Perhatikan Nasib Petani

Forum Pembaca, Selasa, 25 November 2008  (Duta Masyarakat)petani-protes

Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah musim penghujan. Bagi petani, yang kebanyakan menanam padi, kondisi itu dijadikan tanda bahwa masa tanam telah tiba. Sehingga mereka harus segera ke sawah untuk mulai menanam bibit.

Sayangnya, seperti tahun sebelumnya, petani selalu mengalami masalah terkait datangnya musim tanam itu. Yaitu, kendala sulitnya mendapatkan pupuk sebagai syarat menanam bibit. Karena tanpa pupuk mustahil bagi petani untuk bisa mengharapkan bibit tanamannya dapat tumbuh maksimal untuk mendapatkan hasil bagus ketika panen.

Masalah kelangkaan pupuk di setiap masa tanam sebenarnya persoalan klise yang terus berulang setiap tahunnya. Banyak faktor yang membuat pupuk sulit ditemukan di pasaran. Di samping alur distribusi yang kurang lancar dan tidak adanya pengawasan ketat dari piha berwenang, juga banyak distributor yang sengaja menimbun pupuk demi mencari keuntungan semata.

Karena itu, ketika musim tanam tiba, pupuk sulit ditemukan di pasaran. Namun, jika kondisinya sudah seperti itu, para spekulan pupuk akan melemparkan stok pupuk yang sudah ditimbunnya itu untuk dijual ke petani dengan harga lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) ketika petani sudah terdesak untuk segera memberikan pupuk kepada tanaman bibitnya.

Karena tidak ingin terjadi puso (gagal panen), petani mau tidak mau harus membeli pupuk di atas HET sesuai harga yang ditetapkan pemerintah. Hal itu jelas merugikan petani yang selalu menjadi korban permainan makelar penyalur pupuk. Pasalnya, petani tidak bisa berbuat apa pun, sementara pemerintah daerah (pemda) sendiri terkesan kurang tanggap dengan permasalahan di lapangan. Sehingga baru memasuki musim panen saja petani sudah harus keluar ongkos banyak demi menjalankan pekerjaan mulianya. Yaitu, menanam bibit di sawah.

Seperti yang terjadi di Malang dan Madiun. Banyak petani yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. Jika pun ada, harganya di tingkat kios sudah tidak terjangkau kocek petani. Hal itu menyebabkan petani harus menanggung beban berat, karena belum-belum sudah terkendala melangitnya harga pupuk. Tetapi, dengan terpaksa petani tetap harus membeli pupuk mahal tersebut demi menghindari resiko kerugian lebih besar.

Kondisi itu jelas merupakan beban berat bagi banyak petani di Tanah Air. Di samping biaya produksi bakal meningkat, sulitnya petani mendapatkan pupuk di setiap musim tanam membuat mereka harus pontang-panting mendapatkan gizi tanaman tersebut.

Padahal, Indonesia adalah negeri agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Namun, kebijakan pemerintah yang masih belum berpihak pada petani membuat mereka harus senantiasa tabah menghadapi cobaan hidup.

Meskipun pemerintah berkuasa saat ini sudah mengeluarkan aturan yang pro petani, namun dalam implementasinya kadang banyak menemui jalan terjal. Sehingga kebijakan itu ketika sampai di tataran petani tingkat bawah banyak yang tidak mendapatkan manfaat positif kebijakan itu sama sekali.

Tengok saja masalah langkanya pupuk di pasaran saat musim tanam tiba. Hal itu jelas merupakan preseden buruk bagi petani yang sudah menanam bibit. Sehingga meskipun pemerintah sudah berupaya membuat daftar HET jenis pupuk, namun petani tetap tidak merasakan manfaatnya karena faktanya harga pupuk jauh melambung tinggi.

Meskipun begitu, banyak petani yang tetap gigih menggeluti pekerjaannya dan tidak menyerah dengan keadaan yang sering tidak berpihak padanya. Karena itu, perjuangan petani yang terus konsisten dalam melawan segala hambatan pada musim tanam tersebut patut diapresiasi.

Petani adalah profesi mulia yang selama ini kurang dilirik pemerintah, karena lebih mengistimewakan sektor industri. Sudah saatnya pemerintah mendengar keluh kesah petani dan jangan sekali pun mengabaikan tuntutan mereka. Karena petani merupakan produsen dan penyuplai makanan bagi seluruh penduduk Indonesia.

Erik Purnama Putra

Anggota Forum Diskusi Ilimiah UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari UMM, Malang

e-Mail: erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: