Menggugat Capres Alternatif

Suara Konsumen, Senin, 22 Desember 2008 (Surabaya Post)

Wacana munculnya calon presiden (capres) alternatif terus menggelinding. Yang terbaru, enam tokoh nasional di bawah wadah Dewan Integritas Bangsa (DIB) menyatakan diri bahwa bersedia mengikuti konvensi sebagai syarat maju menjadi capres alternatif. Ke enam tokoh tersebut adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X, Rizal Ramli, Yuddi Chrisnandi, Marwah Daud Ibrahim, Bambang Sulistomo, dan Fadel Muhammad. DIB sendiri diketuai Solahuddin Wahid (Gus Solah).

Yang menjadi pertanyaan, benarkah calon yang diusung DIB tersebut benar-benar merupakan representasi masyarakat dalam menilai sosok capres alternatif. Pasalnya, dari berbagai nama yang diusung DIB, semuanya adalah wajah dan stok lama. Bahkan, banyak di antaranya yang sekarang masih duduk di pemerintahan. Karena itu, pantaskah jika mereka disebut sebagai capres alternatif? Jawabannya jelas. Tidak.

Masyarakat pasti sudah familiar dengan berbagai nama capres alternatif yang diusung DIB. Contohnya, jika menyebut nama Sri Sultan Hamengkubuwono X, Yuddi Chrisnandi, dan Fadel Muhammad, mereka adalah fungsionaris partai berlambang Beringin, yang ikut serta menjadi bagian pemerintahan SBY-JK. Karena itu, kita patut mempertanyakan definisi capres alterntif jika ternyata semua calon yang diusung DIB sebenarnya adalah bagian atau setidaknya pernah berada pada lingkaran pemerintahan.

Saya lebih setuju jika memang DIB ingin memunculkan capres alternstif mending mencari sosok muda yang berintegritas tinggi. Pasalnya, jika capres alternatif adalah orang lama dengan kemasan baru, hal itu sama saja dengan pembodohan masyarakat dan merupakan bentuk penyesatan publik. Karena jika konndisinya seperti itu, DIB tidak ubahnya hanya dijadikan lokomotif penggerak untuk digunakan sebagai kendaraan capres yang akan ikut konvensi DIB.

Padahal, yang dimaksud capres alternatif adalah pemimpin baru yang bukan bagian dari status quo. Capres tersebut juga masih muda dan memiliki track record mumpuni di dunia perpolitikan. Bukannya ikut konvensi capres alternatif yang diadakan DIB karena tidak mendapatkan kesempatan maju melalui partai politik (parpol) yang menaunginya.

Karena jika kondisinya seperti itu, maka orang yang ingin ikut jadi capres melalui DIB hanya menjadikan konvensi sebagai ajang pelarian karena di partainya sudah tertutup peluangnya. Sehingga, pantas disebutkan jika capres yang diusung DIB bukanlah capres alternatif, melainkan capres buangan yang terpinggirkan.

Sebagai masyarakat, kita perlu mempertanyakan ulang motivasi berbagai parpol kecil dan ormas pemuda yang mengusung capres alternatif melalui DIB. Pasalnya, faktanya jika benar-benar ingin mengusung calon pemimpin alternatif, tentu mereka hanya buang-buang waktu dan cuma mengejar sesuatu hal yang tidak logis. Karena jika ingin mengusung capres alterntif, tentu yang diusung harus nama dan orang baru, bukannya wajah lama, namun dikemas dalam format ulang.

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Kampus Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: