan itu, pemimpin negeri ini tidak bisa langsung menuju ke ibu kota negara Peru tersebut.

Pasalnya, pesawat yang ditumpangi rombongan Presiden SBY, bukanlah pesawat yang dirancang sanggup mengudara lama membelah awan. Sehingga, mau tidak mau rombongan yang ada dalam pesawat harus rela mampir ke Meksiko terlebih dahulu, yang dilanjutkan transit di Brasil, sebelum sampai di Peru.

Kita tentu patut menyayangkan jika hingga saat ini Presiden Republik Indonesia (RI) harus menyewa pesawat setiap akan melakukan kunjungan ke luar negeri. Sudah saatnya pemerintah menganggarkan dana untuk membeli pesawat khusus kepresidenan sebagai upaya meningkatkan martabat bangsa. Sehingga citra Indonesia tidak dipandang remeh bangsa asing.

Sudah saatnya negara Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Bukan bermaksud untuk gagah-gagahan atau sekadar menyenangkan Presiden, namun hal itu adalah sebuah kebutuhan mendesak yang harus segera direalisasikan. Lagi, jika punya pesawat khusus sendiri juga bukan bisa dipakai presiden periode selanjutnya.

Karena itu, Indonesia harusnya mencontoh Amerika Serikat yang memiliki pesawat Air Force 1 yang didesain khusus sebagai pesawat yang ditumpangi presiden. Sehingga ketika harus berkunjung ke luar negeri, Presiden RI nantinya tidak perlu repot transit di berbagai negara.

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Kampus Bestari UMM, Gedung SC Lt.1 Bestari UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: