Jakarta, Ibu Kota yang Ringkih

Jumat, 28 November 2008 (Jurnal Nasional)
Melihat kondisi Jakarta sekarang, sungguh mengerikan sekali. Apalagi saat ini sudah memasuki musim penghujan yang membuat banyak wilayah Jakarta berpotensi terendam air. Walaupun hujan cuma turun sebentar, kondisi itu sudah cukup membuat Ibu Kota itu menjadi daerah kubangan air.
Wilayah geografis Jakarta yang sudah sangat padat penduduk dan semakin menyempitnya luas daerah hijau membuat Jakarta tidak bisa melepaskan diri dari ancaman banjir. Apalagi daerah Jakarta terletak di dataran rendah yang posisinya sama dengan air laut. Sehingga potensi terjadinya banjir saat hujan tiba semakin besar. Dan itu menyebabkan Jakarta menjadi kota yang rapuh dalam menghadapi gejolak alam.
Berkaca dari pengalaman musim lalu, di mana terjadi banjir besar dan banyak daerah yang biasanya tidak masuk kawasan rawan banjir, ternyata juga tidak bisa melepaskan diri dari genangan air. Sehingga perlu dilakukan uji langkah pencegahan dan secara serius dan komprehensif agar ancaman banjir tidak semakin besar dan menjadi momok bagi warga Ibu Kota.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana kesiapan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mencegah banjir agar tidak semakin parah bisa diupayakan. Pasalnya, janji Pemrov untuk membebaskan Jakarta dari banjir hingga kini masih isapan jempol belaka dan tak bisa dibuktikan. Rencana pembenahan saluran air yang menjadi agenda kerja yang paling mendesak tidak juga kunjung direalisasikan dengan baik.
Penyelesaian pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) yang sempat macet juga belum jelas kapan bisa diselesaikan. Memang pembangunan BKT bukan jaminan bahwa Jakarta bisa bebas banjir. Namun setidaknya langkah itu bisa mengurangi dampak buruk yang lebih besar akibat banjir.
Juga masih ada program pembangunan lain, yaitu pengoptimalan saluran Banjir Kanal Barat (BKB) yang tak boleh dilupakan Pemprov. Karena selama ini, akibat kurangnya prioritas pembangunan saluran khusus banjir itu membuat banjir menjadi musibah yang terlalu sering melanda Jakarta.
Di samping program pencegahan banjir, pembangunan yang semrawut dan tak terkendali yang membuat keseimbangan alam menjadi terganggu juga perlu dicarikan jalan keluar oleh pemprov. Karena semakin menyempitnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan beralih fungsi menjadi daerah industri dan pemukiman membuat lingkungan menjadi rusak. ah banyak yang tertutup beton.
Sudah saatnya bagi Pemprov Jakarta untuk menepati janjinya, yaitu membebaskan kawasan Jakarta dari banjir. Penambahan RTH mutlak dilakukan. Disamping itu, juga perlu diadakan pembenahan manajemen saluran tata air. Karena diyakini banyak kalangan bahwa permasalahan banjir disebabkan karena dua faktor tersebut. Yaitu, menyempitnya RTH dan banyaknya pengalihfungsian lahan resapan air menjadi pemukiman maupun maupun perkantoran.
Karena itu, pemprov DKI Jakarta harus menegakan aturan tentang pendirian bangunan (gedung), serta jangan mengobral izin pendirian bangunan di atas lahan RTH. Karena jika hal itu terus terjadi dikhawatirkan akan semakin mengancam lingkungan dan penduduk Jakarta. Sehingga, dampaknya Jakarta akan semakin terancam akan kehadiran banjir yang sewaktu-waktu dapat menenggelamkan seluruh wilayah Ibu Kota.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Psikologi UMM
Gedung SC Lt. 1 Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: