Tari Topeng Malangan, Nasibmu Kini

Citizen Journalism, Jumat, 21 November 2008 (Surabaya Post)tari-malangan1

Kota Malang menyimpan banyak kekayaan seni budaya. Salah satunya adalah tarian yang lebih dikenal dengan nama Tari Topeng Malangan. Tari Topeng diperkirakan muncul pada awal abad 20, dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan.

Tari Malangan ini sangat khas karena disebut merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan, Kulonan dan Timuran (Blambangan dan Osing). Keunikan jenis tarian ini adalah gerakan yang dilakukan penari harus mengikuti irama musik jenis karawitan. Setiap gerakan tangan dan tubuh tidak dilakukan sembarangan, melainkan mengikuti irama musik yang diperdendangkan, dan penarinya mempertunjukkan berbagai gerakan teratur yang dinamis, sehingga membentuk sebuah gerakan rancak yang enak dinikmati.

Tari Topeng Malangan sendiri adalah perlambang sifat manusia, karena penari juga memakai model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda, misalnya gembira, menangis, tertawa, sedih, dan malu.

Meskipun sampai sekarang tarian Malangan masih bertahan dan memiliki padepokan di daerah Pakisaji, kabupaten Malang, namun perkembangan budaya modern telah mampu membuat masyarakat kota Malang menjadi ‘amnesia’ dengan tari tradisional khas Malang ini. Sehingga banyak sekali model tarian Malangan yang sudah dilewatkan begitu saja dan tidak banyak masyarakat yang tahu keberadaannya.

Padahal, seni tarian khas Malang adalah warisan leluhur yang memiliki nilai budaya tidak ternilai, dan tentu sudah selayaknya dilestarikan masyarakat. Sayangnya, jangankan masyarakat umum, pemerintah daerah (pemda) pun terkesan tidak ikut peduli akan nasib seni tari tradisional yang semakin hari tidak populer lagi di mata masyarakat.

Anehnya, banyak warga asing, terutama turis mancanegara malah lebih tertarik dan merasa senang dengan tarian tradisional yang lahir dan berkembang di wilayah Malang Raya tersebut. Buktinya, kadang para bule harus menyewa penari khusus untuk menampilkan pada panggung pertunjukkan sendiri disebuah gedung khusus yang disewa sendiri. Sehingga dapat disebut jika orang asing lebih peduli akan nasib Tari Topeng Malangan.

Di sinilah kontradiksi tercipta. Masyarakat Malang yang memiliki kebudayaan sendiri malah terlihat kurang peduli dengan kekayaan seni, sementara orang asing lebih apresiatif dengan kekayaan budaya masyarakat Indonesia. Karena itu, jangan salahkan jika suatu saat Tarian Topeng Malangan itu bisa lenyap karena masyarakat lokal tidak lagi peduli akan keberadaannya.

Sebagai generasi penerus bangsa, kita perlu turut proaktif ikut menjaga tarian khas Malang itu supaya tidak punah. Kita tidak perlu merasa malu disebut sebagai orang kuno dan ketinggalan zaman jika senang dan peduli ikut melestarikan Tari Topeng Malangan agar tidak punah. Meskipun tidak harus menjadi penarinya langsung, setidaknya kita dapat berbuat ikut mempromosikan rasa kebanggaan bahwa kota Malang memiliki tarian khas sendiri yang harus dijaga keberadaannya.

Karena hal itu adalah tugas mulia dan tidak sembarang orang mau melakukannya. Sehingga dengan menjaga warisan budaya leluhur, kita sama saja menjaga harta tidak ternilai harganya, dan mewariskan budaya agung kepada anak cucu kita. Dengan harapan Tari Topeng Malangan bisa terus eksis dan berhasil bertahan menjadi ikon wilayah Malang Raya.

Erik Purnama Putra

Akademikus UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: