Gerakkan Sektor Riil

Selasa, 2 Desember 2008 (Jurnal Nasional)

Krisis ekonomi dunia telah membawa dampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Setelah sektor finansial (pasar uang, utang dan modal) remuk redam dihantam badai krisis global. Kali ini, sektor rill yang menjadi tulang punggung perekonomian negara ikut tertekan dan mengalami gejala penurunan serius. Bahkan banyak kalangan berpendapat jika tahun 2009 adalah masa suram bagi perkembangan sektor rill karena tertekan akibat badai krisis global.

Bidang yang cukup mengalami masalah serius dalam sektor riil adalah anjloknya harga komoditas ekspor di pasar internasional. Harga pangan dan pertambangan yang diekspor ke luar negeri cukup menyedihkan. Harga komoditas unggulan Crude Palm Oil (CPO) yang sebelumnya mencapai 1.800 dolar AS per ton, sekarang merosot menjadi 300 dolar per ton.

Kondisi itu berdampak pada neraca keungan perusahaan yang mengalami defisit tinggi karena tidak bisa lagi menggaji seluruh karyawannya. Sehingga banyak perusahaan pertambangan dan berbasis pangan ekspor akhirnya harus mengeluarkan kebijakan rasionalisasi pegawai demi menjaga kelangsungan hidup perusahaan.

Padahal, kedua perusahaan tersebut cenderung mempekerjakan pegawai dalam jumlah banyak. Artinya, jika pihak perusahaan mengalami goncangan dan tidak bisa menjual hasil produk dan jasanya ke negara yang ditujua, maka satu-satunya jalan yang pasti terjadi adalah keluarnya surat keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Jika sudah seperti itu, pegawai maupun buruh selalu menjadi korban. Karena buruh tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan. Sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa, selain hanya pasrah menerima nasib dan berharap perusahaan berbaik hati meninjau ulang keputusannya melakukan PHK.

Belum lagi di sektor tekstil, di mana menurut Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Daerah Jawa Barat Ade Sudrajat, diperkirakan pada awal 2009 sekitar 70.000 tenaga kerja akan di PHK 70 ribu. Sebagai industri padat karya yang membutuhkan banyak tenaga kerja, industri tekstil tentu akan limbung jika hasil produknya tidak terserap. Sehingga banyak pabrik tekstil akhirnya ambruk akibat lesunya pasar ekspor di Amerika Serikat (AS) maupun Uni Eropa yang menjadi pasar tradisional ekspor Indonesia.

Menyikapi kondisi itu, pemerintah harus berupaya sekuat tenaga untuk menyelamatkan sektor riil agar bisa terus bergerak supaya sektor rill bisa terus berkembang. Di samping itu, tindakan itu juga berarti mencegah terjadinya PHK besar-besaran terhadap buruh.

Kita harapkan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah bisa menjadi stimulus untuk menggerakkan sektor rill yang menjadi tumpuan banyak orang supaya ancama PHK masal tidak sampai terjadi.

Erik Purnama Putra

Anggota FDI dan Aktivis Pers Kampus Bestari Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: