Pembalakan Liar dan Upaya Melestarikan Hutan

Sabtu, 27 Desember 2008 (Jurnal Nasional)

Ada kabar baik yang baru-baru ini dilansir Departemen Kehutanan (Dephut) berkaitan dengan praktik penebangan liar di hutan. Menurut Menteri Kehutanan, Malam Sambat Kaban, sepanjang tahun 2008, terjadi penurunan lebih 60 persen kasus illegal logging yang tercatat resmi di daftar Dephut. Jika tahun 2007, terdapat kasus 960 pembalakan liar. Sedangkan pada tahun ini jumlahnya turun drastis tinggal 300 kasus.

Menurunnya jumlah praktik pembalakan hutan di Indonesia itu merupakan babak baru bagi terwujudnya kelestarian hutan. Tidak hanya kabar baik bagi pemerintahan. Kondisi itu juga menguntungkan masyarakat. Pasalnya, semakin menurunnya jumlah laporan tindakan pembalakan liar merupakan cerminan bahwa kebijakan pemerintah yang menyerukan perang terhadap pelaku illegal logging direspon positif pihak aparat berwenang.

Buktinya, sepanjang 2008, instansi Dephut dibantu aparat Polisi Republik Indonesia (Polri) sering turun lapangan dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak). Yang dilanjutkan kegiatan operasi bersama melaksanakan tindakan pemberantasan pembalakan liar di berbagai provinsi penyumbang laju kerusakan hutan terbesar, semisal, Kalimantan Tengah dan Timur, Banten, Riau, dan Papua.

Meskipun kasus illegal logging, seperti dikatakan MS Kaban, masih sering terjadi di beberapa wilayah, tapi jumlahnya terus menunjukkan progress menggembirakan. Dan tingkat kerusakan hutan tidak separah tahun sebelumnya. Hal itu jelas menjadi catatan prestasi tersendiri bagi kebijakan pemerintah (Dephut) dalam upayanya menjaga kelestarian hutan.

Harusnya, pelaku illegal logging mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Jika perlu dihukum potong tangan sebagai konsekuensi tindakannya menggunduli hutan. Dan itu sangat adil jika melihat dampak buruk akibat keadaan yang ditimbulkan pelaku.

Hebatnya, kebijakan pemerintah tidak berhenti pada tataran kuratif. Rencana pemerintah yang menggalakkan penenaman kembali melalui program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) dan Program Kecil Menanam Besar Memanen di seluruh provinsi perlu didukung sebagai upaya menyelamatkan hutan.

Karena seperti diketahui bersama, kerusakan hutan di Indonesia selama ini telah berlangsung lama tanpa ada tindakan nyata untuk mencegahnya. Padahal kondisi itu telah membawa dampak negatif bagi Bangsa Indonesia, khususnya masyarakat sekitar hutan. Di samping munculnya berbagai musibah alam, seperti longsor akibat hutan gundul. Rusaknya hutan juga menyebabkan tanah menjadi tandus sehingga banyak kawasan yang dulunya dikenal sebagai sumber mata air, sekarang malah gersang.

Untuk mencegah itu tidak terulang di kemudian hari, sudah saatnya aparat berwenang menggandeng masyarakat yang hidup di sekitar hutan untuk diajak kerjasama mengawasi keadaan hutan. Tujuannya supaya proses pelestarian hutan dapat efektif dan maksimal. Sehingga dengan dukungan masyarakat yang bersikap proaktif, diharapkan hal itu bisa menjadi sarana untuk mempersempit ruang gerak pelaku perambah hutan dan menjaga kondisi hutan tetap baik..

Erik Purnama Putra

Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: