Dampak Penurunan BBM Kurang Signifikan

Forum Pembaca, Jumat, 26 Desember 2008 (Duta Masyarakat)

Sudah dua kali pemerintah mengeluarkan kebijakan penurunan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Jika harga jenis premium yang sebelumnya dari Rp 6.000, setelah diturunkan dua tahap sekarang harganya tinggal Rp 5.000. Sementara jenis solar dari semula Rp 5.500, setelah diturunkan menjadi Rp 4.800. Dan harga itu berlaku sejak 15 Desember 2008.

Sayangnya, harga penurunan BBM bersubsidi itu ternyata tidak disambut gembira semua kalangan. Bahkan direspon dingin berbagai sopir angkutan umum. Banyaknya masyarakat bawah yang sekeptis dengan kebijakan pemerintah itu karena menurut mereka pemerintah dinilai kurang serius dan tanggap dengan kondisi yang dirasakan rakyat miskin.

Ketika saya baru-baru ini melakukan survei kecil-kecil berkaitan dampak penurunan harga BBM, kalangan sopir angkutan kota (angkota) dan bus di salah satu terminal kota Malang, mereka merasa bahwa penurunan harga BBM tidak membawa kebaikan bagi kalangan sopir.

Seperti yang diutarakan sopir angkota, bernama panggilan Pak Sulis. Menurutnya, penurunan harga BBM tidak ada pengaruhnya sekali bagi dirinya. Bahkan, dia memandang kebijakan pemerintah itu tidak berpihak kepada para sopir. Karena menurutnya faktor utama yang dikeluhkan sopir itu bukan harga bensin (premium), melainkan biaya harga beli spare part kendaraan yang sudah tidak terjangkau karena sangat mahal.

Tak hanya kalangan sopir, mahasiswa yang setiap hari menggunakan jasa angkota juga tidak mendapatkan efek positif kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM. Karena penumpang angkota merasa bahwa tarif angkutan umum masih tetap dan sopir tidak mau menurunkan.

Bagi warga masyarakat, hal itu jelas sangat aneh. Namun, saya sebagai orang yang pernah berdiskusi langsung dengan kalangan sopir mencoba bersikap paham dengan keadaan sopir yang tidak mau menurunkan tarif. Karena biaya pengeluaran sopir sangat besar dan efek penurunan harga BBM tidak sebanding dengan pengeluaran biaya operasional sopir. Karena itu, saya simpulkan dampak penurunan BBM bersubsidi kurang bisa dirasakan rakyat kecil

Jika memang pemerintah serius ingin membantu kehidupan rakyat kecil, sudah saatnya harga BBM diturunkan lagi. Mengingat harga minyak dunia sedang berada pada level US $ 40-an per barel. Sehingga dengan berpatokan itu, harga BBM dalam negeri bisa di kisaran di bawah Rp 4.000 per liter.

Pemerintah harusnya malu jika sampai rakyat yang menyubsidi pemerintah. Karena kondisi rakyat Indonesia sekarang masih belum benar pulih akibat hantaman krisis. Daya beli masyarakat pun masih belum kuat, sehingga sangat kontradiksi jika pemerintah tidak mau menurunkan lagi harga BBM bersubsidi.

Saran saya, pemerintah jangan menunda menurunkan harga premium dan solar. Karena bisa menggerakkan sektor riil dan membantu masyarakat supaya beban hidupnya bisa sedikit berkurang.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM dan Anggota UKM FDI

Gedung SC Lt.1 Bestari UMM, Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: