Susahnya Menjadi Petani

Suara Konsumen, Kamis, 3 Desember 2008 (Suara Konsumen)

BANYAK kalangan menilai nasib petani selalu kurang beruntung dan terpinggirkan. Hal itu terjadi karena dari dulu hingga sekarang, petani selalu termarjinalkan dan kurang mendapatkan perhatian pemerintah.

Baru-baru ini, peristiwa kelangkaan pupuk bersubsidi pada musim tanam membuat petani kelabakan. Langkanya pupuk di pasaran membuat petani tidak bisa menanam bibit. Kepanikan melanda berbagai daerah

Jika pun pupuk didapatkan harganya sudah melambung tinggi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 60.000 per sak (50 kg) yang ditetapkan pemerintah. Menyikapi kondisi itu, pemerintah harus turun tangan dengan membuat kebijakan yang sekiranya dapat menolong petani. Pemerintah harus menggelontor pupuk supaya petani tidak terhambat dalam menghadapi musim tanam.

Di samping itu, pemerintah juga harus pro aktif menelusuri langkanya pupuk di pasaran. Karena ditengarai ada beberapa oknum yang terlibat penimbunan pupuk. Sehingga petani kesulitan mendapatkan pupuk di pasaran. Distributor nakal yang ketahuan menimbun juga perlu diberi pelajaran dengan dihadapkan pada hukum berlaku.

Presiden SBY mengajak semua pihak bekerjasama mengawasi jalur distribusi pupuk bersubsidi supaya dinikmati yang benar-benar punya hak. Masyarakat juga diajak untuk ikut mengawasi penyaluran pupuk supaya tidak terjadi penyimpangan, mulai dari pabrik hingga sampai ke tangann petani.

Pemerintah daerah (pemda) harus turun tangan menata jalur distribusi pupuk supaya alurnya jelas dan dapat sampai ke petani tanpa hambatan. Komitmen pemerintah yang ingin membantu kesulitan petani harus dibuktikan.

Boleh saja Departemen Pertanian (Deptan) beralibi bahwa ketersediaan pupuk nasional jumlahnya masih mencukupi kebutuhan petani. Tetapi, keadaan di lapangan menunjukkan petani kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Tindakan pemerintah yang menggelontor 300 ribu ton pupuk bersubsidi akan tidak banyak membantu penderitaan petani jika alur distribusi tidak ditata dengan baik dan masih banyak pihak yang bermain dengan pupuk.

Jika ada yang sampai tertangkap menimbun pupuk, pelaku harus dihukum berat. Karena sudah membuat harga pupuk melambung tinggi dan menyusahkan petani. Sehingga banyak petani di berbagai daerah marah karena sulit mendapatkan pupuk bersubsidi. Bahkan, di Bojonegoro, petani menyandera dua truk pengangkut pupuk bersubsidi karena mereka jengkel banyak truk bermuatan pupuk yang melewati daerahnya, namun di lapangan pupuk tetap sulit didapatkan.

Petani adalah profesi paling banyak ditekuni masyarakat Indonesia. Meskipun kebijakan pemerintah kadang kurang berpihak kepada petani, namun selama ini petani tetap saja turun ke sawah untuk menanam padi. Apalagi demografi petani di Indonesia sebagian besar hanya menjadi buruh dan tidak memiliki lahan garap sendiri. Sehingga ketika harga jual komoditas tanamnya jatuh mereka hanya bisa meratapi nasibnya dan berharap kerugian yang disandangnya tidak terlalu besar.

Tengok saja kesejahteraan petani yang sebagian besar kesejahteraannya masih di bawah standart. Walaupun begitu, mereka tetap saja menggeluti profesi itu tanpa pernah mengeluh. Petani hanya berharap kebijakan yang dikeluarkan bisa membuat petani bahagia dan melanjutkan aktivitasnya pada musim tanam berikutnya.

 

Erik Purnama Putra

Anggota Forum Diskusi Ilmiah UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari UMM, Malang

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: